Unfinished Biography: Tentang Nyi Miriam, Sekilasnya Saja

NYI MIRIAM telah tua. Sudah nenek-nenek. Umurnya tak tercatat dalam dokumen apa pun. Posturnya tinggi. Apa yang sangat mungkin telah membengkokkan tulang punggungnya adalah jumlah usianya. Ketika berdiri ia hampir menyerupai seorang muallaf yang sedang belajar ruku’ pada kali pertama. Matanya awan mendung. Tapi sorotnya masih setajam matahari pagi pada bulan Maret yang kering. Begitu pun dengan rambutnya. Sanggulannya dibelit pada sebatang tusuk konde dari cangkang kura-kura, adalah jenis rambut yang dipunyai kebanyakan orang-orang yang kelebihan umur.

Kulitnya sewarna duku. Pada hari ketika aku datang menemuinya, kulit duku yang membalut tubuhnya telah berkeriput, tipis, dengan bintil-bintil coklat berserakan di lengannya, pipinya, juga di betisnya. Karena tak mungkin aku meminta seorang nenek tua seperti Nyi Miriam untuk telanjang, maka tak bisa kupastikan apakah bintil-bintil itu juga ada di sekujur anggota tubuhnya yang lain. Aku menemukan ia sedang duduk termangu di sebuah bale bambu di bawah rumah panggung. Rumahnya. Rumah panggung sederhana yang terletak tepat di ujung jalan kecil penuh kerikil yang aslinya hanyalah sepotong pematang.

Di sisi kiri-kanan jalan berkerikil itu sawah menghampar luas sejauh mata memandang. Di belakang rumahnya, sebatang pohon asam jawa tumbuh rindang. Beberapa dahan-dahan seukuran lengan menjulur ke bubungan rumah. Pohon asam jawa ini seperti jadi pembatas tanah rumah Nyi Miriam dengan hamparan sawah yang dibatasi sederet perbukitan nun di ujung sana. Sekira punya kamera terbang, dapat kupastikan lokasi rumah Nyi Miriam berada di sebuah pulau kecil di tengah hamparan sawah. Sekeliling pulau tumbuh pohon waru, pohon asam jawa, dan pohon angsana dengan daun-daun rimbun, yang membuat bubungan rumah panggung di tengah-tengahnya hanya tampak samar-samar.

Nyi Miriam tidak hidup seorang diri di pulau ini. Cucunya adalah belasan unggas yang ada di kandang belakang rumah. Ayam dan bebek unggas yang hidup di tanah. Sementara di udara, tepatnya di para-para bubungan rumah panggungnya, burung layang-layang membuat kandangnya sendiri dari tanah kering. Sepasang anjing yang menyalak riuh saat aku masuk ke halaman adalah punggawa yang menjaga keamanan rumahnya dan keseluruhan pulau kecil di tengah lautan sawah ini. Tepat disalakan pertama aku sempat bergidik. Tapi langsung mencoba menguasai diri dengan mengingat poin-poin besar yang ada dalam buku Tata Cara yang Baik dan Benar Memberi Tuba Anjing.

Matahari sore menyelinap dari balik dedaunan pepohonan di sekeliling rumah panggung Nyi Miriam. Ia menyambut kedatanganku dengan ramah, setelah menghalau salakan sepasang anjing penjaganya dengan kata-kata yang tidak sanggup kurekam memori alam bawah sadarku. Agak susah payah ia mencoba mencondongkan tubuhnya, berusaha berdiri tegak ketika kuperkenalkan diri sebagai orang kiriman Setnov. Matanya langsung berbinar ketika kusebut nama itu. Seperti seorang pengemis pura-pura pincang yang lekas menanggalkan kepura-puraannya ketika melihat kawanan Satpol PP datang. Nyi Miriam tampak muda kembali ketika nama Setnov kusebut-sebut.

Ia terkekeh-kekeh. Ia merentangkan dua lengannya, menghamburkan tubuh ringkihnya ke arahku, yang mau tak mau harus kusambut dengan rentangan lenganku pula. Nyi Miriam mendekapku barang setengah menit. Aku menikmatinya dengan perasaan perih; dosa apa yang kulakukan semalam hingga aku terkungkung begini lama dalam dekapan semenjijik ini? Tapi oleh sebab teringat pesan ayah ibu sewaktu bocah dulu, bahwa bersopan santun adalah satu yang membuatmu mudah rezeki. Maka berpura-pura sopanlah aku dalam dekapannya. Satu dekapan yang mungkin tak berkesudahan sekira tidak kutanya padanya, di mana letak kamar kecil?

Setelah dituntun agak ke belakang dari rumah panggungnya. Aku masuk dalam sebuah kamar persegi yang ke empat sisinya didindingi susunan tepas dari daun kelapa. Di tengah-tengahnya terdapat satu sumur, jernih betul airnya. Meski untuk menimbanya dibutuhkan satu katrol dengan tali empat atau lima meter panjangnya. Bangunan yang memagari sumur ini telah agak doyong oleh sebab beberapa tiangnya sudah lapuk di sana-sini, sementara atapnya adalah kombinasi langit dan dedaunan pohon angsana.

Ditunggui Nyi Miriam yang berdiri di luar kamar kecilnya ini, aku menghamburkan segala isi kantung kemih dengan begitu derasnya. Kantung kemih yang langsung penuh ketika kena dekap Nyi Miriam pada kali pertama, dan dalam kekhusyukan kencingku ini, aku mencoba mengingat-ingat kembali; kepentingan apakah aku menemui seorang nenek renta ini? Itu tak lain karena Nyi Miriam adalah satu narasumber yang bisa mengisahkan cerita hidup Setnov pada masa kanak-kanak. Orang yang membidani persalinan Nyinyir Yolanda, ketika ia melahirkan Setnov, dan kemudian oleh Offgoat van Dijk diangkat menjadi pengasuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *