Semua Orang Bisa Menulis

ADA BANYAK hal yang ingin kuceritakan. Tapi hampir semuanya sukar kutulis oleh sebab keahlian menulisku yang masih cetek belaka. Kerap aku dikepung oleh perasaan iri ketika membaca tulisan orang lain. Khususnya tulisan-tulisan sebentuk esai dan prosa, yang dengan mudah menyampaikan sesuatu gagasan dalam kalimat-kalimat yang gampang dicerna. Ingin sekali aku bisa menulis seperti itu, tapi keinginan kerap berujung pada keinginan saja dan aku masih belum bisa menulis apa-apa.

Pernah kudengar kata seorang begawan sastra dalam sebuah forum, bahwa setiap orang bisa menulis selama ia bisa membaca. Membaca, dalam hal ini, menurut si begawan itu adalah perihal yang sangat-sangat penting. Saking pentingnya, ia memposisikan pekerjaan membaca sama dengan makan sehari-hari. Ketika ia menyebutkan seperti itu, salah seorang yang mendengarnya menimpali, “Kalau begitu, betapa sayangnya orang-orang buta huruf.”

Si begawan sastra itu terdiam sejenak. Dan tanpa terlalu lama berpikir ia menanggapi pernyataan tadi. “Benarkah ada orang buta huruf? Jika ada, hal yang perlu ditanyakan lebih lanjut adalah buta huruf apa? Asal kita tahu saja, ada banyak sekali huruf di dunia. Dengan menyebutkan jenis huruf yang lebih spesifik, fakta adanya orang-orang buta huruf sungguh tak dapat ditolak. Sebagaimana kita tak dapat menolak bahwa orang yang membuat pernyataan barusan adalah seorang buta huruf kanji, buta huruf lontara, juga buta huruf pallawa, hanya gara-gara terlahir di tengah-tengah huruf arab djawi dan latin.”

Jawaban yang diberikan oleh si begawan sastra itu membuat diskusi dalam forum berjalan alot. Si penanggap pertama merasa belum puas dan menanggapi balik dengan argumen-argumen campur aduk hingga belasan menit sesudahnya diskusi melebar ke topik lain, khususnya menyangkut program pemberantasan buta huruf milik pemerintah. Aku merasa tak punya kepentingan menyimaknya secara detil. Kepentinganku datang ke forum ini cuma satu, hendak belajar menulis. Apa lagi ini forum gratis.

Latihan menulis sama pentingnya dengan membaca. Setidaknya itu yang kutangkap dari penjelasan sastrawan itu pada sesi lanjutan. Jika membaca diumpamakan dengan makan. Maka yang diibaratkan dengan minum adalah menulis itu sendiri. Jelas adanya makan dan minum itu kesatuan yang tak bisa dipisahkan, sebagaimana para penulis tidak bisa memisahkan laku baca-tulis dalam kesehariannya.

Mendengar penjelasan berdasarkan perumpamaan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, bikin pikiranku lebih tercerahkan. Jika pun ada yang membuatnya jadi sedikit agak kusam atau remang-remang. Itu tak lain berasal dari tanggapan si penanggap buta huruf tadi, yang kini lagi-lagi menunjuk tangan mohon diberi waktu menanggapi untuk kali kedua. 

Moderator menyilahkannya. Ia pegang mic lagi. Sastrawan yang diundang sebagai pembicara menyimaknya atau pura-pura menyimaknya. Seorang peserta yang lain mengacungkan jari telunjuk ke atas sembari bangkit dari tempat duduk, pertanda ia minta izin keluar forum sejenak. Tak hanya dia seorang, tapi juga diikuti oleh tiga atau bahkan lima orang lagi setelahnya.

Dan ketika si penanggap buta huruf sampai pada pernyataan, “… mungkin perumpamaan anda tadi yang mengibaratkan membaca dan menulis sama dengan makan dan minum, sangatlah tidak cocok. Pikiran saya tidak bisa menangkap apa-apa dari perumpamaan seklise itu, … Demikian,” kusaksikan sastrawan yang duduk di depan menga-nga. Moderator mengernyitkan dahi. Seorang peserta perempuan yang duduk di depanku bergumam sendiri, “Itu orang bego atau apa ya. Tanggapannya maksa banget.” 

Mendengar apa yang dikata perempuan itu, aku pun beranjak. Pulang. Sesampai di pintu keluar aku menyadari dan sedikit lebih paham kini: semua bisa menulis. Tapi tak semua bisa membaca. Membaca keadaan lebih tepatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *