Tengah Malam: Sketsa Tiga Kepala

MALAM MERAMBAT. Pelan, penuh khidmat. Buso Dhoe duduk di teras belakang rumah. Di temani secangkir kopi, nyamuk, obat nyamuk, rokok, dan roti Khong Guan. Bohlam lima watt menampilkan cahayanya yang temaram. Tapi cukup mengalahkan cahaya bintang nun jauh di langit. Udara gerah. Angin bulan Juli berhembus seenak udelnya, kadang berhembus keras hingga menyerupai badai, kadang tidak sama sekali. Dan malam ini tak ada angin, kecuali yang keluar dari pantat Buso Dhoe sedari tadi.

Telah dua jam Buso Dhoe duduk di situ. Hanya duduk saja tanpa melakukan apa-apa, kecuali empat hal: menghisap rokok, menyeruput kopi, makan roti sesekali, dan menghalau-halau nyamuk jika ada sebiji dua yang hinggap di tubuhnya. Selebihnya ia cuma berdiam diri. Membiarkan tubuhnya bersandar di kursi, membiarkan pikirannya bergentayangan kesana kemari. Juga membiarkan kupingnya menangkap suara-suara di sekitarnya sembari berlama-lama memejamkan matanya.

Jika pun ada hal lain yang membuatnya punya suatu kesibukan selain yang empat tadi adalah angin yang mendesak dalam perutnya. Kalau sudah mendesak sangat, mau tak mau ia mesti mengangkat sedikit pantatnya. Sekadar memberi ruang yang agak lega bagi lubang anginnya, agar yang hendak keluar itu meluncur bebas tanpa hambatan yang berarti. Buang anginnya kerap berakhir dengan bunyi letusan yang kerasnya tak seberapa. Tapi cukup membuat gendang telinganya berdenging.

***

PANG LUHOP melajang hingga tua. Hingga umurnya kini yang hampir setengah abad ia masih berkutat dengan kesendiriannya, menghabiskan malam-malam panjangnya seorang diri. Tak ada yang tahu pasti ihwal apakah yang membuatnya bersikeras tak mau menikah, dan sebenarnyalah tak ada yang mau tahu. Ia hidup sebatang kara. Di sebuah rumah panggung yang diwariskan ibunya yang meninggal belasan tahun lewat. Sementara ayahnya telah meninggal jauh tahun sebelum ibunya, ketika ia masih berumur empat tahun.

Siang dan malam bagi Pang Luhop adalah sama saja. Hanya sebatas hari-hari yang membawanya pada kesendirian paling utuh ketika mati. Dan ia menghabiskan siangnya sebatas mencari bekal makan selama hidup. Sementara malam-malam bulan Juli yang tak ada angin dilewatinya dengan bersegera tidur dalam kamar mendiang ibunya. Satu-satunya kamar yang ada di rumah itu.

Selepas azan isya, itulah satu-satunya penanda waktu yang dimilikinya, Pang Luhop langsung naik keranjang, menggelar kelambu, lalu menghempaskan tidurnya ke balik selimut yang hanya berupa sprei bekas. Di balik selimut itu ia memejamkan matanya. Dan tak lama setelahnya adalah dengkur yang hebat. Dengkur yang membuat buyar konsentrasi laba-laba menjahit jaring-jaringnya di loteng kamar. Dengkur yang memancing ayam-ayam betina di kandang yang ada di kolong rumah berkotek tak karuan sepanjang malam.

***

MALAM BERSISA setengah. Embun turun. Langit redup. Bintang menghilang satu-satu. Kelelawar berpesta di pucuk pohon mangga yang tengah hamil tua. Musang menyelinap dari sebalik semak menyisakan aroma daun pandan yang menusuk hidung. Itu hidung tak seberapa bangir milik Ma Kurap. Istri Buso Dhoe yang sedari tadi hendak tidur, tapi tak bisa tidur. Ada sesuatu yang mengonak di ulu hatinya, sesuatu yang sangat rahasia.

Namun, serahasia apa pun onak dalam hati Ma Kurap. Tetap saja ia tak bisa menyembunyikan dari pikirannya sendiri, yang selalu punya kehendak keingintahuan secara berlebihan. Celakanya, pikirannya akan selalu ikut campur tangan ketika rahasia hatinya terkuak sedikit saja.

Sebagaimana yang dirasanya tengah malam ini hingga membuatnya tak bisa tidur sama sekali. Sebagaimana pikiran suaminya, Buso Dhoe, yang tengah bergentayangan entah kemana di teras belakang rumah sana, pikiran Ma Kurap juga punya kesibukan yang sama. Juga bergentayangan meski sedikit yang membedakan di antara keduanya adalah alamat jelas kemana pikiran milik Ma Kurap tertuju.

Alamat jelas itulah kiranya yang dirahasiakan ulu hatinya sedari tadi. Tapi celakalah pikiran yang setelah sedikit tahu rahasia itu, malah kemudian mendramatisirnya sedemikian rupa. Sampai-sampai Ma Kurap tersenyum-senyum sendiri. Sampai-sampai pipi Ma Kurap terasa mengencang dan bersemu merah serupa pipi anak dara yang baru ketiban cinta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *