Pulang: Sebuah Prosesi

IA PAMIT dengan sekali tarikan nafas. Melangkah ke sebalik pintu tanpa menoleh ke belakang lagi. Begitu pun ketika ia sudah berada di pintu pagar halaman rumah. Rumah yang ditinggalkannya sepi kini. Sepi dengan segenap ratap dan isak tangis anak-anaknya, istrinya, dan kerabat lain yang sempat hadir pada detik-detik terakhir ia pamit.

Ia membuka gerendel pintu pagar dengan sangat perlahan. Inilah saatnya ia┬ámenikmati untuk terakhir kalinya satu barang remeh temeh yang pernah dimilikinya. Gerendel besi yang sudah berkarat. Yang dibelinya enam atau tujuh tahun lalu di toko bangunan milik A Kiong, seorang Konghucu yang bisa menghafal Al-Fatihah dan bacaan-bacaan dalam rukun khutbah. Dengan sentuhan tangannya yang dingin pucat pada gerendel besi itu, ia terkenang pengakuan A Kiong suatu waktu. “Rumahku bersebelahan dengan masjid. Dan aku tidak tuli.”

Ketika jempol dan telunjuk tangannya menjepit selot gerendel pintu pagar. Ia terpaku sejenak, meski untuk terbebas dari pintu pagar halaman rumahnya ia tinggal menarik selot besi itu. Ada keinginan untuk menoleh sekali lagi rumah yang baru ditinggalkannya di balik punggungnya. Barangkali anak dan istrinya sudah berdiri di teras. Melambai-lambaikan tangan mereka ke arahnya. Tapi ia menepis keinginan itu demi mendengar raungan tangis istri, isak ratap anaknya.

Dalam keterpakuannya, sementara jempol dan telunjuk tangan kanannya masih menjepit selot gerendel pintu pagar, ia tersenyum kecut. Matanya pejam. Lalu di kedalaman kelopak matanya, dalam kekelaman paling purna ia melihat tubuhnya terbujur kaku di ranjang empuk kamarnya. Dikelilingi anak, istri beserta kerabatnya dan ia mendapati kekakuan tubuhnya itu adalah kekakuan sebatang pohon yang ambruk di hempas angin barat. Ia ingin balik kesana, tapi kemudian ia berpikir, “Biarlah. Memang sudah waktunya.”

Selebihnya, yang bisa dilihat dalam kekelaman di kedalaman kelopak matanya adalah apa-apa yang telah ditinggalkannya. Itu berupa vas bunga tempat ia dan istrinya menanam kunyit. Melihat vas putih seukuran timba air itu, ia bisa membayangkan aroma getah daun kunyit yang lonjong lancip. Aroma yang timbul ketika anaknya yang masih bocah mengopek-opek ujung daunnya. Setelah itu ia ingat pula bahwa ia telah lupa menguras bak mandi petang kemarin. Pasti bak mandi sudah agak berlumut sekarang. Dan ia menyesal sendiri, ketika mengingat sudah tak ada waktu lagi balik ke rumah. Sekadar menunaikan apa yang telah dilupanya.

Gunting kuku. “Astaghfirullah,” ia bergumam kaget. Ia telah melihat gunting kuku yang dipakainya dua atau tiga jam waktunya pamit tergeletak di bawah kursi teras rumah. Ia lupa meletakkannya kembali dalam gelas kecil di bufet ruang tamu. Pasti istrinya akan repot mencarinya nanti ketika hendak menggunting kuku anaknya jum’at depan. Lagi-lagi dalam keterpejamannya, sementara ia masih menjepit selot gerendel pintu pagar, ia ingat apa-apa yang telah ia lupa.

“Woi. Bangun. Baru kali ini saya melihat roh yang baru keluar dari tubuh mengingat-ingat hal remeh temeh. Pot bunga, bak mandi, gunting kuku. Ingatan macam apa itu. Ayo, cepat. Langit hendak tutup. Apa mau kau bergentayangan jadi hantu?”

Ia terperanjat. Matanya membuka. Jepitan jempol dan telunjuk tangannya juga membuka. Kini yang betul-betul ia ingat kembali adalah, ia sedang buru-buru terbang ke langit. Mumpung yang menegurnya itu sudah sudi memberi tumpangan.

 

Image source: 1,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *