Sebuah Penghormatan: Diyusilashky Hanafivov

SEJAK AKTIF menulis di steemit aku punya target yang belum juga kesampaian. Kendati telah setahun lebih aku punya akun di sini, target itu selalu kucanangkan tiap pekan akhir bulan. Tepatnya ketika menyadari jumlah tulisan yang tayang di steemit kurang dari jumlah hari dalam bulan tersebut. Jelas adanya. Target yang kumaksud itu adalah menulis setiap hari. Sebulanan penuh. Tidak bolong-bolong. Layaknya menjalankan kewajiban puasa di bulan Ramadhan.

Apa hendak dikata. Berkali-kali kucanangkan target pribadi nan mulia itu di dalam hati. Berkali-kali pula gagal adanya. Semua bulan yang terlewatkan, ada banyak hari di mana aku alpa menulis setiap bulannya. Kini September telah di depan mata. Setelah kukulik sedemikian rupa aktivitas akun steemitku. Agustus ini adalah satu bulan yang paling banyak bolongnya. Tentu saja bolong dalam hal menulis.

Sekadar pembenaran, jika tak ingin kusebut penyesalan. Ada banyak alasan kenapa target menulis setiap hari selama sebulan penuh tak pernah tercapai hingga kini. Itu selalu berhubungan dengan kegiatan offline sehari-hari. Yang kadang membuat akun steemit terabaikan begitu saja. Kadang sehari. Tapi kerap pula sampai berhari-hari. Alasan yang begini ini tentu saja di luar harapan pribadi. Yang ketika menyadari tentang hal ini, langsung terbersit dalam hati, bulan depan mesti tercapai itu target.

September di depan mata. Jika ada umur, aku akan menargetkan lagi apa yang belum pernah tercapai selama beraktivitas di steemit. Target semula. Bisa menulis sebulanan penuh. Sehari satu. Tanpa putus. Seperti yang sudah-sudah, untuk memenuhi atau memotivasi diri agar bisa menulis sesuai yang telah kusebut berulangkali itu, aku selalu mengiming-imingi diri dengan sesuatu ganjaran. Semisal, jika tercapai keinginan menulis sebulan penuh, aku akan membeli satu buku baru. Judulnya boleh kutentukan nantinya.

Bersoal bisa menulis sebulanan penuh. Terus terang aku iri dengan dengan seorang steemian. Diyusilashky Hanafivov.  Begitu nama dirinya di nomor whatsapp yang pegangnya. Ini orang, tinggal selangkah lagi akan mencapai target yang kucanang jauh-jauh hari, terutama untuk edisi Agustus ini. Setelah kugulir laman akun steemitnya. Kudapati, tak ada satu pun hari dalam bulan ini yang kosong dari postingannya. Ia menulis layaknya pelari marathon. Memposting tulisan di akun pribadinya layaknya penyelam. Tak pernah habis nafas. Menulis tanpa jeda hari.

Perihal yang kemudian membuatku tambah cemburu, membuatku suka merasa buduk sendiri, bahwa semua tulisannya selalu punya isi. Meski berkali-kali ia merendah, apa yang ditulisnya hanyalah sebatas mengejar target menulis sebulanan penuh tanpa jeda. Tapi kenyataanya sama sekali tidak seperti itu. Ia boleh merendah. Tapi ketinggiannya tetap terletak ketika kau membaca dengan cermat tulisannya. Satu per satu. Hal yang jarang aku lakukan, terutama pada tulisan-tulisannya, kecuali membaca beberapa saja.

Ada saja hal baru yang akan kau dapatkan jika benar-benar membaca dengan seksama tulisan Diyusilashky Hanafivov itu. Satu yang paling sering kudapatkan adalah penggunaan kata-kata yang jarang terdengar dalam susunan kalimatnya. Apakah itu kata istilah atau kata-kata lama. Yang kerap menggugahku untuk cepat-cepat buka kamus istilah atau kamus tesaurus online di google. Perihal maha penting bagi orang sepertiku–fakir bahasa, miskin kosa kata.

Sebagai bukti, cobalah buka satu tulisan terakhirnya. Kau akan langsung mendapati apa yang kusebutkan tadi di kalimat pertama. “Perlahan aku mulai menemukan persil-persil kalimat,” tulisnya di ‘Terminal (2)’. Kau tahu apa itu kata persil? Aku tidak tahu. Sebelum dengan gegas kuketik kata itu di laman google. Aku awam seawam-awamnya di depan tulisan-tulisan milik Diyusilashky Hanafivov.

Tak salah jika ia dinobatkan selayaknya seorang panutan. Tunggu. Aku sedang mencari lakab yang pantas untuk sebuah penghormatan. Atau kau ada saran?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *