Seterkutuknya Seorang Polisi yang Menggampar Perempuan dan Anak Kecil

PEKAN INI wajah kepolisian coreng oleh sebab ulah konyol penuh celaka AKBP M. Yusuf di Bangka Belitung. Sebagaimana video viral yang beredar di laman media sosial, tindakannya menendang seorang perempuan sekaligus menggampar seorang anak kecil, adalah satu tindakan yang hanya mungkin dilakukan oleh penjahat udik maha celaka.

Ketika tindakan seperti itu dilakukan oleh seseorang berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi, konon lagi sasarannya perempuan dan anak kecil, sudah barang tentu harus direspon dengan seketerkutuknya kata terkutuk. Sudah semestinya Tito Karnavian bertindak lebih kalap lagi darinya, dan pemutasian jabatan terasa masih belum cukup. 

Jenis polisi semodel AKBP M. Yusuf lah yang membuat orang-orang kecil di Indonesia masih merasa belum nyaman hidup di negerinya sendiri. Yang ketika sesuatu kesalahan kadung dilakukan, berurusan dengan polisi adalah sumber malapetaka, alih-alih mendapat keadilan dari padanya.

Jika ditelisik lebih jauh, sungguh, polisi-polisi seterkutuk macam AKBP M. Yusuf itu masih ada di belahan kampung seantero Indonesia. Di Aceh masih banyak juga, dengan model-model kebiadaban atas penyalahgunaan kuasanya sebagai penindak hukum lebih beragam lagi. Tapi kebiadaban M. Yusuf memanglah kebiadaban kasat mata, dan berterima kasihlah kita dengan keberadaan telpon genggam pintar yang dipegang hampir semua orang sehingga yang begituan dapat disaksikan dan menjadi alat bukti.

Mengatakan, semestinya polisi adalah yang mengayomi rakyat dengan merujuk kasus M. Yusuf buduk itu, terasa sangat klise adanya. Konon lagi mengatakan, hendaknya kepolisian mestilah dihuni oleh figur-figur jujur, di tengah sengkarut kebohongan yang juga dilakukan banyak orang di jajaran pemerintahan, pula sama klisenya seperti yang pertama.

Yang tersisa di pikiran dan harapan orang-orang kecil mungkin sebatas adanya polisi yang tahu belas kasih. Meski di sana-sini ujug-ujugnya minta pamrih.

Tapi apa hendak dikata, carut marut kekuasaan di negeri kita kerap digunakan sebagai modal untuk bertindak semena-mena. Dan celakanya, kebanyakan orang-orang berkuasa di negeri kita, polisi salah satunya, hanya berani semena-mena dengan orang-orang kecil belaka. Keder dengan para tengkulak, main mata dengan mafia, dan kerap bertindak sebagai anjing penjaga para pencuri uang negara.

Maka inilah wajah negeri kita. Orang-orang kecil terhimpit di antara banyak kuasa. Kekerasan menghantui. Kekerasan fisik, tak fisik, pula bentuk-bentuk kekerasan laten lainnya. Hingga dari tahun ke tahun kita berhadapan dengan kisah-kisah pilu. Seperti seorang nenek yang dipenjara bertahun-tahun hanya karena kedapatan mencuri ubi milik orang-orang kaya. Sementara pencuri uang negara mendapat remisi setelah dengan santai berpelesir sana sini meski masih berstatus nara pidana.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *