Semangkuk Sup Panas Grong-grong dan Bualan Diyus Tentang Tiga Belahan Jeruk Nipis

SEMANGKUK SUP panas di Grong-grong telah menjadikan polemik sepanjang perjalanan kami. Itu bermula ketika kami berangkat pada malam buta yang hendak gerhana dari Banda Aceh menuju Cunda, Lhokseumawe. Kami, empat belas orang dalam rombongan ini, terbagi dalam dua mobil, hendak berkunjung ke rumah @pieasant, di mana ibunya meninggal dunia beberapa hari sebelumnya.

Aku semobil dengan Diyus Hanafi, Muhajir Abdul Aziz, Opong, Fauzan, dan Andre Zahrul Fuadi. Adalah @sangdiyus yang memulai polemik itu. Ketika mobil yang kami tumpangi melesat dengan laju yang begitu menenangkan di jalan lurus Peurade, Trienggadeng, ia berkata keisi mobil. Bahwa di Grong-grong ada dijual sup terenak yang pernah disantapnya selama hidupnya. Sup yang keenakannya begitu menghanyutkan, sampai-sampai ia lupa Grong-grong itu berada di kabupaten mana.

Diyus adalah pemikir yang tidak akan membiarkan pernyataannya keluar begitu saja dengan kata-kata klise. Ketika hendak mengabarkan sesuatu, ia akan serta merta mengungkapkannya dengan kalimat yang disusun dari kata-kata terpilih. Lantas orang-orang yang mendengarnya akan terbelah dalam tiga kubu. Dua kubu saling berseteru. Sisanya adalah penikmat dari seteru yang tercipta.

Yang berseteru itu tidak lain adalah Diyus sendiri. Mencoba mempertahankan kebenaran kabar yang dibawanya dengan pernyataan-pernyataan penuh metafora, sastrawi, dan tak jarang ia melebih-lebihkan argumennya dengan kalimat-kalimat serupa diksi sebait puisi. Lawannya tentu saja mereka yang menganggap pernyataan Diyus sebagai bualan yang patut diapresiasi dengan olok-olok. Patut ditertawai dengan kata-kata yang hanya bisa dicerna oleh mereka yang tahu benar duduk soal bagaimana istilah sarkasme dan satire bekerja secara laten dalam memperdaya pikiran lawan bicara.

Masuk dalam kubu penikmat dari seteru yang ada, ketika mobil yang terus melaju telah mencapai Meureudu, sementara cuaca mendung pada malam yang kian jula hingga gerhana bulan terlewatkan karenanya. Adalah satu keputusan yang membuatmu harus bertindak picik, sepicik para tukang adu domba, tapi di sinilah letak tantangannya. Aku memilih jadi yang picik di sini. Berdiri pada gradasi warna hitam dan putih, abu-abu. Yang memungkinkanku harus memihak Diyus kali pertama, tapi diam-diam di waktu bersamaan harus memihak ke kubu lawannya. Itu tidak lain demi menjaga bara perseteruan terus hidup. Maka simaklah bagaimana Diyus memulai cerita semangkuk sup Grong-grong, sup terenak yang pernah dicicipnya kepada kami semua.

Pertama-tama, setelah sup tersaji di atas meja. Kau harus melewatkan dua menit pertama sekadar menghidu kepul asap yang menguar dari mangkuknya. Lalu ambillah tiga belahan jeruk nipis. Ingat, cukup tiga belahan saja. Satu belahan yang setengah bulatannya itu akan mengingatkanmu pada kontruksi pinggul Catherine Zeta Jones. Yang kedua mengingatkanmu pada bentuk pinggul Jennifer Lopez. Dan yang ketiga kau boleh mendedikasikannya kepada siapa saja yang kau suka. Mau Inul Daratista, atau siapalah, terserah saja. Jika yang kedua tadi dianggap terlalu Latin, kau boleh menggantikan kepunyaan Jennifer Lopez dengan Monica Bellucci, tapi jangan yang lain.

Teteskan ketiga air yang dikandung dalam tiga belahan jeruk nipis itu setelah kau memencet pinggulnya dengan rasa tingkat kegemasan yang sanggup kau bayangkan. Kemudian ambillah botol kecap manis atau asin, lalu bubuhi di atas sup itu kecap yang kau suka sebanyak dua kali putaran saja. Torehan cabe yang telah dihaluskan dan diletakkan dalam tempat khusus dengan sendok mini di dalamnya hendaklah disesuaikan dengan perpaduan kontruksi pinggul dari pengamsalan belahan jeruk nipis tadi. Kau tinggal mengira-ngira daya jelajah ‘kepedasan’ pikiran yang kau punya, hingga takaran cabe yang dibutuhkan bisa kau tentukan senantiasa.

Hal yang kemudian kau lakukan adalah mengaduknya dengan perlahan dan penuh khidmat. Kekhidmatan yang dipunya seorang ahli zikir dalam bermunajat, dan dalam hati lafazkan doa-doa. Atau sekira kau termasuk dalam golongan orang-orang yang enggan berdoa, boleh saja kau ucap nama-nama dari representasi jeruk nipis tadi berulang kali. Tapi cukup secara sirr saja, dan jangan sesekali terucap jahar, jika tidak ingin dianggap gila.

Selanjutnya adalah cara bagaimana kau menyantapnya. Diyus, dalam pengejawantahan kenikmatan yang dirasanya dari semangkuk sup Grong-grong yang pernah dicecapnya, melukiskan inilah saat-saat paling menentukan dari ceritanya. Bahwa kau hanya perlu menyeruput kuahnya terlebih dahulu. Seruputan yang bisa menghasilkan bunyi, slllurrppp… dengan sempurna, menggema. Bunyi seruputan yang kemudian membuatmu terpana seorang diri. Menghayati bagaimana lada, kapulaga, cengkih, kayu manis, daun salam, seledri, bawang goreng, dan pelbagai bumbu lainnya telah melahirkan suatu perpaduan yang menghangatkan tenggorokanmu, meregangkan dada, dan lagi-lagi kau dibuat terpana oleh sebab ekstase kenikmatan yang kau peroleh di seruputan pertama.

Tentu saja penggambaran yang seperti itu terlalu mengada-ada. Diyus tak lebih dianggap sebagai pembual belaka. Penggambaran yang begitu rupa dianggap hanya dipunyai oleh seseorang yang pertama sekali mendapatkan makanan tersaji di atas meja setelah berpekan-pekan kelaparan. Lebih-lebih ketika ia mengakui, tak tahu letak Grong-grong di mana, sanggahan-sanggahan lawannya membuat Diyus harus benar-benar defensif. Dan kini, ketika laju mobil telah mencapai Peudada, perseteruan dua kubu itu telah melebar pada topik-topik teologi, politik, hukum, asmara, serta topik-topik lain yang membuat suasana dalam mobil kian memanas, riuh, penuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *