Unfinished Biography: Di Bawah Kibaran Kain Sarung Nyi Miriam

SETELAH BERBASA-BASI perihal kedatanganku menemuinya langsung di tempat tinggalnya ini, Nyi Miriam menyilahkanku masuk ke rumahnya. Ajakan yang membawaku harus menaiki tujuh anak tangga. Ajakan yang membuatku terperanjat pucat pada anak tangga ketiga, ketika dengan tak sengaja aku mendongakkan kepala. Nyi Miriam, lazimnya tuan rumah, naik terlebih dahulu dan tepat ketika aku menengadah ia telah berada di anak tangga ke enam, saat yang sama ketika angin petang dari hamparan sawah mengibarkan kain sarungnya.

Itu kibaran hebat hingga menampakkan semesta isinya. Semesta isinya yang samar, remang-remang, tapi dengan serta merta membuatku kembali merasa mual untuk kedua kalinya sejak dekapan itu, oleh sebab: dalam dongakan kepala penuh ketidaksengajaan itu, aku menemukan pangkal paha nenek tua ini tidak terbungkus oleh apa pun jenis kain yang serupa dalaman. Apakah itu kancut, cawat, atau kantong air seni sekaligus tahi khusus jompo yang oleh orang-orang sekarang menyebutnya pampers.

Continue reading “Unfinished Biography: Di Bawah Kibaran Kain Sarung Nyi Miriam”

Unfinished Biography: Tentang Nyi Miriam, Sekilasnya Saja

NYI MIRIAM telah tua. Sudah nenek-nenek. Umurnya tak tercatat dalam dokumen apa pun. Posturnya tinggi. Apa yang sangat mungkin telah membengkokkan tulang punggungnya adalah jumlah usianya. Ketika berdiri ia hampir menyerupai seorang muallaf yang sedang belajar ruku’ pada kali pertama. Matanya awan mendung. Tapi sorotnya masih setajam matahari pagi pada bulan Maret yang kering. Begitu pun dengan rambutnya. Sanggulannya dibelit pada sebatang tusuk konde dari cangkang kura-kura, adalah jenis rambut yang dipunyai kebanyakan orang-orang yang kelebihan umur.

Continue reading “Unfinished Biography: Tentang Nyi Miriam, Sekilasnya Saja”

Belajar Menulis Bebas: Tamasya Pikiran Pada Kekosongan

AKU INGIN menulis bebas. Mengalir sebebas air sungai dari hulu ke hilir. Mengudara serupa kepak sayap capung. Ringkih. Tapi dengan segenap keringkihan itulah ia mengada. Dan umat manusia mengenalnya, memberinya nama, dan ahli hewani mengudap banyak ilmu pengetahuan atas keberadaannya. Aku ingin menulis bebas. Merdeka. Dan tulisan yang terbaca adalah perayaan dari kebebasan yang ada. Barangkali itu tak semirip perayaan budak belian dari tuannya. Tapi kebebasan patutlah diselebrasi sedemikian rupa, bagaimana pun caranya.

Tamasya. Inilah saatnya mengajak pikiran bertamasya. Atau mungkin membiarkannya bertamasya sendirian saja, dan aku duduk di sini, menghadapi layar putih komputer jinjing sambil menunggu pikiran pulang membawa apa-apa yang dilihatnya. Apa saja yang dilihatnya, oleh-oleh pikiran sehabis pelesiran, kuambil satu-satu, kutimang-timang, kutimbang-timbang. Segalanya adalah bahan baku bagi rangkaian kalimat yang tengah kau baca. Segalanya adalah bahan baku bagi mengadanya sebuah cerita.

Continue reading “Belajar Menulis Bebas: Tamasya Pikiran Pada Kekosongan”

Menjadi Ayah Sebaik Pak Beye

“JIKA INGIN jadi orang tua yang baik bagi anak-anaknya. Contohlah perilaku Pak Beye. Mantan presiden kita itu. Jangankan masih kanak-kanak, sudah dewasa pun AHY ditimang-timang dengan penuh kasih sayang.”

Itulah ungkapan yang kudengar dari seorang bapak-bapak ketika ngopi di kedai langganan petang tadi. Penampilannya parlente. Dia bicara dengan seorang temannya yang tak kalah parlente, dan dari apa yang dibicarakan, bisa kutaksir keduanya tak pernah ketinggalan berita dalam dan luar negeri, dalam dan luar provinsi, terutama berita-berita politik.

Continue reading “Menjadi Ayah Sebaik Pak Beye”

Apakah Outline Tulisan Penting?

BIASANYA AKU akan menulis apa pun yang terlintas di pikiran ketika sadar tak tahu harus fokus menulis apa. Ada banyak tema berseliweran di kepala, ada banyak ide muncul tenggelam dalam benak, tapi itu tak langsung membuatku bisa menulis detik itu juga. Fokus terhadap sesuatu ide, istiqamah pada tema yang dipilih, jadilah semacam penentu akhir mengada tidaknya tulisan. Tapi inilah yang kerap kualami hingga ujung-ujungnya keinginan menulisku urung hingga waktu tak menentu.

Continue reading “Apakah Outline Tulisan Penting?”

Semangkuk Sup Panas Grong-grong dan Bualan Diyus Tentang Tiga Belahan Jeruk Nipis

SEMANGKUK SUP panas di Grong-grong telah menjadikan polemik sepanjang perjalanan kami. Itu bermula ketika kami berangkat pada malam buta yang hendak gerhana dari Banda Aceh menuju Cunda, Lhokseumawe. Kami, empat belas orang dalam rombongan ini, terbagi dalam dua mobil, hendak berkunjung ke rumah @pieasant, di mana ibunya meninggal dunia beberapa hari sebelumnya.

Aku semobil dengan Diyus Hanafi, Muhajir Abdul Aziz, Opong, Fauzan, dan Andre Zahrul Fuadi. Adalah @sangdiyus yang memulai polemik itu. Ketika mobil yang kami tumpangi melesat dengan laju yang begitu menenangkan di jalan lurus Peurade, Trienggadeng, ia berkata keisi mobil. Bahwa di Grong-grong ada dijual sup terenak yang pernah disantapnya selama hidupnya. Sup yang keenakannya begitu menghanyutkan, sampai-sampai ia lupa Grong-grong itu berada di kabupaten mana.

Continue reading “Semangkuk Sup Panas Grong-grong dan Bualan Diyus Tentang Tiga Belahan Jeruk Nipis”

Uteun Wakaf, Lagu Isu Lingkungan Hasil Diskusi di RSJ

TAHUN LEWAT, sekira pekan akhir bulan Agustus, satu lagu Aceh yang mengangkat isu lingkungan dirilis dengan tingkat spontanitas paling dahsyat para musisi dalam menghasilkan lagu. Lagu itu di beri judul, Uteun Wakaf. Liriknya dicipta secara keroyokan, musiknya di aransemen oleh Fuady Keulayu, lalu Rial Amoeba turun suara sebagai vokalnya, dan anak-anak Aceh Documentary bertindak sebagai juru gambar sekaligus juru rekam. Hingga video lagu tersebut dapat dinikmati di laman youtube, seperti yang boleh kau lihat di bawah ini.

Continue reading “Uteun Wakaf, Lagu Isu Lingkungan Hasil Diskusi di RSJ”

Trik Pelengkap Bisa Menulis Setiap Hari Bersama Taufik Al Mubarak

Tulisan ini kutulis setelah membaca satu postingan milik Taufik Al Mubarak, penulis buku Aceh Pungo dan di steemit punya akun bernama @acehpungo. Trik sederhana agar lancar menulis setiap hari. Itulah judul postingannya. Dari judulnya saja, sudah tentu tulisan yang seperti itu adalah gizi pelengkap yang harus sesegera mungkin dilahap, terutama orang sepertiku yang punya kehendak menulis setiap hari.

Setelah membaca dengan seksama postingan sepanjang lima ratus tujuh belas kata tersebut, ada banyak trik menulis yang membuat penulis pemula jadi lebih tercerahkan. Semuanya tertulis dengan bahasa sederhana, mudah ditangkap sekaligus dipraktekkan. Katakanlah satu di antaranya menulis cerita-cerita kecil di balik selembar foto yang tersimpan di folder galeri gawai pribadi. Tapi di antara sekian jumlah trik yang ada dalam tulisannya, satu trik yang dianjurkan dan paling ampuh untuk dipraktekkan adalah; membaca koran pagi. Dalam tulisannya tertulis begini:

Continue reading “Trik Pelengkap Bisa Menulis Setiap Hari Bersama Taufik Al Mubarak”

Tata Cara Memendam Kentut Dalam FGD

FGD. Forum discussion group. Itulah acara yang akhir-akhir ini, dalam semesteran ini, sering aku hadiri. Ada saja undangan datang agar orang-orang di komunitas tempat aku beraktivitas selama ini, hadir di acara-acara tertentu. Baik sebagai pembicara, tapi lebih seringnya sebagai peserta. Undangan itu pun datang dari pihak yang cukup beragam, mulai dari LSM atau pemerintah.

Continue reading “Tata Cara Memendam Kentut Dalam FGD”

Semua Orang Bisa Menulis

ADA BANYAK hal yang ingin kuceritakan. Tapi hampir semuanya sukar kutulis oleh sebab keahlian menulisku yang masih cetek belaka. Kerap aku dikepung oleh perasaan iri ketika membaca tulisan orang lain. Khususnya tulisan-tulisan sebentuk esai dan prosa, yang dengan mudah menyampaikan sesuatu gagasan dalam kalimat-kalimat yang gampang dicerna. Ingin sekali aku bisa menulis seperti itu, tapi keinginan kerap berujung pada keinginan saja dan aku masih belum bisa menulis apa-apa.

Continue reading “Semua Orang Bisa Menulis”