Nonton Bola Bareng Anak-anak Milineal

MEREKA ADALAH generasi yang dibesarkan oleh tiga game; Point Blank, Mobile Legend, dan sekarang PUBG. Generasi ini punya meja tetap di kedai kopi yang kekencangan jaringan wi-fi gratisnya sekencang angen boh asee. Nongkrong bergerombol, dengan jadwal kumpul sebelum ashar hingga tengah malam bersamaan dengan ditutupnya kedai kopi.

Ketika berkumpul di kedai kopi langganannya, meja tetap mereka akan penuh dengan gelas minuman pesanan. Tapi yang membuat meja itu tampak sesemrawut meja tukang perbaiki barang elektronik adalah kelit kelindan kabel charger gawai masing-masing, headset, dan dua atau tiga unit laptop.

Continue reading “Nonton Bola Bareng Anak-anak Milineal”

Antara Aliou Cisse dan Joachim Loew

ALIOU CISSE pelatih tim nasional Senegal. Joachim Loew, Jerman. Di antara keduanya terhimpun segala jarak. Persamaan antara keduanya hanya berpaut di sepakbola. Yang dalam Piala Dunia 2018 Rusia, keduanya sama-sama melatih tim negara masing-masing, tapi cuma untuk mengisi pertandingan-pertandingan di fase grup saja.

Kecuali bertaut di dunia sepakbola, selebihnya adalah beda yang menganga. Lebih-lebih kalau diperbandingkan jumlah gaji yang didapati selama menjadi pelatih tim nasional masing-masing. Jarak pendapatan Loew dan Cisse, boleh dikata menga-nga selebar akumulasi nga-nga mulut seluruh penduduk Senegal beserta turis yang datang kesana.

Continue reading “Antara Aliou Cisse dan Joachim Loew”

Argentina Kalah, Akhir Lebaynya Seorang Jorge Sampaoli

PRANCIS MENANG 4 – 3 atas Argentina. Skor besar begitu rupa seperti melengkapi partai besar ini. Cukup bikin puas penonton yang tidak mendukung dua tim ini sebagai juara nantinya. Gol-gol yang tercipta berikut prosesnya sepanjang 95 menit pertandingan benar-benar menjadi hiburan. Dua tim yang bertanding benar-benar bermain sesuai standar turnamen olahraga terbesar sejagad. Piala Dunia 2018 Rusia.

Meski Argentina dan Prancis sama-sama bermain agak melempem di fase grup, tapi di pertandingan tadi keduanya menunjukkan permainan kelas juara dunia. Argentina memegang penguasaan bola terbanyak. Tapi Prancis mampu mencetak gol lebih, dengan memanfaatkan kecepatan Kylian Mbappe sebagai tumpuan strategi serangan baliknya. Terbukti ia mencetak dua gol dan penalti yang membuahkan gol pun terjadi karena pelanggaran bek Argentina terhadapnya.

Continue reading “Argentina Kalah, Akhir Lebaynya Seorang Jorge Sampaoli”

Narasi Kota Kita: Banda Aceh, Ujung Juni 2018

UJUNG JALAN Abdullah Ujong Rimba. Di rumah kopi Teras Kota. Seberang tapak Hotel Aceh yang beton tiang pancangnya dicat warna warni. Di seberang pagar utara Masjid Raya. Kamis, 28 Juni 2018. Aku mendapati Banda Aceh hendak bersiap-siap menuju Isya. Isya yang sama dengan yang sudah-sudah, jauh abad sejak para pedagang Arab memperkenalkan kewajiban ini sebagai tuntunan hidup segenap manusia seisi Bandar.

Continue reading “Narasi Kota Kita: Banda Aceh, Ujung Juni 2018”

Kiat-kiat Membebaskan Diri Dari Jerat Calo Beasiswa

AKU PERNAH bermimpi bisa melanjutkan studi lagi. Aku pernah terdaftar sebagai mahasiswa tingkat lanjut program paska sarjana sebuah kampus negeri di Banda Aceh. Jalan tahun ketiga kuliah di situ, telah habis semua mata kuliah. Tinggal bikin penelitian, menulis tulisan akhir, lalu sudah. Tapi di tahun ketiga itulah, kata sudah yang kumaksud tadi malah berujung pada kata tak berkesudahan. Setidaknya hingga sekarang ini.

Mimpiku sederhana. Apa lacur, mimpi itu harus kupendam dalam hati oleh sebab soalan klise: faktor ek[onomi]! Faktor itu pula yang membuatku didatangi oleh seorang teman (tak seberapa dekat) dan menawarkan solusi agar bisa melanjutkan kuliah lagi. Itu terjadi pada tahun keempat. Ketika aku sudah memutuskan jadi juru tulis berita di sebuah portal berita lokal, yang sejak beberapa tahun lewat telah tutup usia gara-gara pelbagai skandal. Tentu saja keputusan itu kuambil demi satu tekad: bisa mengumpulkan jerih yang ada untuk membunuh ketidakmampuanku akan biaya.

Continue reading “Kiat-kiat Membebaskan Diri Dari Jerat Calo Beasiswa”

Petualangan ‘Taik Buah’ Joachim Loew Dalam Sebuah Meme

JOACHIM LOEW. Pelatih tim sepakbola Jerman. Adalah satu pelatih bola di antara segelintir pelatih nyeleneh di dunia. Kenyelenehan Joachim Loew cukup khas. Susah ditiru pelatih lain. Kalau pun ditiru mereka tak akan melakukannya di pinggir lapangan, sementara para pemainnya sedang bertungkus lumus memenangkan pertandingan.

Apa kenyelenehan seorang Joachim Loew? Ngupil dan ngulik isi selangkangan. Kemudian berlanjut dengan aksi membaui jari tangan yang dipakainya untuk melakukan dua hal tadi. Jika ditimbang-timbang ‘hobi’ Joachim Loew itu adalah salah satu aksi paling monumental dalam dunia sepakbola sejagad. Aksi yang mewarnai dan melengkapi sepakbola adalah satu peradaban olahraga paling meriah yang pernah dimiliki umat manusia.

Aksi itu, barangkali, sama monumentalnya dengan tanduk Zinedine Zidane ke dada Marco Metarazzi pada final Piala Dunia 2006. Tak kalah monumentalnya dengan cara penyelamatan bola oleh penjaga gawang Kolombia, Rene Higuita. Jika pun ada kejadian lain yang membuat aksi Joachim Loew tak ada apa-apanya adalah kejadian penembakan Andres Escobar. Pemain yang melakukan gol bunuh diri pada Piala Dunia 1994. Lalu sepulang ke negaranya ia ajal di ujung bedil pembunuh.

Continue reading “Petualangan ‘Taik Buah’ Joachim Loew Dalam Sebuah Meme”

Memoar Kampung Asal: Keheningan Seorang Ibu

KAU PULANG dan mendapati rumah tengah menghanyutkan diri dalam keheningan yang canggung. Itu pada suatu petang pekan terakhir bulan ramadhan yang riuh, ketika ibu sedang menyiapkan menu berbuka puasa. Salam yang kau ucapkan terjawab dengan lirih. Tapi cukup mengungkapkan rasa sentimentil seorang perantau yang baru menginjakkan kaki di rumah asalnya. Setelah bertahun-tahun tinggal di kampung orang.

Dengan tergopoh-gopoh ibu menyambutmu di teras rumah, demi mendengar suara salammu. Ibu adalah satu-satunya orang yang menghafal warna suaramu. Sebagaimana ia tak pernah melupa suara anak-anaknya yang lain. Pula selalu bisa membedakan mana suara si sulung atau si bungsu.

Ada keharuan yang tak terkatakan manakala seorang anak berjumpa dengan ibunya setelah sekian tahun lamanya. Mungkin ada peluk setelah jabat tangan penuh takzim. Tapi yang membikin semuanya jadi lebih mengharu biru adalah ketika kau dapati seisi rumah telah demikian membeku dalam keheningannya. Keheningan yang kelak kau sadari menyebar dari hati dan mata redup ibumu.

Continue reading “Memoar Kampung Asal: Keheningan Seorang Ibu”

Paska Hibernasi, Memulai Belajar dan Latihan Menulis Lagi

SEPEKAN LAMANYA aku mengalpakan diri belajar sekaligus latihan menulis di platform berbasis blockchain, Steemit. Itu alpa yang sengaja kulakukan bersamaan dengan libur Hari Raya Idul Fitri 1439 H. Layaknya muslim yang lain, aku pulang kampung untuk berlebaran bersama keluarga besar. Selama di sana, aku sama sekali meninggalkan aktifitas belajar dan latihan menulisku, hibernasi sejenak dari dunia literasi.

Paska hibernasi, aku merasa beruntung sebab telah dibuatkan satu blog baru oleh @zeds. Blog ini. Tempat di mana aku serasa masuk kelas baru. Naik kelas setelah hampir setahun berkutat di akun pribadi steemit. Berkat arahan @acehpungo, blog ini tetap bisa terkoneksi dengan akun steemitku, yaitu dengan menggunakan jasa @steempress-io yang dikembangkan oleh Martin Lees alias @Howo.

Blog baru. Itu artinya mengemban semangat baru. Energi baru. Yang baru-baru itu sudah terasa benar sejak beberapa berada di kampung. Selama hibernasi, aku berbaur dengan siapa saja, tapi yang paling menyenangkan dari semuanya adalah ketika punya kesempatan minum kopi bersama para orang tua di kedai kopi. Ada banyak cerita yang kudengar dari mereka. Pula banyak pelajaran yang bisa kupetik dari pelbagai kisah.

Continue reading “Paska Hibernasi, Memulai Belajar dan Latihan Menulis Lagi”

Prakata: MKDK, Membunuh Kecoa Dalam Kepala

 

MKDK. Membunuh kecoa dalam kepala. Adalah kalimat yang keluar dari mulut sastrawan asal Aceh, Azhari Aiyub yang baru-baru ini menerbitkan novel Kura-kura Berjanggut. Kalimat itu ia lontarkan medio 2007 pada kelas menulis Seuramoe Teumuleh II, diselenggarakan oleh Kata Hati Institute di Banda Aceh.

Membunuh kecoa dalam kepala adalah jawaban spontan yang dikatakannya ketika ia menanyakan pada seisi kelas, “Untuk apa menulis?” Barangkali jawaban itu dianggap paling nyeleneh bagi seisi kelas. Tapi tidak untukku. Mencari jawab atas pertanyaan untuk apa menulis bukanlah persoalan gampangan, khususnya untuk seorang awam menulis sepertiku.

Mengikut petuah Pramoedya Ananta Toer dalam novel Rumah Kaca bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian, bagiku agak terasa muluk-muluk. Maksudnya, untuk ukuran kemampuan menulisku yang masih cetek begini. Menyandarkan diri pada petuah itu sebagai jawaban ketika ditanyai orang kenapa harus menulis, tak ubahnya seperti si buruk rupa kelewat percaya diri.

Oleh sebab sadar diri akan kemampuan menulis itulah, aku butuh jawaban yang lebih sederhana atas pertanyaan, “Untuk apa menulis?” Beruntung aku sempat ikut kelas bersama Azhari Aiyub. Karena dari mulutnyalah aku mendapat jawaban yang sangat sederhana, tidak muluk-muluk, tak menuntut kerja otak ekstra untuk mencernanya.

“Untuk apa menulis? Untuk membunuh kecoa dalam kepala.” ~ Azhari Aiyub.

Kenapa kukatakan jawaban itu langsung bisa mengena. Itu tak lain terletak pada kata kecoa dalam kepala. Berkecoa kepala. Yang kuyakini adalah terjemahan ala kadarnya dari satu idiom Aceh; meu keuraleuep ulee. Ini adalah ungkapan untuk menggambarkan beban pikiran yang dialami seseorang, dan yang namanya umat manusia pengalaman itu adalah mutlak adanya.

Continue reading “Prakata: MKDK, Membunuh Kecoa Dalam Kepala”