Tentang Geulaseue

GEULASEUE. Pernah dengar? Ini kata bahasa Aceh yang sampai paragraf pertama ini aku agak bingung artinya dalam bahasa Indonesia. Telah kutanya pada beberapa orang yang kuanggap punya otak kamus, tapi mereka menggeleng. Bahkan seorang Diyus sekalipun berkali-kali mengernyitkan jidatnya ketika kutanya arti kata geulaseue dalam bahasa Indonesia.  Setelah beberapa kernyit, setelah dikata ia belum pernah dengar kata tersebut, ia tanya apa itu geulaseue? Kujawab, geulaseue adalah lukuep yang maha banyak.

Continue reading “Tentang Geulaseue”

Belajar Menulis dengan Deskripsi Anatomi

MEMPERKAYA DETIL dalam tulisan, kau hendaknya latihan menulis deskripsi anatomi tubuh seseorang. Begitu petuah kiat-kiat menulis yang pernah kudengar dulu. Jika kau seorang laki-laki, yang layak kau deskripsikan adalah tubuh perempuan, jika tak ingin kau dicurigai macam-macam. Atau kalau kau punya daun telinga cukup tebal dengan gosip yang tak jelas, tak mengapa pula jika objek tubuh yang hendak kau deskripsi itu tubuh sesama jenis. Urusan belakangan jangan ambil soal dulu. Yang penting latihan menulis. Yang penting bisa menulis detil.

Untuk mendeskripsikan kecantikan seorang perempuan, barangkali kau bisa mengandaikan organ-organ wajah yang dia punya dengan berbagai pengandaian. Pengandaian dalam hal ini menjadi penting untuk memudahkan pembaca membayangkan bagaimana cantiknya si perempuan yang kau maksud. Ambil contoh, untuk mendeskripsikan bagaimana sempurnanya lengkung alis seorang perempuan. Kau bisa menulis, lengkung sepasang alisnya adalah pedang damaskus. Bangir hidungnya bagaikan ini atau itu. Atau jika tak ada kata-kata yang cocok dalam pengandaian itu, kenapa tidak kau setarakan ia dengan hidungnya orang-orang terkenal, katakanlah Raline Shah atau Sahila Hisyam atau perpaduan keduanya.

Kemudian mata. Mata adalah organ yang paling mudah untuk diekploitasi dalam hal memperkaya detil. Barangkali kau bisa memulainya dengan mendeskripsikan warna pupil mata, apakah segelap langit malam tanpa bintang, atau sewarna coklat yang melumer, dan lain sebagainya. Binarnya matanya juga jangan luput dari deskripsi itu. Begitu pun cara kerja kelopaknya, pula bulunya, cara ia mengerling, dan seterusnya. Perkara mata selesai, coba lanjut lagi dengan pipi. Apakah tembem dan ranum serupa apom seurabi. Atau menyerupai apa saja yang jika kau sepadankan bisa memudahkan pembaca membayangkan.

Turun dari pipi kau boleh meraba bibirnya. Kekayaan kontur bibir mestilah ditulis sedemikian rupa, jangan dilewatkan begitu saja. Biasanya organ yang satu ini punya keterhubungan dengan senyuman, tertawa, bentuk mulut. Tak berdosalah jika kau menggambarkan keseluruhannya dalam satu deskripsi sekaligus. Ambil contoh. Perempuan itu berbibir tipis, dengan garis bukaan antara yang atas dan bawah sedikit memanjang. Hingga ketika tertawa mulutnya akan terbuka lebar, menganga, sampai-sampai kau membayangkan abah kuala (mulut muara) telah berpindah ke wajahnya.

Yang biasa kena sorot dalam penggambaran gigi yang dipunyai seorang perempuan adalah kerapiannya. Jika ada sebiji gingsul, gingsul itu akan masuk dalam sorotan utama. Tapi tak banyak yang menggambarkan kedetilan akan plak yang dipunyai, tahinya, atau tentang kawat gigi yang dipasang secara serampangan. Yang membuatnya melulu mengatup mulut dengan tangannya ketika tertawa.

Di samping organ-organ utama dari wajahnya itu, detil lain yang mestinya perlu dideskripsikan adalah anak rambutnya, bentuk dahinya, tirus dagunya, atau jika ada sebiji dua biji panu di bawah tulang rahangnya, ya kenapa tidak kau jujur saja. Dalam hal ini jujur lebih penting ketimbang caramu mempertahankan kecantikan si objek. Kau tak perlu menyembunyikan panu itu, apalagi jika ianya jelas-jelas tampak dari jarak pandang yang dipisahkan meja kopi, tempat kau mengamatinya sedari tadi. Katakanlah begitu.

Selebihnya apa? Tidak ada. Tapi tunggu apa lagi. Mari menulis saja. Deskripsikkan siapa saja yang kira-kira pantas dan cocok dan sesuai dengan cara kerja khayalanmu. Atau jika tak ada siapa-siapa, kenapa tidak kau mencobanya pada si perempuan yang mendatangi tidur malammu. Perempuan yang berkali-kali telah membuatmu kebasahan ketika bangun pagi. Yang ketika mandi junub, kau menyesalinya dengan gumaman, “Kapankah mimpi itu jadi nyata?”

Beechung, Sarjana yang Enggan Pulang Kampung

BEECHUNG SEORANG sarjana lulusan fakultas ilmu sosial. Sejak selesai kuliah ia memilih tinggal di kota, enggan pulang kampung. Ilmu yang didapatnya di bangku kuliah memang agak susah diaplikasikan dengan kehidupan kampung. Konon lagi jika menyangkutpautkan ilmu yang didapatnya dengan bahasa sehari-hari orang-orang di kampung. Pelik betul. Itu sebabnya ia memilih tinggal di kota, pulang ke kampung halaman setahun sekali, pas hari raya, itu pun tak pernah lama.

Continue reading “Beechung, Sarjana yang Enggan Pulang Kampung”

Petang di Bivak Emperom

BIVAK EMPEROM akan memulai denyutnya setelah tengah hari. Dari subuh ke pagi, tempat ini tertidur dengan pulasnya, tanpa ada satu pun kuasa kebisingan atau kegemparan bisa membuatnya terbangun seketika. Petang hari adalah waktu di mana Bivak Emperom berdenyut dengan sempurna. Orang-orang beraktivitas layaknya aktivitas pegawai negeri setelah upacara senin pagi. Titik jedanya pas azan maghrib. Lantas denyut itu berlanjut lagi hingga tengah malam, tak jarang sampai ke dini hari.

Continue reading “Petang di Bivak Emperom”

Tiga Lagu Aceh Dalam Album Musik Etnik Dunia

SEKIRA DUA tahun setelah bencana maha dahsyat Smong 26 Desember 2004 melanda Aceh, dan beberapa negara lainnya. EarthSync, satu label rekaman sekaligus produser konten audio dan visual, asal Chennai, India Selatan melakukan satu proyek musik. Yaitu penggarapan musik etnik lintas negara. Meliputi negara-negara yang dihantam bencana Smong, seperti Sri Lanka, Maldives, India, dan Indonesia. Laya Project. Begitu nama proyek tersebut, yang kemudian dijadikan pula sebagai nama album bagi keseluruhan musik yang digarap.

Continue reading “Tiga Lagu Aceh Dalam Album Musik Etnik Dunia”

5W 1H & Kebingungan Bikin Berita Bernarasumber Politikus Bebal

SEWAKTU JADI juru kabar di salah satu media online-tak online Aceh yang sekarang sudah tak tahu kemana oleh sebab keambisiusan pemiliknya. Menulis berita adalah tuntutan jika tak ingin disebut kewajiban. Berbekal surat magang—dari pertama masuk dan hingga keluar, entah kenapa aku tak punya sebiji pun kartu pers—aku belajar sekaligus berlatih menulis setiap hari. Menulis berita tentu saja. Mulai dari berita harga emas, kecelakaan lalu lintas, bencana alam, harga cabai, kekerasan terhadap anak, sampai berita politik yang notabene narasumbernya suka beri pernyataan tak sesuai konteks pertanyaan yang kuajukan.

Untuk ukuran menulis berita, terutama jenis berita langsung (straight news), boleh dikata gampang-gampang susah. Gampang jika berita dimaksud cuma sebatas laporan harga-harga atau kejadian-kejadian tertentu. Formula 5W 1H (what, who, when, where, why, dan how) dengan mudah diaplikasikan.

Continue reading “5W 1H & Kebingungan Bikin Berita Bernarasumber Politikus Bebal”

Betapa Suntuknya Orang Aceh

Selain bioskop, tempat rekreasi hampir sama nihilnya, misalnya kebun binatang. ~ Tirto.id


BERSEBAB STANDAR orang-orang yang baru datang dari Jakarta dalam hal tempat cari hiburan adalah segala bentuk tempat berbayar. Mahal-mahal. Semisal bioskop. Kebun binatang. Starbuck. Tempat karaoke. Maka betapa kasihan orang-orang kita di Aceh. Kita sama sekali tak punya tempat berstandar seperti itu. Kepingin nonton film kita cuma bisa melototin layar laptop dengan nonton streaming di indoxxi dot com. Itu pun mesti nunggu yang versi bluray dulu.

Continue reading “Betapa Suntuknya Orang Aceh”

Narasi Kota Kita: Ulee Lheue Satu Petang, Mural Tauris Mustafa Berjudul Ibadah Ikan

INI HARI senja tak turun di Ulee Lheue. Padahal sore sudah hendak menyatu dengan maghrib. Ada mendung menggantung. Seantero langit kelabu. Matahari terpacak di atas Pulau Bunta. Kecil nyalanya. Seperti cahaya bohlam kekurangan daya listrik. Ada mendung yang membuatnya sesemaput orang tua uzur. Dan Ulee Lheue menampilkan diri dalam kesenduan seorang istri menanti suaminya pulang. Setelah berbulan-bulan dijemput paksa para tentara pergi entah kemana. Sesendu perempuan dalam lirik lagu Pikee dalam album Bantayan. Inong tahee ji duek bak pinto. Agam baro hana meuho ka. Baluem kasoh boco bak tageue. Aneuk ka glue lagee bacee lam paya.

Continue reading “Narasi Kota Kita: Ulee Lheue Satu Petang, Mural Tauris Mustafa Berjudul Ibadah Ikan”

Sunyi Pecah di Bivak Emperom

TENGAH MALAM di Bivak Emperom. Markas Komunitas Kanot Bu. Di ruang bawah. Ruang yang kerap berganti nama sesuai kegiatan yang tengah berlaku di Kanot Bu. Sesekali diberi nama Bilik Roepa PaskaDOM. Tapi ketika berlangsung beberapa kelas namanya berubah jadi Ruang Studi Jama’ah. Begitulah, aku di sini malam ini. Memelototi layar laptop sejak dua jam tadi. Ditemani @sangdiyus yang juga melakukan hal sama. Menulis entah apa.

Tadinya, ihwal aku memelototi layar laptop hendak menulis satu artikel apresiasi. Tentang kegiatan seni rupa. Tapi sedari tadi baru selesai satu paragraf belaka. Mentok sejak satu jam lewat. Oleh sebab kekurangan data, terutama tema kegiatannya. Acara seni rupa kumaksud itu sudah berlangsung dalam dua tiga hari ini. Tempatnya di Taman Budaya. Masuk dalam rangkaian besar perhelatan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) 7. Namun dilihat dari para perupa yang berkumpul, medium yang dipakai, dan rupa-rupa objek yang mereka gambar, boleh dikata, kegiatan tersebut merupakan satu pesta mural paling akbar yang pernah ada di Banda Aceh.

Continue reading “Sunyi Pecah di Bivak Emperom”

Narasi Kota Kita: Di Lampu Merah Jalan Sudirman

AKU KELUAR rumah tepat ketika azan Isya menggema di langit Banda Aceh. Aku keluar rumah hendak ke kedai kopi langganan. Rutenya melewati tiga kelokan lorong kampung, tembus jalan besar. Berhenti di lampu merah di satu perempatan. Ambil lurus. Lalu tanpa perlu tancap gas aku menghidupkan lampu tanda kanan untuk kemudian balik arah. Masih dengan laju santai, sepeda motor tinggal kuarahkan ke kiri, karena diseberang aku berbelok arah itulah letak kedai kopi itu.

Continue reading “Narasi Kota Kita: Di Lampu Merah Jalan Sudirman”