Parijo Ronokuromo Diculik

PEKAN KEDUA bulan Agustus 1995. Tak diingatnya lagi tepatnya tanggal berapa. Parijo Ronokuromo mendapati dirinya terbangun di pinggir jalan lingkar Kota Yogya dalam keadaan telanjang. Bulat. Jangankan seutas benang masih menyemat di tubuh kerempengnya. Rambut kepalanya pun sudah tak ada. Botak. Tak hanya itu, bulu-bulu penting di organ luar tubuhnya juga plontos semua. Alisnya hilang. Bulu mata juga. Yang masih tetap seperti sedia kala adalah bebuluan di selangkangannya. Keriting, tumbuh serampangan persis seperti belukar di tanah kosong yang tak kena hirau pemiliknya selama bertahun-tahun.

Continue reading “Parijo Ronokuromo Diculik”

Pulang: Sebuah Prosesi

IA PAMIT dengan sekali tarikan nafas. Melangkah ke sebalik pintu tanpa menoleh ke belakang lagi. Begitu pun ketika ia sudah berada di pintu pagar halaman rumah. Rumah yang ditinggalkannya sepi kini. Sepi dengan segenap ratap dan isak tangis anak-anaknya, istrinya, dan kerabat lain yang sempat hadir pada detik-detik terakhir ia pamit.

Ia membuka gerendel pintu pagar dengan sangat perlahan. Inilah saatnya ia menikmati untuk terakhir kalinya satu barang remeh temeh yang pernah dimilikinya. Gerendel besi yang sudah berkarat. Yang dibelinya enam atau tujuh tahun lalu di toko bangunan milik A Kiong, seorang Konghucu yang bisa menghafal Al-Fatihah dan bacaan-bacaan dalam rukun khutbah. Dengan sentuhan tangannya yang dingin pucat pada gerendel besi itu, ia terkenang pengakuan A Kiong suatu waktu. “Rumahku bersebelahan dengan masjid. Dan aku tidak tuli.”

Continue reading “Pulang: Sebuah Prosesi”

Menjadi Pahlawan Bagi Seekor Biawak Malang

ADA BIAWAK dalam kepalaku. Seekor saja. Datang entah dari mana, tahu-tahu sudah ada begitu saja. Meringkuk dalam batok kepala. Sesekali melata, menjelajahi rimba otak yang basah, penuh lendir. Ketika ia melata, saraf-saraf di kepalaku menegang. Aku pusing bukan kepayang.

Hari pertama ia ada, aku membiarkannya, tak menggubris sama sekali. Sebab kupikir, biawak itu hanyalah halusinasi belaka. Apa lagi setelah kuingat-ingat, aku memang pernah melihat biawak beberapa kali melintas di belakang rumah. Tapi kemudian, apa yang kuanggap halusinasi ternyata salah besar. Biawak itu adalah senyata-nyatanya biawak yang hidup di rawa-rawa daerah pesisir atau di semak belukar sebuah tanah kosong sekitar pemukiman warga. Dan aku benar-benar menyadari keberadaannya ketika ia pertama kali keluar dari ringkukannya.

Continue reading “Menjadi Pahlawan Bagi Seekor Biawak Malang”

Unfinished Biography: Di Bawah Kibaran Kain Sarung Nyi Miriam

SETELAH BERBASA-BASI perihal kedatanganku menemuinya langsung di tempat tinggalnya ini, Nyi Miriam menyilahkanku masuk ke rumahnya. Ajakan yang membawaku harus menaiki tujuh anak tangga. Ajakan yang membuatku terperanjat pucat pada anak tangga ketiga, ketika dengan tak sengaja aku mendongakkan kepala. Nyi Miriam, lazimnya tuan rumah, naik terlebih dahulu dan tepat ketika aku menengadah ia telah berada di anak tangga ke enam, saat yang sama ketika angin petang dari hamparan sawah mengibarkan kain sarungnya.

Itu kibaran hebat hingga menampakkan semesta isinya. Semesta isinya yang samar, remang-remang, tapi dengan serta merta membuatku kembali merasa mual untuk kedua kalinya sejak dekapan itu, oleh sebab: dalam dongakan kepala penuh ketidaksengajaan itu, aku menemukan pangkal paha nenek tua ini tidak terbungkus oleh apa pun jenis kain yang serupa dalaman. Apakah itu kancut, cawat, atau kantong air seni sekaligus tahi khusus jompo yang oleh orang-orang sekarang menyebutnya pampers.

Continue reading “Unfinished Biography: Di Bawah Kibaran Kain Sarung Nyi Miriam”

Unfinished Biography: Tentang Nyi Miriam, Sekilasnya Saja

NYI MIRIAM telah tua. Sudah nenek-nenek. Umurnya tak tercatat dalam dokumen apa pun. Posturnya tinggi. Apa yang sangat mungkin telah membengkokkan tulang punggungnya adalah jumlah usianya. Ketika berdiri ia hampir menyerupai seorang muallaf yang sedang belajar ruku’ pada kali pertama. Matanya awan mendung. Tapi sorotnya masih setajam matahari pagi pada bulan Maret yang kering. Begitu pun dengan rambutnya. Sanggulannya dibelit pada sebatang tusuk konde dari cangkang kura-kura, adalah jenis rambut yang dipunyai kebanyakan orang-orang yang kelebihan umur.

Continue reading “Unfinished Biography: Tentang Nyi Miriam, Sekilasnya Saja”

Menjadi Ayah Sebaik Pak Beye

“JIKA INGIN jadi orang tua yang baik bagi anak-anaknya. Contohlah perilaku Pak Beye. Mantan presiden kita itu. Jangankan masih kanak-kanak, sudah dewasa pun AHY ditimang-timang dengan penuh kasih sayang.”

Itulah ungkapan yang kudengar dari seorang bapak-bapak ketika ngopi di kedai langganan petang tadi. Penampilannya parlente. Dia bicara dengan seorang temannya yang tak kalah parlente, dan dari apa yang dibicarakan, bisa kutaksir keduanya tak pernah ketinggalan berita dalam dan luar negeri, dalam dan luar provinsi, terutama berita-berita politik.

Continue reading “Menjadi Ayah Sebaik Pak Beye”

Dilema Ma Kurap

MA KURAP insomnia. Sudah sebulanan ini ia mengalaminya, dan ia hanya bisa menghabiskan malam-malam yang terasa begitu panjang dengan menatap loteng kamar dari pembaringannya. Sesekali ia menguap, mencoba memejamkan mata karenanya. Tapi itu sama sekali tak membuatnya lelap. Kecuali semakin matanya terpejam kian bebas pula khayalannya melayang kemana-mana. Saat khayalannya bergentayangan inilah Ma Kurap mendapati rasa kantuknya lenyap tak berjejak.

Continue reading “Dilema Ma Kurap”

Tengah Malam: Sketsa Tiga Kepala

MALAM MERAMBAT. Pelan, penuh khidmat. Buso Dhoe duduk di teras belakang rumah. Di temani secangkir kopi, nyamuk, obat nyamuk, rokok, dan roti Khong Guan. Bohlam lima watt menampilkan cahayanya yang temaram. Tapi cukup mengalahkan cahaya bintang nun jauh di langit. Udara gerah. Angin bulan Juli berhembus seenak udelnya, kadang berhembus keras hingga menyerupai badai, kadang tidak sama sekali. Dan malam ini tak ada angin, kecuali yang keluar dari pantat Buso Dhoe sedari tadi.

Continue reading “Tengah Malam: Sketsa Tiga Kepala”