Cerita Kecil: Tali Jemuran

DI TALI JEMURAN. Yang luaran dan dalaman hendak terbang. Ingin ikut angin. Mengembara kemana saja. Asal tak lagi melekat di tubuh manusia. Keringat telah membuat mereka lepek, apek, derita tak tertanggungkan sejak keluar dari pabrik. Bukan itu saja. Ada banyak hal yang bikin pakaian luaran atau dalaman merasa durjana sendiri. Tak berperi. Terutama ketika tahu kebanyakan manusia telah menjadikan mereka sebagai alat untuk menyembunyikan segala keculasan, kecurangan, pula tipu muslihat.

Pada sepasang tiang, tali jemuran tampak ogah-ogahan. Kebosanan maha dahsyat menyerangnya. Hari-hari yang dilaluinya adalah tanggungan beban yang itu-itu saja. Meski tiap seminggu atau sebulanan atau tahunan yang luaran dan dalaman itu berubah-ubah warna. Perihal yang membuatnya sangat bersuka cita pada kali pertama, ketika secara tak sadar ia bisa tahu nama-nama banyak warna. Tapi suka cita yang dialami tali jemuran itu singkat saja. Sebab sesudahnya ia tahu betul bahwa dua ujung temali yang dimilikinya telah tersimpul permanen di sepasang tiang itu. Selamanya ia terjerat di situ. Mati berkali-kali.

Kali waktu yang lain seorang tukang cuci menghadap tali jemuran dengan memburai air mata. Ada ribuan duka di wajahnya. Tak tertaksir satu-satu, tapi air mata itu kian membandang manakala tangannya mengangkat dalaman majikan prianya dari keranjang. Untuk disampirnya di tali, ia menangis menjadi-jadi. Ia ingat dalaman pribadinya disobek paksa. Lantas isi dalaman majikannya menyobek satu-satunya harta paling berharga yang di milikinya. Kali ini tidak dengan cara memaksa. Melainkan dengan ancaman yang membuatnya serasa sudah kehilangan nyawa bertahun-tahun sebelum ia lahir ke dunia.

Hanya terik matahari yang menyaksikan segala kedukaan yang ada di tali jemuran itu. Sekadar menghibur ia kencangkan sengatan cahayanya dengan terlebih dahulu menghalau awan gemawan di bawahnya. Siang kian sempurna. Cuaca panas paling purna. Menerpa luaran dan dalaman yang tersampir di tali jemuran. Membawa ribuan kunang-kunang di mata kalap si tukang cuci. Ia memupuk emosi.

Dalam rasa pening yang hening, ia ajak tali jemuran ikut dengannya nanti malam. Tali jemuran mengangguk. Keduanya sepakat akan bermain ayunan di dahan mangga belakang rumah. Benar saja. Esok hari semuanya jadi terang belaka. Si tukang cuci terayun-ayun kaku di dahan mangga itu. Tali jemuran menemaninya dengan setia. Menjadi jerat bagi leher jenjangnya. Keduanya sepakat, persetan luaran, persetan dalaman, terutama isi yang dipunyai sang majikan.

Pendengar yang Baik Adalah yang Pasang Tarif

AKU TENGAH membakar sampah ketika ia datang dengan wajah semasam cuka, semengkerut kulit juruk purut. Melihat kedatangannya dengan tampang buruk begitu rupa, aku langsung ingat sepenggal lirik lagu Iwan Fals berjudul Panggilan Dari Gunung. “…Kau bawa persoalan, cerita duka melulu.” Benar adanya. Belum lagi kubalas sapaan basa-basinya, ia telah bicara tanpa putus. Topiknya beragam. Tapi semuanya punya sangkut paut dengan dirinya, berupa perihal-perihal yang menjadi beban pikirannya.

Continue reading “Pendengar yang Baik Adalah yang Pasang Tarif”

Bersin, Tisu, Cinta yang Buyar Karenanya

MALAM BISU. Yang bersuara adalah kipas angin, nyamuk, jangkrik, cicak sesekali, dahan pohon jambu yang menggesek seng atap rumah ketika di terpa angin, juga suara bersin-bersinmu sejak setengah jam lalu. Tadinya kau menggunakan tisu untuk mengelap ingus dan liur oleh sebab bersin-bersin itu, tapi kini kau beralih pada lengan baju. Kendati terang betul perbedaan mengelap ingus dengan tisu dan lengan baju, terutama terletak pada kelembutannya ketika kena kulit lubang hidung.

Continue reading “Bersin, Tisu, Cinta yang Buyar Karenanya”

Kodok di Toilet

BARUSAN AKU ke kamar mandi sekaligus kamar buang hajat—kecil atawa besar. Aku kencing dengan khidmatnya. Menikmati sensasi pelepasan yang begitu melegakan setelah di jalan pulang sebelum sampai rumah, selangkanganku mesti terkepit-kepit sedemikian rupa. Pendengaranku fokus tertuju pada suara kucuran air seni yang kini membuih di lubang kloset. Saat hendak membilas, seekor kodok nyelonong dari mulut pipa pembuangan air yang letaknya di sudut, berjarak sedepa dari dudukan kloset. Aku batal menciduk air dalam bak saat itu juga. Fokus mataku langsung mengarah padanya, yang kini mendongakkan kepalanya. Balik menatapku dengan tenangnya.

Continue reading “Kodok di Toilet”

Parijo Ronokuromo Diculik

PEKAN KEDUA bulan Agustus 1995. Tak diingatnya lagi tepatnya tanggal berapa. Parijo Ronokuromo mendapati dirinya terbangun di pinggir jalan lingkar Kota Yogya dalam keadaan telanjang. Bulat. Jangankan seutas benang masih menyemat di tubuh kerempengnya. Rambut kepalanya pun sudah tak ada. Botak. Tak hanya itu, bulu-bulu penting di organ luar tubuhnya juga plontos semua. Alisnya hilang. Bulu mata juga. Yang masih tetap seperti sedia kala adalah bebuluan di selangkangannya. Keriting, tumbuh serampangan persis seperti belukar di tanah kosong yang tak kena hirau pemiliknya selama bertahun-tahun.

Continue reading “Parijo Ronokuromo Diculik”

Pulang: Sebuah Prosesi

IA PAMIT dengan sekali tarikan nafas. Melangkah ke sebalik pintu tanpa menoleh ke belakang lagi. Begitu pun ketika ia sudah berada di pintu pagar halaman rumah. Rumah yang ditinggalkannya sepi kini. Sepi dengan segenap ratap dan isak tangis anak-anaknya, istrinya, dan kerabat lain yang sempat hadir pada detik-detik terakhir ia pamit.

Ia membuka gerendel pintu pagar dengan sangat perlahan. Inilah saatnya ia menikmati untuk terakhir kalinya satu barang remeh temeh yang pernah dimilikinya. Gerendel besi yang sudah berkarat. Yang dibelinya enam atau tujuh tahun lalu di toko bangunan milik A Kiong, seorang Konghucu yang bisa menghafal Al-Fatihah dan bacaan-bacaan dalam rukun khutbah. Dengan sentuhan tangannya yang dingin pucat pada gerendel besi itu, ia terkenang pengakuan A Kiong suatu waktu. “Rumahku bersebelahan dengan masjid. Dan aku tidak tuli.”

Continue reading “Pulang: Sebuah Prosesi”

Menjadi Pahlawan Bagi Seekor Biawak Malang

ADA BIAWAK dalam kepalaku. Seekor saja. Datang entah dari mana, tahu-tahu sudah ada begitu saja. Meringkuk dalam batok kepala. Sesekali melata, menjelajahi rimba otak yang basah, penuh lendir. Ketika ia melata, saraf-saraf di kepalaku menegang. Aku pusing bukan kepayang.

Hari pertama ia ada, aku membiarkannya, tak menggubris sama sekali. Sebab kupikir, biawak itu hanyalah halusinasi belaka. Apa lagi setelah kuingat-ingat, aku memang pernah melihat biawak beberapa kali melintas di belakang rumah. Tapi kemudian, apa yang kuanggap halusinasi ternyata salah besar. Biawak itu adalah senyata-nyatanya biawak yang hidup di rawa-rawa daerah pesisir atau di semak belukar sebuah tanah kosong sekitar pemukiman warga. Dan aku benar-benar menyadari keberadaannya ketika ia pertama kali keluar dari ringkukannya.

Continue reading “Menjadi Pahlawan Bagi Seekor Biawak Malang”

Unfinished Biography: Di Bawah Kibaran Kain Sarung Nyi Miriam

SETELAH BERBASA-BASI perihal kedatanganku menemuinya langsung di tempat tinggalnya ini, Nyi Miriam menyilahkanku masuk ke rumahnya. Ajakan yang membawaku harus menaiki tujuh anak tangga. Ajakan yang membuatku terperanjat pucat pada anak tangga ketiga, ketika dengan tak sengaja aku mendongakkan kepala. Nyi Miriam, lazimnya tuan rumah, naik terlebih dahulu dan tepat ketika aku menengadah ia telah berada di anak tangga ke enam, saat yang sama ketika angin petang dari hamparan sawah mengibarkan kain sarungnya.

Itu kibaran hebat hingga menampakkan semesta isinya. Semesta isinya yang samar, remang-remang, tapi dengan serta merta membuatku kembali merasa mual untuk kedua kalinya sejak dekapan itu, oleh sebab: dalam dongakan kepala penuh ketidaksengajaan itu, aku menemukan pangkal paha nenek tua ini tidak terbungkus oleh apa pun jenis kain yang serupa dalaman. Apakah itu kancut, cawat, atau kantong air seni sekaligus tahi khusus jompo yang oleh orang-orang sekarang menyebutnya pampers.

Continue reading “Unfinished Biography: Di Bawah Kibaran Kain Sarung Nyi Miriam”

Unfinished Biography: Tentang Nyi Miriam, Sekilasnya Saja

NYI MIRIAM telah tua. Sudah nenek-nenek. Umurnya tak tercatat dalam dokumen apa pun. Posturnya tinggi. Apa yang sangat mungkin telah membengkokkan tulang punggungnya adalah jumlah usianya. Ketika berdiri ia hampir menyerupai seorang muallaf yang sedang belajar ruku’ pada kali pertama. Matanya awan mendung. Tapi sorotnya masih setajam matahari pagi pada bulan Maret yang kering. Begitu pun dengan rambutnya. Sanggulannya dibelit pada sebatang tusuk konde dari cangkang kura-kura, adalah jenis rambut yang dipunyai kebanyakan orang-orang yang kelebihan umur.

Continue reading “Unfinished Biography: Tentang Nyi Miriam, Sekilasnya Saja”

Menjadi Ayah Sebaik Pak Beye

“JIKA INGIN jadi orang tua yang baik bagi anak-anaknya. Contohlah perilaku Pak Beye. Mantan presiden kita itu. Jangankan masih kanak-kanak, sudah dewasa pun AHY ditimang-timang dengan penuh kasih sayang.”

Itulah ungkapan yang kudengar dari seorang bapak-bapak ketika ngopi di kedai langganan petang tadi. Penampilannya parlente. Dia bicara dengan seorang temannya yang tak kalah parlente, dan dari apa yang dibicarakan, bisa kutaksir keduanya tak pernah ketinggalan berita dalam dan luar negeri, dalam dan luar provinsi, terutama berita-berita politik.

Continue reading “Menjadi Ayah Sebaik Pak Beye”