Nafsu Beli Buku

PERNAH AKU punya tekad: tiap bulan beli buku. Minimal satu buku. Tekad ini mengada sepekan atau lebih paska wisuda sarjana. Tapi bertahun-tahun lamanya begitu pun kini, kehendak itu gagal dalam artian yang sebenar-benarnya. Ada banyak sebab kenapa sampai gagal. Satu di antaranya karena isi kantong. Klise? Biarlah!

Pemasukan tiap bulan melulu pas-pasan. Cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok di rumah, rokok ala kadarnya, kopi rutin, sesekali traktir teman, hingga pada saatnya tiba, ketika tekad yang telah kusimpan di alam bawah sadar mengapung di ingatan. Aku mendapati isi kantongku sudah tiba pada nominal minus beberapa ratus ribu rupiah. Artinya, aku sudah mencetak data hutang (untuk kesekian kalinya) pada beberapa teman yang cukup pengertian sejak beberapa hari lewat.

Biasanya saat-saat seperti itulah buku-buku yang semestinya kubeli tepat ketika pemasukan bulananku nangkring di rekening, mengapung di pikiran. Apa pun yang kukerjakan–terutama ketika hendak tidur, akan teringat pada buku yang tak terbeli. Rasa penyesalan tidak menyisihkan barang seratusan ribu rupiah untuk belanja buku timbul tenggelam. Dan itu akan semakin bertambah-tambah ketika mendapati sampul-sampul buku berseliweran di beranda media sosial. Jika sudah begini tidak ada cara lain yang bisa kulakukan kecuali mencari-cari pembenaran sekadar menutupi ketidak-berdayaan beli buku dengan kalimat penghibur semisal:

‘Beli’ adalah satu kata kerja yang kerap bikin orang terjerumus dalam kubang nafsu.

Tentu saja kalimat penghibur itu hanya terucap dalam hati. Mana berani kukata pada yang lain kalimat seburuk itu. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, mungkin ada benarnya juga. Selama ini aku terkesan terlalu memaksakan diri. Tekad yang telah berkali-kali gagal mestinya perlu ditinjau ulang. Musti ada pembenahan. Atau setidak-tidaknya tekad yang tak jelas realisasinya, harus dibekukan terlebih dahulu hingga waktu-waktu tertentu. Dan akan dicairkan kembali pada saat pemasukan tiap bulan punya banyak kelebihan setelah potong sana-sini, terutama untuk kebutuhan pokok.

Pernah aku terprovokasi oleh kata-kata para orang besar, bahwa seharusnyalah buku termasuk kedalam mata barang kebutuhan pokok, yang mau tidak mau harus ada pemenuhannya setiap waktu. Tan Malaka, misalnya, dalam satu karyanya yang agung, Madilog, pernah menulis; “Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi.”

Itu sederet kalimat yang dengan jeli telah dimanfaatkan beberapa pemilik toko buku. Tahu betul mereka bahwa quote tokoh besar itu memiliki motif mengajak khalayak orang untuk tidak sungkan-sungkan beli buku. Meski untuk memenuhinya orang-orang haruslah sedikit berkorban dengan cara berlapar-lapar. Tak mengapa jika pakaian yang kau punya hanya yang itu-itu saja. Demi kelancaran bisnisnya, kalimat Tan Malaka mereka tempel di kaca pintu masuk, seakan-akan hendak menegaskan bahwa lapar fisik lebih baik ketimbang lapar jiwa.

Lalu bagaimana denganku? Tetap saja keinginan beli buku itu ada. Tapi mengingat pada beberapa hal yang telah kusebutkan di atas, biarlah kuputar lagu Seperti Matahari-nya Iwan Fals. Akan kurapal keras-keras lirik, terutama ketika sampai pada larik ini: “Keinginan adalah sumber penderitaan.”

Image Source: 1, 2

78

Ketika Banyak Orang Berubah Jadi Cebong dan Kampret

JELANG PEMILIHAN calon presiden yang partai puncaknya tinggal menghitung pekan saja, Indonesia makin gegap gempita. Seluruh Indonesia terlibat dalam pembicaraan, dukung-mendukung, siapa yang pantas jadi orang nomor satu periode lima tahunan kedepan. Yang naik jadi calon adalah seteru lama, meski pasangan (bukan ranjang) yang dipilih masing-masing mereka kali ini berbeda. Pada periode sebelumnya kedua orang ini sudah pernah saling adu taji. Mengantarkan yang satu jadi petahana pada periode sekarang, dan satunya lagi tampak sebagai lawan abadi yang terkepung banyak ambisi pribadi. Apa yang terjadi pada periode ini lebih kurang sama dengan yang dulu-dulu, tapi letak bedanya terang terdapat pada cara-cara mendukung para simpatisan di kedua kubu.

Sungguh, seteru Jokowi versus Prabowo dalam masa kampanye calon presiden kali ini telah membelah Indonesia dalam dua kubu besar. Kubu-kubu kecil tetap ada, dan akan kita bicarakan di sini sebagai orang-orang di luar pagar saja. Maka mari berfokus pada yang besar-besar terlebih dahulu. Semisal fakta tentang penamaan antar dua kubu besar itu. Yang satu punya nama panggilan khas kepada kubu lawannya. Begitu pun sebaliknya. Yang satu disebut Cebong. Satunya lagi dilakab Kampret.

Hingga tak pelak lagi, jadilah sebagian besar orang di Indonesia saling mengidentifikasi, lebih tepatnya saling maki memaki dengan dua istilah yang demikian. Jika tidak Cebong seseorang, maka Kampret-lah ianya. Begitu pun keterbalikannya. 

Continue reading “Ketika Banyak Orang Berubah Jadi Cebong dan Kampret”

57

Travelogic: Ke Tanah Papua

BANDARA RENDANI. Pagi Minggu, 30 September, sekira pukul 6.00 WIT pesawat Batik Air dengan nomor penerbangan yang sudah aku lupakan dengan sengaja, mendarat mulus di landasan pacu, terminal udara Rendani, Manokwari, Papua Barat. Sekira 5 jam sebelumnya pesawat penumpang ini bertolak dari terminal udara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang. Menyusur gelap malam pada ketinggian antara 30-35 ribu kaki dengan jarak tempuh 3083 kilometer. Menyeberangi Laut Jawa, melintas langit Makassar dan Kendari, lalu menyeberangi gugusan kepulauan Maluku di Laut Banda, alhamdulillah, tanpa mengalami turbulensi yang berarti. Di pesawat ini, aku, istri dan anak adalah salah tiga di antara ratusan penumpang lain yang dari Jakarta hendak pergi atau pulang ke Manokwari. Continue reading “Travelogic: Ke Tanah Papua”

39

Tentang Geulaseue

GEULASEUE. Pernah dengar? Ini kata bahasa Aceh yang sampai paragraf pertama ini aku agak bingung artinya dalam bahasa Indonesia. Telah kutanya pada beberapa orang yang kuanggap punya otak kamus, tapi mereka menggeleng. Bahkan seorang Diyus sekalipun berkali-kali mengernyitkan jidatnya ketika kutanya arti kata geulaseue dalam bahasa Indonesia.  Setelah beberapa kernyit, setelah dikata ia belum pernah dengar kata tersebut, ia tanya apa itu geulaseue? Kujawab, geulaseue adalah lukuep yang maha banyak.

Continue reading “Tentang Geulaseue”

36

Hallo Kembali

SEPEKAN LEWAT ALPA. Aku ada lagi. Di steemit. Di blog pribadi. Setelah berhari-hari membiarkannya tak terisi oleh sebab beberapa urusan yang membuatku jadi paham mengartikan frasa ‘sok sibuk’ sebagaimana yang sering dikata orang-orang. Aku akan mengudara lagi. Membiarkan pikiranku melayang-layang lagi kemana ia suka seperti yang sudah-sudah. Mengudara sambil belajar berhitung. Belajar menghitung jumlah kata, sekaligus belajar memadu-padankan kata hingga jadi kalimat, jadi paragraf, jadi tulisan. Meski ujung-ujungnya tak ada yang membaca.

Continue reading “Hallo Kembali”

37

Hendak Kutulis Tentang Belajar Anatomi, Tapi Urung

DENGAN CELAKANYA Diyus menggangu proses aku menulis malam ini. Sudah kutulis sekalimat pembuka untuk paragraf pertama, dengan seenaknya dia memaksa aku membaca tulisannya yang sudah selesai. Mau tidak mau aku harus menurut. Membaca. Tapi urusannya tak kelar di situ saja. Malah berbuntut pada pertanyaan-pertanyaan darinya. “Gimana menurutmu tulisan itu? Apa yang kurang? Ada yang perlu kutambah tidak?”

Celakalah aku yang hendak menulis tapi kemudian konsentrasi yang kuhimpun sejak magrib tadi buyar oleh sebab suruhan penuh pemaksaan itu. Celakalah lagi ketika buntut pertanyaan-pertanyaannya tentang tulisannya mesti kutanggapi detik itu juga. Kupikir, inilah penderitaan hidup satu-satunya yang kualami dalam seharian ini. Sampai-sampai aku bertanya dalam benak sendiri, “Dosa apa yang kuperbuat ini hari?”

Continue reading “Hendak Kutulis Tentang Belajar Anatomi, Tapi Urung”

39

Beechung, Sarjana yang Enggan Pulang Kampung

BEECHUNG SEORANG sarjana lulusan fakultas ilmu sosial. Sejak selesai kuliah ia memilih tinggal di kota, enggan pulang kampung. Ilmu yang didapatnya di bangku kuliah memang agak susah diaplikasikan dengan kehidupan kampung. Konon lagi jika menyangkutpautkan ilmu yang didapatnya dengan bahasa sehari-hari orang-orang di kampung. Pelik betul. Itu sebabnya ia memilih tinggal di kota, pulang ke kampung halaman setahun sekali, pas hari raya, itu pun tak pernah lama.

Continue reading “Beechung, Sarjana yang Enggan Pulang Kampung”

36

Pendengar yang Baik Adalah yang Pasang Tarif

AKU TENGAH membakar sampah ketika ia datang dengan wajah semasam cuka, semengkerut kulit juruk purut. Melihat kedatangannya dengan tampang buruk begitu rupa, aku langsung ingat sepenggal lirik lagu Iwan Fals berjudul Panggilan Dari Gunung. “…Kau bawa persoalan, cerita duka melulu.” Benar adanya. Belum lagi kubalas sapaan basa-basinya, ia telah bicara tanpa putus. Topiknya beragam. Tapi semuanya punya sangkut paut dengan dirinya, berupa perihal-perihal yang menjadi beban pikirannya.

Continue reading “Pendengar yang Baik Adalah yang Pasang Tarif”

29

Menjadi Orang Jakarta

BARU DATANG dari kampung, setahun, dua tahun tinggal. Tak lantas langsung bisa menjadikanmu sebagai orang Jakarta. Menjadi orang Jakarta banyak syaratnya. Apalagi jika standar rujukan yang dipasang adalah apa yang sering ditayangkan di televisi, terutama program-program hiburan dan gosip. Butuh banyak modal untuk bisa disebut sebagai orang Jakarta. Modal uang tentu saja.

Sebagaimana sudah jadi rahasia umum, Jakarta akan menyingkap segala rahasianya atas nama uang. Dan kepada uanglah Jakarta kerap menanggalkan jubah harga diri. Atau jika ada yang sanggup bayar lebih, kenapa tidak ia telanjang sekalian. Biar puas sesiapa yang suka jajan.

Pergi ke Jakarta dengan maksud mencari uang adalah satu di antara bahagian perilaku paling mulia. Tapi kemuliaan yang ditawarkan Jakarta bagi mereka yang mencari uang di tubuhnya adalah kepedihan. Keperihan. Hal yang akan dengan gampang dirasakan sekira kau datang dengan tangan kosong, otak kosong. Sementara keahlian yang kau punya berupa keahlian menguras tenaga. Jadi kulilah kau di sana.

Jpeg

Untuk bisa melulu kenyang, Jakarta kerap meminta tumbal. Tumbal itu kian bertambah-tambah apabila setelah urusan lapar selesai, kau berharap sedikit kesenangan. Lalu bertambah lagi jika kau meminta kenikmatan. Kemudian kian membuncah ketika kau minta ketenaran. Begitu seterusnya. Dan seterusnya. Sampai-sampai pada suatu waktu kau tersadar bahwa segenap tubuhmu, begitu pun pikiranmu. Telah dikuasai utuh oleh sesuatu kuasa tak kasat mata. Jakarta menjeratmu luar dalam. Kau tersuruk dalam jurang terdalam dan tenggelam.

Tapi tenang. Untuk yang satu itu Jakarta tidak pernah menjerat orang-orang yang bersiteguh dengan harga diri. Dalam hal ini Jakarta akan pilih kasih. Terutama kepada mereka yang telah menggadaikan benak, hati dan pikirannya pada nafsu dan ambisinya sendiri. Jakarta akan mendekap erat orang-orang seperti ini dengan rasa senang tanpa ampun.

“Mari. Datanglah. Akan kusambut siapa saja yang datang padaku. Akan kuberikan padanya segala bentuk kenikmatan dunia. Kenikmatan tak berperi. Asalkan mereka mau menanggalkan jubah harga diri, asalkan mereka tak ambil peduli meski sudah jadi budakku di sini,” gumam Jakarta dalam hati menyambut pendatang baru.

“Untuk menjadi Jakarta, kau mesti punya ambisi dan jangan tanggung-tanggung. Jakarta tak pernah suka orang-orang serba tanggung. Yang serba tanggung hanya akan jadi kecoa saja. Tidak lebih!” Begitu petuah seseorang yang merasa diri telah jadi Jakarta setelah meninggalkan kampung halamannya. Setelah menanggalkan tekanan huruf T dari lidahnya.

“Kenapa harus menjadi Jakarta?” Tanyaku waktu itu.

“Karena kau sudah datang ke Jakarta,” jawabnya sigap.

“Tapi aku kesini bukan untuk menjadi Jakarta. Aku hanya ingin jadi diri sendiri saja.”

“Kau punya apa? Berapa banyak uang yang kau bawa?”

“Apakah di sini, semua bisa selesai dengan uang?”

“Semua bisa selesai dengan uang. Bahkan ketika kau sedang malas cebok setelah berak. Kau bisa mengupah tukang cebok nantinya.”

“Sampai segitunya?”

“Kau mau minta lebih? Nanti. Cebok dulu. Bayar. Kemudian nego lagi. Tawar harga lagi.”

Baru datang dari kampung, sepekan dua pekan tinggal. Seseorang yang kutemui di Jakarta ajak aku minum kopi bersama. Di sebuah cafe seputaran Kalibata. Sampai di sana, kudengar ceritanya tentang Jakarta. Ceritanya tentang malam-malam di Jakarta. Dua jam bersamanya aku merasa semaput. Yang benar-benar kusimak dari semua ceritanya adalah kata-kata yang ada huruf T di dalamnya. Terdengar benar ia menyebut kata-kata itu dengan sangat hati-hati. Barangkali ia takut jika T di setiap kata-kata itu terlalu mengeluarkan bunyi.

28

Petang di Bivak Emperom

BIVAK EMPEROM akan memulai denyutnya setelah tengah hari. Dari subuh ke pagi, tempat ini tertidur dengan pulasnya, tanpa ada satu pun kuasa kebisingan atau kegemparan bisa membuatnya terbangun seketika. Petang hari adalah waktu di mana Bivak Emperom berdenyut dengan sempurna. Orang-orang beraktivitas layaknya aktivitas pegawai negeri setelah upacara senin pagi. Titik jedanya pas azan maghrib. Lantas denyut itu berlanjut lagi hingga tengah malam, tak jarang sampai ke dini hari.

Continue reading “Petang di Bivak Emperom”

28