Sunyi Pecah di Bivak Emperom

TENGAH MALAM di Bivak Emperom. Markas Komunitas Kanot Bu. Di ruang bawah. Ruang yang kerap berganti nama sesuai kegiatan yang tengah berlaku di Kanot Bu. Sesekali diberi nama Bilik Roepa PaskaDOM. Tapi ketika berlangsung beberapa kelas namanya berubah jadi Ruang Studi Jama’ah. Begitulah, aku di sini malam ini. Memelototi layar laptop sejak dua jam tadi. Ditemani @sangdiyus yang juga melakukan hal sama. Menulis entah apa.

Tadinya, ihwal aku memelototi layar laptop hendak menulis satu artikel apresiasi. Tentang kegiatan seni rupa. Tapi sedari tadi baru selesai satu paragraf belaka. Mentok sejak satu jam lewat. Oleh sebab kekurangan data, terutama tema kegiatannya. Acara seni rupa kumaksud itu sudah berlangsung dalam dua tiga hari ini. Tempatnya di Taman Budaya. Masuk dalam rangkaian besar perhelatan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) 7. Namun dilihat dari para perupa yang berkumpul, medium yang dipakai, dan rupa-rupa objek yang mereka gambar, boleh dikata, kegiatan tersebut merupakan satu pesta mural paling akbar yang pernah ada di Banda Aceh.

Seperti kukata tadi. Artikel itu mentok sudah. Baiknya tak kupaksa lanjut malam ini. Aku tinggalkan dulu sementara waktu di kotak rancangan. Mungkin esok, atau bisa jadi lusa kulanjutkan lagi. Sekarang biarlah kutulis perihal tengah malam di Bivak Emperom. Malam yang sunyi oleh sebab siamang di kerangkeng Kantor BKSDA sudah lelap. Malam yang sunyi tapi jadi tak seberapa sunyi lagi ketika suara mainboard laptop @sangdiyus mulai mengudara dan menyentuh gendang telinga. Bunyi yang jika kau simak dengan seksama nyaris menyerupai suara genset raksasa milik Kantor PLN di Luengbata.

Bersamaan dengan suara mainboard laptop Diyus, jangkrik pun unjuk gigi. Lalu mesin pompa air. Selebihnya adalah suara tembakan para maniak game PUBG. Lantas kesunyian yang ada lenyap sudah. Tak mau kalah, aku pun menghidupkan lelagu dari platform youtube. Lagu pertama adalah instrumentalia berjudul Prelude and Nostalgia. Kau boleh mendengar dan melihat videonya di bawah ini.

Entah apa sebab. Aku selalu ingin melengkapi kesunyian yang kudapat di suatu tempat dengan lagu satu ini. Tapi yang pasti lengkingan biola milik salah satu pemain dalam pertunjukan di video itu (aku tak tahu namanya) benar-benar menyayat hati. Menggugah nalar. Lagi pun menalar alunan suaranya seperti mengantarkan ingatan pada sesuatu yang tak bernalar. Tak bisa dilogikakan dengan kata-kata. Kecuali pesan-pesan penuh murung akan menemukan titik jedanya tepat ketika piano berdenting.

Selagi kuhidupkan lagu ini, jangkrik belum berhenti bernyanyi. Diyus sudah tak mengetik lagi. Namun laptopnya masih mengeluarkan suara seperti semula. Kayaknya tak akan berhenti sampai pagi. Aku tak ingin kepagian di sini. Lekas pulang ke rumah saja setelah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *