Paska Hibernasi, Memulai Belajar dan Latihan Menulis Lagi

SEPEKAN LAMANYA aku mengalpakan diri belajar sekaligus latihan menulis di platform berbasis blockchain, Steemit. Itu alpa yang sengaja kulakukan bersamaan dengan libur Hari Raya Idul Fitri 1439 H. Layaknya muslim yang lain, aku pulang kampung untuk berlebaran bersama keluarga besar. Selama di sana, aku sama sekali meninggalkan aktifitas belajar dan latihan menulisku, hibernasi sejenak dari dunia literasi.

Paska hibernasi, aku merasa beruntung sebab telah dibuatkan satu blog baru oleh @zeds. Blog ini. Tempat di mana aku serasa masuk kelas baru. Naik kelas setelah hampir setahun berkutat di akun pribadi steemit. Berkat arahan @acehpungo, blog ini tetap bisa terkoneksi dengan akun steemitku, yaitu dengan menggunakan jasa @steempress-io yang dikembangkan oleh Martin Lees alias @Howo.

Blog baru. Itu artinya mengemban semangat baru. Energi baru. Yang baru-baru itu sudah terasa benar sejak beberapa berada di kampung. Selama hibernasi, aku berbaur dengan siapa saja, tapi yang paling menyenangkan dari semuanya adalah ketika punya kesempatan minum kopi bersama para orang tua di kedai kopi. Ada banyak cerita yang kudengar dari mereka. Pula banyak pelajaran yang bisa kupetik dari pelbagai kisah.

Bertemu dengan teman-teman sekolah dulu juga membuahkan cerita-cerita tersendiri, nostalgia. Tapi kadang ada pula kisah-kisah pahit yang diceritakan oleh seorang teman yang sedang tak nasib baik dengan suara tercekat. Pun menyaksikan perubahan kampung halaman, keadaan rumah asal, raut wajah ibu, keponakan yang hampir tiap tahun bertambah, acara-acara pesta atau tahlilan di tempat rumah duka yang salah satu anggota keluarganya meninggal dunia. Seperti mengajakku untuk memulai menulis sebuah memoar.

Memikirkan menulis memoar membuatku ingin seperti Orhan Pamuk saja. Peraih nobel asal Turki yang dengan apik menulis buku memoarnya berjudul Istanbul. Tapi tentu saja aku mesti mawas diri, sadar dengan batas kemampuan menulisku, hingga pikiran muluk-muluk itu mesti kupadamkan sesegera mungkin. Sekadar menghibur diri atas kemampuanku mengeksplor cerita dalam narasi-narasi teks yang masih cukup terbatas, kupilih saja satu sikap untuk menikmati proses belajar dan latihan menulisku di sini.

Dalam hal menikmati proses belajar dan latihan itu, aku ikut saja seperti yang dikata penulis buku Finding Forrester, James Whitfield Ellison. Katanya, mulailah menulis dan jangan berpikir. Berpikir itu urusan belakangan. Yang penting menulis saja dulu.

Jika ditimbang-timbang, benarlah adanya anjuran itu. Sangat seia sekata dengan apa yang dijelaskan Kuntowijoyo, bahwa hanya ada tiga syarat yang harus dilakukan untuk menjadi penulis. Yaitu, menulis, menulis, dan menulis. Kalau sudah begitu, kenapa harus pikir-pikir panjang lagi. Ya, tulis saja dulu apa yang ada, terserah yang terbaca nanti adalah ‘buah hiu’ (boh yee, istilah pasaran bahasa Aceh bermakna bualan). Tapi bukankah menuliskan boh yee¬†lebih baik ketimbang membajak hampir dua pertiga jatah beasiswa anak-anak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *