Pendengar yang Baik Adalah yang Pasang Tarif

AKU TENGAH membakar sampah ketika ia datang dengan wajah semasam cuka, semengkerut kulit juruk purut. Melihat kedatangannya dengan tampang buruk begitu rupa, aku langsung ingat sepenggal lirik lagu Iwan Fals berjudul Panggilan Dari Gunung. “…Kau bawa persoalan, cerita duka melulu.” Benar adanya. Belum lagi kubalas sapaan basa-basinya, ia telah bicara tanpa putus. Topiknya beragam. Tapi semuanya punya sangkut paut dengan dirinya, berupa perihal-perihal yang menjadi beban pikirannya.

Sepekan setelah mengenalnya, itu terjadi beberapa bulan lewat, aku sudah berkesimpulan bahwa dialah rupa manusia yang terlahir ke dunia hanya untuk menanggung banyak masalah. Kesimpulan ini kudapat setelah berhari-hari sejak kenal pertama, aku menjadi tempatnya bercerita tentang masalah-masalah yang ditanggungnya. Dan pada hari-hari penuh kemalangan bagiku itu, masalah yang diutarakannya padaku selalu berbeda-beda. Jika pada hari senin pekan pertama bulan Agustus lalu ia bermasalah dengan istrinya di rumah. Esoknya ia akan bicara padaku tentang masalah air ledeng yang suka tersendat-sendat.

Atas nama masalah, ia tak pernah bisa membedakan mana masalah sepele, mana masalah pelik. Yang darinya ia bisa memilah-milah mana yang pantas dijadikan beban pikiran. Soalan sepele dan pelik sama saja baginya. Semuanya jadi serba pelik di hadapannya. Termasuk masalah cek-cok dengan istrinya oleh sebab si istri lupa menyetrika celana kolornya. Persoalan-persoalan yang begitu itu selalu ia ceritakan padaku. Biasanya aku hanya mendengarnya sepintas lalu. Tapi baginya, akulah satu-satunya orang yang mengerti beban pikirannya. Musabab yang membuatnya selalu mencari-cariku sekadar tempat paling baik melepaskan uneg-uneg yang membludak dalam kepalanya.

Seperti petang ini misalnya. Ia datang dengan muka semasam dan semengkerut asam sunti, selagi aku membakar sampah di halaman rumah. “Bangsat betul orang jualan online. Ditipunya aku dengan barang murahan. Sudah banyak-banyak kukirim uang. Kukasih tip lagi, malah yang dikirimnya barang bekas pakai,” cerocosnya tanpa kutanya sama sekali.

Seperti biasa, aku cuma menoleh padanya tanpa mengeluarkan sepatah kata. Ia melanjutkan sumpah serapahnya pada si penjual online tanpa kuminta. “Haram jadah memang penjual online itu. Kukomplain ke email tak dibalasnya. Kutelpon, nomor kontaknya malah tak bisa dihubungi. Mau kutulis di kotak komentar mereka jualan, eh giliran situsnya yang tak bisa kebuka. Kan anjing betul kerjaannya itu.”

Aku nyengir saja. Setelah mengutip dedaunan kering dan kemudian melempar dalam api, kutanya padanya ia beli barang apa di toko online. Sigap dijawabnya, ia baru beli panci atas permintaan istrinya. “Wah, celaka betul kalau begitu. Susah juga dengar masalah seperti itu tanpa rokok dan kopi dan pisang goreng,” kataku padanya dengan mimik serius. “Iya ya. Ya sudah, kau tunggu dulu di sini. Aku keluar sebentar cari kopi, rokok, dan pisang goreng. Kau pesan rokok apa. Oh iya. Seperti biasa ya.”

Dia bergegas. Menyalakan mesin motornya, kemudian berlalu ke arah dari mana ia datang pertama tadi. Aku kembali mengutip dedaunan kering di tanah. Melemparnya ke api. Lalu melihat lidah-lidah api memamah dedaunan itu dengan lahap hingga menyisakan abu. Reranting pohon juga kukutip dan kubakar di sana, gemeretap suara api ketika mengunyahnya terdengar ritmis di telinga.

Sementara ia yang pergi beli rokok, kopi dan pisang goreng belum juga kembali. Sembari terus membakar sampah, aku tersenyum-senyum sendiri mengingat petingkah temanku yang satu itu. Dia yang terlahir untuk menanggung masalah. Termasuk perkara-perkara yang sebenarnya bukan masalah. Jika kuingat-ingat, cuma satu yang tak pernah jadi masalah baginya. Yaitu uang. Dasar dia memang anak seorang kontraktor sohor seluruh kota ini, ia tak pernah kesulitan dengan urusan materi.

Itu sebabnya ia dengan gegas cari rokok, kopi, dan pisang goreng setelah kusinggung tadi. Yang penting baginya, aku mau mendengar masalah-masalahnya, urusan berapa biaya untuk pekerjaan serumit ini akan dia tanggung beres semua. Dulu, waktu pertama-tama dia curah hati padaku, dan aku pasang tarif tertentu untuk menjadi pendengarnya, dia pernah komplain juga. “Kok, kamu ini berlagak macam psikiater saja? Masa dengar aku ngobrol saja kau minta dibeli rokok dulu, kopi, ini, itu.” Begitu komplainnya waktu itu.

“Kau tahu? Manusia yang mau jadi pendengar itu langka sekali di dunia. Yang jadi tukang cerocos, tukang beri motivasi, tukang curhat melimpah. Sekarang coba kita tes ya. Kita balik. Aku cerita. Kau dengar. Bagaimana kau mau? Kau pikir enak apa setiap hari mendengar masalah-masalah yang kau punya. Kalau tidak mau turun modal, ya cari sana teman lain yang mau dengar masalah kau itu. Mana masalahnya sesepele celana kolor tak disetrika istri lagi.”

Ketika kujawab komplainnya dengan panjang lebar begitu. Ditambah volume suara yang sengaja agak kutinggikan. Waktu itu dia terperangah hebat, mukanya pucat. Lalu dengan agak malas hari itu dia membeliku makan siang, minum kopi, dan tidak lupa menyelipkan sebungkus rokok dalam kantong celanaku ketika hendak pulang.

Sejak saat itu, sudah jadi kebiasaan, ia akan dengan senang hati membeliku ini itu sebelum ia memulai mencurahkan isi hatinya padaku. Atau jika ia lupa, aku tinggal mengingatkannya. Dan dengan senang hati ia mengabulkan apa yang kuminta. Sebagaimana petang ini aku minta ia belikan kopi, rokok, dan pisang goreng terlebih dahulu sebelum dia menceritakan masalahnya itu.

Sejak kesepakatan tak tertulis itu berlaku antara aku dan dia, aku punya hobi baru yang kulakukan setiap petang hari. Yakni bakar sampah di halaman rumah. Seperti petang ini. Aku tengah membakar sampah sambil membayangkan, nikmatnya menyeruput kopi ditemani sebungkus Dji Sam Soe, sambil mengunyah pisang goreng Nek Syuhu. Sebentar lagi. Dia akan pulang sebentar lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *