Travelogic: Ke Tanah Papua

BANDARA RENDANI. Pagi Minggu, 30 September, sekira pukul 6.00 WIT pesawat Batik Air dengan nomor penerbangan yang sudah aku lupakan dengan sengaja, mendarat mulus di landasan pacu, terminal udara Rendani, Manokwari, Papua Barat. Sekira 5 jam sebelumnya pesawat penumpang ini bertolak dari terminal udara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang. Menyusur gelap malam pada ketinggian antara 30-35 ribu kaki dengan jarak tempuh 3083 kilometer. Menyeberangi Laut Jawa, melintas langit Makassar dan Kendari, lalu menyeberangi gugusan kepulauan Maluku di Laut Banda, alhamdulillah, tanpa mengalami turbulensi yang berarti. Di pesawat ini, aku, istri dan anak adalah salah tiga di antara ratusan penumpang lain yang dari Jakarta hendak pergi atau pulang ke Manokwari.

Karena kami tinggal di Banda Aceh, titik awal keberangkatan adalah terminal udara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar. Dari sini kami terlebih dahulu terbang ke Cengkareng, tempat di mana kami harus berganti-sambung rute penerbangan Jakarta – Manokwari. Itu pada petang Sabtu 29 September, sekira pukul 18.00 kurang beberapa menit pesawat tumpangan tinggal landas, dan menghabiskan waktu 2 jam 50 menit untuk mendarat di Cengkareng dengan jarak tempuh 1798 kilometer. Dalam satu hitungan, jarak terbang BandaAceh – Manokwari adalah 4881 kilometer.

Itu sama jaraknya antara Portugal di selatan Eropa dengan ujung negara Ukraina yang masuk dalam bagian Eropa Timur. Atau dalam lingkup Afrika, jarak ini kurang lebih sama jauhnya jika kau mau bersetapak dari negara Maroko ke Nigeria. Dan jika mau menggantikan posisi ‘nenenda’ Ratna Sarumpaet pergi ke Chile. Dengan jarak hampir 5 ribuan kilometer itu, kau bisa menyusuri garis pantai Samudera Pasifik bagian selatan di negara ini. Mulai dari kota Arica yang berbatasan dengan Peru hingga kota Chile Chico yang entah di mana  tepatnya itu.

Manokwari adalah ibukota provinsi Papua Barat, pemekaran dari provinsi Papua, induk semangnya. Pukul 6, keluar dari pintu pesawat, aku menemukan Manokwari telah benar-benar pagi, hangat, matahari bersinar dengan santunnya tanpa sehimpun awan pun mengganggu semburat cahayanya. Pertama menginjakkan kaki di atas beton (meski masih menginjak beton) parkiran pesawat bandara Rendani, aku merasa senang sendiri. Bangga. Juga bersyukur. Dan ya, alhamdulillah, akhirnya aku menginjak tanah Papua. Tanah yang sejak dulu-dulu itu pernah kuidamkan sebagai salah satu titik tujuan bepergian. Sambil menggendong anak dalam hati aku berteriak, “Papuaaaa!”

Lepas dari tetek bengek urusan ambil koper di bagian bagasi, kami keluar dari ruang ketibaan bandara Rendani. Dan layaknya di tempat-tempat lainnya, para sopir taxi bandara berebut menawarkan jasa mereka untuk mengantarkan kami ke tujuan utama. Kami memilih salah satu di antaranya, lantas menyusuri jalan Drs. Essau Sesa, berbelok ke jalan Trikora Wosi, hingga ke satu perempatan belok lagi ke jalan Condronegoro. Kemudian di satu perempatan lagi masuk ke jalan dua jalur, Yos Sudarso, salah satu jalan utama Kota Manokwari, di mana pada satu titiknya, penginapan pilihan berlokasi.

Hanya 20 menitan saja dari bandara untuk tiba di penginapan. Tapi dari setiap ruas jalan yang kami lalui, tahulah aku, Manokwari terletak di tubir laut pada satu sisi. Dengan ceruk beberapa teluk kecil, bagian dari teluk utama bernama Doreri. Membuat Samudera Pasifik dari sebelah utara keseluruhan pulau Papua yang berbentuk burung ini, terasa teduh dan begitu menenangkan. Di sisi lainnya perbukitan rendah di kaki gugusan pegunungan Arfak adalah benteng alam. Perpaduan yang menabalkan Manokwari adalah satu kota penting dalam urusan pemandangan alam (lebih-lebih jika dinas pariwisatanya benar-benar bekerja).

Dan tidak hanya itu saja, Manokwari adalah satu kota bersejarah untuk keseluruhan tanah Papua modern. Dari sinilah Injil (tepatnya di Pulau Mansinam di Teluk Doreri) pertama dibawa turun dari pelayaran panjang dua orang zendeling (penginjil) Jerman, Carl Willem Ottow dan Johann Gottlob Geissler pada Februari 1855. Perihal yang ratusan tahun kemudian membuat seorang asli Papua menulis di akun pribadi laman media sosialnya, “Dulu missionaris hanya punya Injil kami yang punya tanah. Kini mereka yang punya tanah kami yang punya Injil.” Ismail Asso.

Selebihnya, Manokwari adalah tempat di mana Organisasi Papua Merdeka tercetus pertama sekali, itu pada tahun 1965. Perihal yang pada masa rezim Soeharto berkuasa, Papua dipersanding dengan Aceh sebagai dua daerah paling maut, menyeramkan, yang untuk mengamankannya tentara perlu dikirim terus menerus dari Jakarta.

Tiba di depan penginapan, aku menemukan sudut-sudut jalan Manokwari yang penuh bekas ludahan cairan pinang muda yang dikunyah sekaligus dengan kembang sirih plus kapur. Itu semua sewarna merah pekat. Melekat di trotoar, aspal, pula di sudut anak tangga lobi penginapan dalam rupa motif beragam, mulai dari lelehan, cipratan, dan lain sebagainya. Masuk di lobi penginapan, selusin lebih koteka dengan bentuk dan ukuran berbeda terpajang di dinding dekat tangga otomat dalam satu bingkai tanpa kaca. Menemukan dua hal itu, sekali lagi aku berteriak dalam hati, “Papuaaa!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *