Trik Pelengkap Bisa Menulis Setiap Hari Bersama Taufik Al Mubarak

Tulisan ini kutulis setelah membaca satu postingan milik Taufik Al Mubarak, penulis buku Aceh Pungo dan di steemit punya akun bernama @acehpungo. Trik sederhana agar lancar menulis setiap hari. Itulah judul postingannya. Dari judulnya saja, sudah tentu tulisan yang seperti itu adalah gizi pelengkap yang harus sesegera mungkin dilahap, terutama orang sepertiku yang punya kehendak menulis setiap hari.

Setelah membaca dengan seksama postingan sepanjang lima ratus tujuh belas kata tersebut, ada banyak trik menulis yang membuat penulis pemula jadi lebih tercerahkan. Semuanya tertulis dengan bahasa sederhana, mudah ditangkap sekaligus dipraktekkan. Katakanlah satu di antaranya menulis cerita-cerita kecil di balik selembar foto yang tersimpan di folder galeri gawai pribadi. Tapi di antara sekian jumlah trik yang ada dalam tulisannya, satu trik yang dianjurkan dan paling ampuh untuk dipraktekkan adalah; membaca koran pagi. Dalam tulisannya tertulis begini:

Bacalah koran pagi, dan perhatikan satu-dua berita yang benar-benar menarik perhatian kalian. Baca pelan-pelan dan pahami apa yang ditulis dalam berita tersebut. Cari apa yang kira-kira tampak aneh dari berita itu. Yang harus kalian lakukan adalah menulis ringkasan dari berita itu dalam bahasa kalian sendiri, dan bikin ulasan atau komentar kalian terhadap berita dan apa yang ditulis dalam berita ini. Ingat, jangan kalian ketik ulang berita tersebut karena bukan demikian trik yang disarankan! ~ Taufik Al Mubarak.

Jelas adanya berita koran adalah sumber informasi. Ada banyak informasi. Mulai dari informasi politik, olahraga, perselingkuhan, pembunuhan, harga-harga, hingga informasi pawang hujan yang entah karena kekurangan orderan, mesti mengiklankan diri di rubrik iklan. Bagi seseorang yang punya keinginan bisa menulis setiap hari. Koran sebagai gudang informasi akan sekaligus menjadi gudang inspirasi. Berita-berita yang ada adalah sumber inspirasi, dan sesuai dengan trik yang diungkap Taufik dalam tulisannya, itulah bahan baku bagi tulisanmu nanti.

Di Aceh, akhir-akhir ini, ada tiga koran pagi yang bisa kau baca gratis di hampir setiap kedai kopi. Serambi Indonesia. Rakyat Aceh. Satu lagi; Pro Haba. Di antara ketiga koran tersebut, bagiku, Pro Haba lebih menginspirasi tinimbang yang duanya lagi. Tahu kenapa? Itu terletak di judul-judul beritanya yang mampu mengejawantahkan pikiran kita kemana-mana. Terutama sekira kau suka memikirkan perihal-perihal yang bisa membuat kau kena dera cambuk Wilayatul Hisbah sejak dalam pikiran.

Bicara koran yang satu itu memang unik adanya. Seperti yang kukata tadi, terutama bagiku sendiri, membaca pilihan kata-kata di judul berita-berita yang tayang di halaman koran itu benar-benar bisa melecut pikiran untuk selangkah lebih kreatif dari isi beritanya. Kata ‘eh ‘oh dibuat lebih membumi oleh dewan redaksi di koran itu. Begitu pun istilah-istilah bahasa Aceh yang hampir digerus zaman kemudian terpakai lagi dengan meriahnya pada judul berita-berita yang menjurus (tanda kutip) pada hukuman cambuk sejak dalam pikiran, seperti istilah; cok siangen, mak akob, ek u buleun, dan lain sebagainya. Namun di antara itu semua, satu judul berita paling membekas di kepalaku adalah yang satu ini: Tukang Perabot Dihamok Massa Saat Memplitur Seorang Janda.

Perihal trik bisa menulis setiap hari dengan membaca koran pagi seperti yang dianjurkan Taufik Al Mubarak. Aku jadi teringat satu tulisan bernas yang pernah tayang di blog sastra alibi. Tulisan itu berjudul, Tiga Hari Bersama Gabo, ditulis oleh Silvana Paternostro dan diterjemahkan oleh si pemilik blog, Ronny Agustinus salah satu penerjemah karya sastra dunia, terutama karya sastra Amerika Latin. Sekadar pengingat dan pelajaran untukku menulis sendiri, barangkali tak ada salahnya kukutip penggalan tulisan itu. Penggalan yang mengilustrasikan betapa berita-berita koran adalah bahan baku tulisanmu sehari-hari. Biar lebih jelasnya, sila baca sendiri kutipan berikut ini:

“Ada apa di koran hari ini.” Ia menjangkau koran Tadeo Martínez di seberang meja. “Adakah cerita yang bisa kita datangi dan liput?” tanyanya. Ia amati halaman depan dan menggelengkan kepala tak setuju. “Luar biasa,” katanya. “Ini koran lokal dan tak satu pun cerita soal Cartagena di halaman depan. Beritahu bosmu, Tadeo, bahwa koran lokal harus punya berita lokal di halaman depan.” “Tak ada apa-apa di sini,” gumamnya sambil membalik halaman. “Nah lihat, ada sesuatu nih. Dijual kompor, tidak dipakai, belum dirangkai. Jual cepat. Telepon Gloria Bedoya, 660-1127, ekstensi 113. Ini bisa jadi cerita. Haruskah kita menelepon? Taruhan pasti ada sesuatu di sini. Mengapa wanita ini menjual kompor, mengapa kompornya belum dirangkai? Apa yang kita ketahui dari sini soal wanita ini? Bisa menarik.” ~ Tiga Hari Bersama Gabo.

 

Images source: 1,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *