Parijo Ronokuromo Diculik

PEKAN KEDUA bulan Agustus 1995. Tak diingatnya lagi tepatnya tanggal berapa. Parijo Ronokuromo mendapati dirinya terbangun di pinggir jalan lingkar Kota Yogya dalam keadaan telanjang. Bulat. Jangankan seutas benang masih menyemat di tubuh kerempengnya. Rambut kepalanya pun sudah tak ada. Botak. Tak hanya itu, bulu-bulu penting di organ luar tubuhnya juga plontos semua. Alisnya hilang. Bulu mata juga. Yang masih tetap seperti sedia kala adalah bebuluan di selangkangannya. Keriting, tumbuh serampangan persis seperti belukar di tanah kosong yang tak kena hirau pemiliknya selama bertahun-tahun.

Ketika menemukan sekujur badannya memar. Parijo sadar bahwa ia bukan terbangun dari tidur panjang. Melainkan siuman dari pingsan. Demi menyadari ini, ingatannya balik seketika. Pada satu malam, dini hari tepatnya, ia didatangi empat orang tak dikenal. Laki-laki semua. Tegap semua. Dua orang rambut cepak, seorang belah tengah, satunya lagi gondrong sebahu. Menggedor-gedor pintu rumah kontrakannya. Tepat saat ia menarik selot gerendel pintu, saat itu pula keempat orang tak dikenal itu menghambur masuk. Menubruk tubuhnya hingga ia terjerembab ke lantai semen beralas karpet yang telah sobek-sobek.

Parijo terkenang dalam keadaan terjerembab di lantai, dua orang berambut cepak langsung menendang rusuk kiri dan kanannya secara bersamaan. Untuk kemudian memiting kedua tangannya ke belakang, lantas yang berambut gondrong itu bertanya, “Kau yang bernama Parijo Ronokuromo, benar?” Parijo hanya bisa mengangguk pelan. Anggukan yang membuat si gondrong itu berkata pada tiga temannya, “Oke. Target A satu. Bawa!” Kata-kata yang diartikan oleh si rambut belah tengah untuk segera menggonikan kepalanya dengan sebuah karung gelap hingga ia buta detik itu juga.

Lalu ia merasakan dua orang yang memiting lengannya ke belakang mengangkatnya dengan tergesa-gesa. Kemudian menyeretnya keluar rumah kontrakannya tanpa berkata sepatah kata lagi. “Hendak dibawa kemana aku? Apa salahku?” Tanya Parijo ketika merasakan tubuhnya diseret seperti anjing buduk. Tak satu pun menjawab pertanyaannya. Dan ia menemukan dirinya sudah didudukkan pada jok mobil. Diapit dua orang yang menyeretnya, dengan posisi lengan masih tercengkeram dalam pitingan yang sama.

Yang ia tahu kemudian, pada dini hari paling jahanam itu, Parijo dibawa dengan mobil. Pertama laju mobilnya pelan saja. Parijo yakin mobil itu masih berjalan di lorong sempit pemukiman rumah kontrakannya. Tapi tak lama kemudian, saat deru mesin berderum hebat dan laju mobil terasa dipacu dalam kecepatan penuh. Parijo, dalam kebutaannya di balik karung gelap yang memasung kepalanya, tahu mereka sudah sampai di jalan besar. Di jalan lingkar kota yang baru empat tahunan ini ditinggalinya.

Parijo tak seberapa yakin berapa lama ia berada dalam mobil bersama empat orang tak dikenal itu. Mungkin dua jam. Tapi boleh jadi juga kurang atau bisa saja lebih. Selama di dalam mobil, beberapa kali Parijo bertanya dengan pertanyaan sama seperti tadi. Beberapa kali pula ia tak menemukan jawaban dari empat orang itu. Semuanya bisu. Kebisuan yang membuat Parijo kemudian tersadar bahwa ia telah diculik. Entah oleh siapa? Entah karena apa? Hal yang kemudian membuatnya menggigil sekaligus sesak kencing. Hal yang kemudian membuatnya mulai merasa nyeri di bagian rusuk kiri kanannya. Juga nyeri di lengan kanan kirinya.

Pada titik jenuh rasa nyeri yang dialami bagian rusuk dan lengannya. Ketika ia sudah merasa kebas yang amat sangat, terutama pada bagian cengkeraman pitingan tangan yang tak pernah kendor barang sedetik pun itu. Mobil yang membawanya mulai melaju pelan. Sejurus kemudian berhenti. Terdengar suara pintu mobil dibuka. Pitingan tangannya dilepas. Dan dalam kebutaannya oleh sebab kepalanya digoni didorong keluar. Belum mantap lagi kedua kakinya menjejak tanah, seseorang menendang punggungnya sambil berteriak, “Cepat jalan, bangsat!” Parijo terjengkang. Tubuh kerempengnya lagi-lagi terjerembab.

“Sudah-sudah. Seret saja. Jangan lama-lama di luar,” kata seseorang. Parijo hafal suara itu. Milik si gondrong yang sewaktu di rumahnya menanyakan namanya.

Yang Parijo ingat. Ia diseret ke dalam sebuah ruangan. Hawanya agak lembab. Suasananya bising. Seperti ada mesin gerinda besar berbunyi tak putus-putus. Berdenging di gendang telinga. Ruangan itu beraroma pesing. Tapi aroma oli bekaslah yang paling menyengat di hidungnya.
Sebelum didudukkan pada satu kursi, seseorang membuka semua pakaiannya. Mula-mula baju putih Cap Angsa. Lalu celana selututnya. Celana berkain tipis motif batik kombinasi warna coklat muda dan tua yang ujung bawahnya diberi rumbai-rumbai. Itu adalah seragam tidurnya. Di balik celana selutut ia tak pernah memakai kancut. Ini tak lebih karena ia pernah membaca artikel bagaimana menjaga alat kelamin di majalah Femina, salah satunya dengan menjaga kelegaannya saat tidur malam.

Demi menemukan Parijo tak memakai celana dalam di balik celana selutut yang telah dibuka. Seseorang yang bertugas menelanjangi Parijo merasa geram, jijik. Saat melihat kelaminnya meringkuk dengan biji peler menggantung lunglai dipagari rimbun bulu-bulu kasar, keriting, tumbuh serampangan, serupa belukar di tanah kosong yang bertahun-tahun tak kena hirau pemiliknya. Sekadar melampiaskan kejijikannya, seseorang itu menjentik kepala kelamin Parijo dengan jari tengah tangan kanannya. Menjentik dengan sekuat tenaga. Mengeluarkan bunyi, “Thuep!”

Serupa kena godam di kepala. Saat jentikan keras itu telah meletup di kepala kelamin yang sudah merdeka dari kulupnya sejak Parijo berumur enam tahun. Segala saraf di sana meresponnya dalam penderitaan yang amat sangat. Sekujur tubuh Parijo meresponnya dalam satu spontanitas yang bersamaan. Mulutnya berteriak kesakitan. Kantung kemihnya meledak. Saluran pipa kencingnya membuka. Lalu, serupa lonjakan bandang yang baru menemukan celahnya setelah sebelumnya terjebak dalam satu katup. Air seni Parijo menghambur keluar. Menyemprot. Menyemprot muka seseorang yang karena harus membuka celana gombrong Parijo, ia berselutut sedemikian rupa.

“Bajingan!”

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *