Tentang Geulaseue

GEULASEUE. Pernah dengar? Ini kata bahasa Aceh yang sampai paragraf pertama ini aku agak bingung artinya dalam bahasa Indonesia. Telah kutanya pada beberapa orang yang kuanggap punya otak kamus, tapi mereka menggeleng. Bahkan seorang Diyus sekalipun berkali-kali mengernyitkan jidatnya ketika kutanya arti kata geulaseue dalam bahasa Indonesia.  Setelah beberapa kernyit, setelah dikata ia belum pernah dengar kata tersebut, ia tanya apa itu geulaseue? Kujawab, geulaseue adalah lukuep yang maha banyak.

“Apa itu lukuep?” Tanyanya lagi. Saat ini aku sadar Diyus memang seorang berotak kamus. Berbagai kamus, kecuali yang versi bahasa Aceh – Indonesia. Sadar pula aku bahwa Diyus adalah salah satu teman yang kupunya dengan kepala paling miskin kosa kata Aceh yang diketahuinya. Apa boleh buat. Tapi dengannya aku merasa tak benar-benar salah orang. Sebab setelah kujelaskan padanya tentang lukuep, jawabannya membuat soalan pertama yang kutanya menjadi sedikit lebih terang. “O. Lukuep itu bentol kalau begitu,” jawabnya.

Berbekal kata bentol aku mencoba menyelesaikan masalah yang diciptakan geulaseue pada google. Kuketik kata bentol di kotak pencarian. Keluarlah pelbagai informasi tentangnya. Semuanya berhubungan dengan medik. Ada banyak blog penambang adsense yang mengulas tentang geulaseue. Yang dari beberapa artikel di antaranya kuketahui bahwa biduran atau kaligata atau hives atau urtikaria adalah kata paling ramah bagi kebanyakan orang Indonesia ketimbang mengatakan dalam bahasa lokal, seperti dalam bahasa Aceh.

Setelah tahu kata geulaseue dalam bahasa Indonesia aku langsung menutup blog-blog yang sudah kubuka. Aku tak punya kepentingan untuk membaca lebih jauh tentang penyebabnya dari sudut pandang ilmu kedokteran. Karena seperti dikata para orang tua di kampung, geulaseue disebabkan oleh sesuatu yang berhubungan jin atawa syaitan. Bahwa koloni bentol yang timbul tiba-tiba di kulit hingga kau mengaduh-garuk kegatalan bermula dari cipratan kencing jin atau setan yang ghaib.

Kukira, dalam hal mengarang cerita, penyebab geulaseue versi orang kampung lebih memiliki potensi untuk dieksplor kemana-mana. Tinimbang mengangguk-angguk kepala di hadapan penjelasan medik yang banyak kata istilah itu.

Merujuk anggapan orang di kampung. Bisa kubayangkan bagaimana cipratan air seni jin atau setan kurang kerjaan itu bisa membuat seseorang kepayahan. Kegatalan yang amat sangat. Makin digaruk makin meluas koloni bentol-bentol. Betapa celaka jin atau setan atas penderitaan yang disebabkan olehnya. Pantaslah ia jika diserapahi sedemikian rupa. Semisal, “Terkutuklah kelamin jin atau setan. Semoga jin tukang kencing sembarangan lekas kena raja singa. Biar mampus apa yang dia punya.”

Pertanyaan lanjutan. Kalau sudah kena geulaseue, apa yang harus diperbuat? Kemana mesti cari obat? Mana kutahu. Aku bukan dukun, bukan tabib, tak pula kukantongi sertifikat mantri. Apalagi ijazah dokter yang untuk memilikinya kau harus bersepakat dengan kedua orang tua. Petak sawah mana yang layak dijual untuk talangan biayanya. Membayangkan yang begini saja, aku langsung merasa geulaseue-pikiran. Telak. Tak pelak kurasa banyak gatal memenuhi isi tengkorak.

Apakah benar jin atawa setan telah coba-coba kencing di kepalaku? Naudzubillah. Baiknya lekas saja aku rapal isti’adzah.


Image source: 1,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *