Unfinished Biography: Di Bawah Kibaran Kain Sarung Nyi Miriam

SETELAH BERBASA-BASI perihal kedatanganku menemuinya langsung di tempat tinggalnya ini, Nyi Miriam menyilahkanku masuk ke rumahnya. Ajakan yang membawaku harus menaiki tujuh anak tangga. Ajakan yang membuatku terperanjat pucat pada anak tangga ketiga, ketika dengan tak sengaja aku mendongakkan kepala. Nyi Miriam, lazimnya tuan rumah, naik terlebih dahulu dan tepat ketika aku menengadah ia telah berada di anak tangga ke enam, saat yang sama ketika angin petang dari hamparan sawah mengibarkan kain sarungnya.

Itu kibaran hebat hingga menampakkan semesta isinya. Semesta isinya yang samar, remang-remang, tapi dengan serta merta membuatku kembali merasa mual untuk kedua kalinya sejak dekapan itu, oleh sebab: dalam dongakan kepala penuh ketidaksengajaan itu, aku menemukan pangkal paha nenek tua ini tidak terbungkus oleh apa pun jenis kain yang serupa dalaman. Apakah itu kancut, cawat, atau kantong air seni sekaligus tahi khusus jompo yang oleh orang-orang sekarang menyebutnya pampers.

Aku tidak bisa memastikan apakah mataku cukup berbinar menghadapi kenyataan seperti itu. Tapi satu hal yang pasti aku merasakan wajahku pucat, terkesiap. Dalam keterperanjatan yang kualami dengan sangat tiba-tiba begitu rupa, aku menggigil. Dan entah bagaimana dalam seper sekian detik kibaran sarung Nyi Miriam di dua anak tangga di atasku, semuanya jadi berlangsung pelan sebagaimana adegan-adegan slow motion di film Matrix. Maka dalam slow motion itulah kemudian segala yang samar di dongakan kepala pertama jadi lebih detil, dan ya, kulit keseluruhan dua paha Nyi Miriam sudah tak pantas lagi disebut penuh keriputan, tapi lebih tepatnya lelehan. Dan ya, di pertemuan pangkal paha itu, tempat paling samar di penglihatan pertama, terdapat kerimbunan penuh gelambir, yang kalau boleh jujur, sangat enggan untuk kuceritakan.

“Naiklah. Tak usah sungkan-sungkan,” kata Nyi Miriam tiba-tiba. Menghentikan adegan slow motion dalam kebekuanku di anak tangga ketiga. Aku bergegas naik. Perutku mual bukan main. Dan di anak tangga keempat, kelima, sampai tujuh sebelum berada di anjungan rumah panggung Nyi Miriam, benakku terus bertanya-tanya, dosa apa yang kulakukan semalam hingga aku harus tahu semesta isi kain sarung yang dipinggangi Nyi Miriam?

“Maaf sekali. Gubukku berantakan sekali. Bagaimana pun, aku yang sudah renta tetap mencintai kerapian, dan lihatlah, kerapian macam apakah yang sanggup ditunaikan seorang jompo seperti aku yang sudah bau tanah ini,” ujar Nyi Miriam lagi ketika aku sudah berada dalam rumah panggungnya.

Aku diajak duduk di selembar tikar plastik gulung bermotif kembang sepatu. Nyi Miriam memintaku menunggu sebentar, sementara ia beranjak ke belakang. “Aku siapkan kopi,” katanya ramah sembari meninggalkanku yang tengah bersila di atas kembang sepatu merah menyala. Untuk sesaat tak ada yang bisa kulakukan selain mengitari seisi rumah panggung Nyi Miriam sekelebatan mata belaka. Ada satu bufet berdiri dalam jarak tiga juluran tangan dari tempat dudukku sekarang. Boleh dikata itulah satu-satunya sekat yang memisahkan ruang depan dengan ruang belakang rumahnya.

Dari balik bufet terdengar suara denting gelas. Sementara di dalam bufet terdapat beberapa macam barang-barang dari kuningan dan gerabah. Ada cerana penuh ornamen bunga-bunga dan peludahan sirih yang memiliki motif yang sama. Sementara yang polos itu, seperangkat ceret dan cangkir-cangkirnya adalah gerabah berwarna coklat tua, kusam oleh sebab jarang tersentuh tangan. Di antara semua barang perabotan kecil itu, satu yang menjadi tumpuan perhatianku kini adalah selembar potret hitam putih tanpa bingkai di dalamnya. Itu potret dengan objek lima figur di dalamnya dengan latar debur ombak dan garis horizon yang mempertemukan warna abu-abu riat air laut dan putih langit di belakangnya. Sudah pasti potret ini diambil di sebilah pantai entah dimana, tapi satu figur di dalamnya, dengan mudah kutebak adalah Nyi Miriam muda.

“Kalau aku sudah lahir dan bertemu Nyi puluhan tahun lalu, mungkin aku akan jatuh cinta pada pandangan pertama, Nyi,” teriakku sekadar memastikan tebakanku pada potret yang telah kukeluarkan dari tempatnya semula.

“Kau sedang melihat potret itu?” Tanya Nyi Miriam dari balik bufet.

“Bukan Nyi yang menggendong bocah kecil ini?”

“Iya, siapa lagi kalau bukan aku yang cantik itu,” dilanjutkan dengan kekehan khas nenek-nenek. Sejurus kemudian kekehannya makin mendekat, Nyi Miriam dalam kebongkokannya membawa nampan berisi dua cangkir kopi dan sepiring kecil kudapan yang tak kutahu nama di atasnya.

“Silahkan. Minum dan makanlah alakadarnya,” katanya lagi.

“Terima kasih. Maaf sudah merepotkan Nyi sesorean begini.”

“Anggap saja rumah sendiri. Bukankah kau datang atas suruhan Setnov? Kau tahu, semua yang datang ke sini dengan mengatasnamakan nama anak bangsat itu, akan kuanggap cucuku sendiri. Jadi jangan sungkan-sungkan. Kalau mau kau boleh tinggal di sini berapa lama yang kau kehendaki,” kata Nyi Miriam.

Mendengar nama Setnov telah disebut-sebut. Kesempatanku untuk mengorek masa kecil orang yang sedang kujajaki kehidupannya untuk kutulis buku biografinya telah tiba. Nyi Miriam mengangguk cepat ketika kutanya kebenaran bahwa dialah yang membantu persalinan Nyinyir Yolanda binti Offgoat van Dijk ketika melahirkan Setnov. “Karena keberhasilanku membantu keluar anak bangsat itu dari perut ibunyalah aku kemudian diajak mengasuh si anak bangsat oleh kakeknya, Tuan Offgoat,” terang Nyi Miriam lagi.

“Tapi benarkah, aku cukup cantik di potret itu?” Nyi Miriam seakan tahu basa-basiku tadi, dan sekarang hendak memastikan lagi kalau itu bukanlah basa-basi.

Teringat pesan ayah ibu dulu, membuat senang orang tua adalah satu jalan lempang agar dimudahkan rezeki, langsung saja kukata pada Nyi Miriam, bahwa di antara dua perempuan yang ada di potret itu, dialah yang paling cantik. Tak lupa pula kuulang padanya, dengan kontruksi tubuh sebagaimana yang tampak di potret, aku bisa saja jatuh cinta padanya sekira lahir dan besar pada masa yang sama dengan masa mudanya.

“Termasuk setelah kau melihat isi kain sarungku di tangga tadi?”

Aku tersedak. Sekali lagi aku pucat. Rasa mual datang untuk ketiga kali.[]

 


Biar jelas. Sila baca beberapa cerita sebelumnya: Setnov, Setnov2, Setnov3, dan seterusnya, dan seterusnya kenapa tidak dicari sendiri di kotak pencarian Steemit dengan kata kunci, Unfinished Biography.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *