Tata Cara Memendam Kentut Dalam FGD

FGD. Forum discussion group. Itulah acara yang akhir-akhir ini, dalam semesteran ini, sering aku hadiri. Ada saja undangan datang agar orang-orang di komunitas tempat aku beraktivitas selama ini, hadir di acara-acara tertentu. Baik sebagai pembicara, tapi lebih seringnya sebagai peserta. Undangan itu pun datang dari pihak yang cukup beragam, mulai dari LSM atau pemerintah.

Terhadap undangan-undangan tersebut, teman-teman di komunitas sering berbagi jatah untuk menghadirinya. Yang beberapa diantaranya aku ditunjuk sebagai perwakilan komunitas. Darinya aku mendapatkan beberapa pengalaman yang akan kuceritakan di sini. Tapi perihal pertama dari pengalaman tersebut adalah, bahwa ternyata istilah FGD itu tak lebih sama dengan duek pakat yang sering dilakukan oleh para orang tua kita di kampung. Apakah itu duek pakat peugala lampoh jeurat (sekiranya benar-benar ada), atau boleh jadi duek pakat gotong royong jelang musim turun ke sawah.

Tapi sebelumnya mesti kuingatkan terlebih dahulu, bahwa cerita pengalaman menghadiri FGD tak lebih sama klisenya dengan cerita orang setor muka (muka atas sekaligus muka bawah, tentu saja) ke bilik air setiap hari. Jadi sebelum melanjutkan membaca tulisan ini sampai habis, ada baiknya kuwanti-wanti bahwa perihal ini tak penting sama sekali. Tak punya kadar pengetahuan apa pun di dalamnya, apalagi pesan-pesan moral sebagaimana kebanyakan cerita pengalaman orang-orang besar.

Karena telah lumrah dipakai sebagai istilah kekinian dari acara duek pakat, maka untuk untuk memastikan taraf kekiniannya, FGD biasa diadakan di tempat-tempat yang terkesan ekslusif. Jika yang mengadakannya adalah pihak pemerintah atau lembaga-lembaga non pemerintah yang memakai bahan bakar donor luar negeri, maka sudah pasti FGD akan bertempat di aula-aula hotel berbintang. Paling kecil bintang tiga. Pokoknya ketika laporan tahunan diserahkan kepada pihak pendonor, nama-nama hotel tempat acara mudah dikenali sebab di negara mereka juga punya hotel dengan nama serupa.

Dari beberapa pengalaman, bisa kusimpulkan sesederhana jalan pikiranku sendiri, bahwa menghadiri FGD punya dua keuntungan yang tidak boleh tidak akan kau ketahui setelah pulang darinya. Pertama, keuntungan makan siang gratis. Kedua, amplop. Isinya tentu saja uang jalan pergi dan jalan pulang sekaligus sedikit (ada juga yang banyak) uang jajan selama di jalan. Keuntungan serupa bertambah wawasan dan bikin tambah lebar lingkar pertemanan adalah jenis keuntungan non-materi, jadi tak usahlah dibicarakan di sini.

Bagiku sendiri, keuntungan non-materi yang paling banyak kudapatkan biasanya ketika menghadiri FGD yang berpanitiakan LSM. Ketika diskusi berlangsung, kerap aku mendapatkan wawasan baru tentang sesuatu hal. Sebab kebanyakan peserta akan membicarakan temuan-temuan di lapangan, punya data, kritis. Dan yang terpenting, ketika membenturkan dengan regulasi pemerintah (katakanlah begitu) mereka tak akan membiarkan kalimat yang keluar runtut dari mulutnya tanpa memakai kata istilah. Kalau boleh didramatisir, mereka seperti punya slogan: pantang bicara dalam forum kalau tidak pakai kata istilah. Masalah ada yang tidak cocok dengan kalimat yang dilontarkan, itu urusan belakangan.

Berbeda halnya dengan FGD yang diselenggarakan oleh pihak kedinasan. Keuntungan materi yang kudapatkan sudah jelas seperti tersebut di atas tadi. Tapi yang non-materi pun tetap ada. Tapi cuma satu saja: rasa kantuk yang amat sangat. Kenapa bisa seperti itu? Ya bisa saja. Tak lain karena pembicara biasanya akan memaparkan sesuatu materi sesuai teks belaka, normatif, dan rapalan paling sering kudengar pada ujung-ujungnya adalah, “Kami pihak pemerintah sudah berhasil melakukan ini, itu, itu lagi, yang itu, tuh yang itunya lagi, dan seterusnya.”

Terlepas dari perbedaan keuntungan non-materi dari menghadiri FGD milik pemerintah atau lembaga swasta itu. Keduanya punya kesamaan ketika berurusan dengan tempat penyelenggaraannya. Seperti yang telah kuungkit sekilas. Kerap tempat yang dipilih adalah ruang-ruang pertemuan di hotel berbintang. Dan yang namanya ruangan hotel sudah pasti punya hawa sesejuk hawa dalam kulkas. Hawa yang mampu membuat gigil pengidap polip plus sinusitis sepertiku. Tapi dengan kondisi cuaca Banda Aceh sekarang ini, peralihan tiba-tiba hawa panas di luaran ke hawa dingin kulkas di ruang pertemuan hotel tempat FGD berlangsung. Juga mengakibatkan goncangan udara dalam perut. Lebih-lebih jenis perut yang dalam sehari disirami kopi berkali-kali sebagaimana jenis perut yang kupunya.

Peralihan hawa sebegitu tiba-tiba, kerap bikin perutku membusung. Udara di dalamnya seperti kian menggelembung. Dan tepat ketika FGD berlangsung dengan alot atawa khidmat–semoga kau bisa membedakan yang alot berpanitiakan siapa, yang khidmat dibikin oleh siapa–aku pernah mengalami kehendak buang angin. Ini jenis kehendak yang datang sekonyong-konyong, di sinilah letak permasalahan yang sebenarnya. Mau tak mau aku mesti memelihara kentut untuk beberapa saat ke depan. Meredam pemberontakannya, setidaknya hingga sampai pada jadwal jeda kopi.

Tapi itu tidak mungkin, mengingat harus menunggu dua jam lamanya. Dan kemalasanku untuk keluar-masuk ruangan hanya karenanya membuatku menemukan cara khusus untuk meredam angin perut yang penuh zat kimia jahat itu. Bagaimana? Pertama-tama kau harus yakin, kentut yang mendesak hanya bisa diredam dengan kekuatan pikiran.

Kedua, pusatkan pikiran ke sesuatu hal yang membuat kentut keder atau sadar diri bahwa urusannya bisa dilakukan belakangan. Dalam acara FGD kau bisa mengalihkan perhatian pikiran pada topik pembicaraan. Cara paling mudah untuk ini adalah dengan mengacungkan jari ke moderator. Lalu kesempatan bicara yang diberikan harus kau gunakan sebaik mungkin, hingga kentut terpengarah dengan kemampuanmu beretorika, punya banyak kata istilah dalam kepala, hingga kemudian ia lupa akan wujudnya sendiri.

Ketiga, ikhlas. Cara ini adalah alternatif terakhir yang bisa kau lakukan sekira kentut memang sudah demikian terujung. Ketika kentut menolak segala bentuk negosiasi pikiran. Manakala kentut sudah sedemikian keras kepala agar bisa memerdekakan diri detik itu juga. Yang perlu kau lakukan adalah ikhlas semata. Tapi hal yang perlu diingat, bahwa ikhlas tidak sesekali sama dengan pasrah.

Dengan kata ikhlas, kau masih bisa sedikit bersiasat semisal, kau memilih mengeluarkannya tepat ketika sedang menyampaikan pendapat kepada forum. Tapi tentu saja, dengan kata ikhlas tadi, kau sudah bisa memastikan bahwa apa yang kau keluarkan dari mulut bawah adalah sebentuk pengeluaran yang hanya berupa desisan bisu, singkat. Dalam waktu bersamaan mulut atas tengah berargumen dengan ketajaman pikiran, runtut, kritis, padat.

Selebihnya, berkat keikhlasanlah kau bisa berlagak tanpa dosa, tepat ketika argumenmu selesai kau ucap yang dalam waktu bersamaan, angin yang kau buang itu sudah menyebar kemana-mana, terutama sudah menyatu dengan udara kulkas nan sejuk itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *