Off Dari Steemit? Jangan Dulu

PADA BULAN penuh lesu begini. Dengan harga SBD dan Steem yang masih segitu-gitu saja, bertahan di platform steemit benar-benar membutuhkan banyak energi. Selain mesti punya energi cukup dalam penantian kapan harga dua mata uang kripto itu kembali melonjak seperti akhir tahun lalu. Kau juga mesti punya pasokan energi lebih untuk menjaga konsistensi sekaligus eksistensi aktivitasmu di platform ini.

Selebihnya adalah energi untuk memupuk kesabaran di hati. Dan sebagaimana banyak cerita di dunia nyata, kesabaran hanya akan berujung pada dua hal belaka. Pertama, buah kesabaran bisa berwujud manis, dan yang kedua adalah sebaliknya. Pahit. Kesabaran yang hanya menghasilkan kekecewaan, dan kauĀ akan mencak-mencak sendiri karenanya. Tapi kukira, di sinilah letak pertaruhan sejati bagi orang-orang yang menyukai tantangan dalam hidupnya.

Memang, bertaruh pengharapan pada sesuatu yang tak pasti tak ubahnya seperti menceburkan diri pada urusan untung rugi. Tapi benarkah seseorang yang terus beraktivitas, katakanlah menulis, di steemit ini akan merugi? Kukira tidak juga. Kenapa? Akan kau temukan jawabnya suatu saat nanti. Selama kau masih tetap ada di sini.

Lalu dari manakah kau bisa mendapatkan energi berlebih agar bisa bertahan di tengah ketidakpastian pengharapan? Sungguh, ini urusan gampangan. Segampang membolak-balikkan telapak tangan. Segampang bersendawa ketika kekenyangan. Pula segampang mengerjakan sesuatu yang sama sekali tak menghasilkan apa-apa dalam hidupmu kecuali berujung pada segarnya pikiran. Tidur atau buang air besar salah duanya.

Bagaimana maksudnya itu? Absurd benar penjelasannya. Memang absurd adanya. Tapi inilah salah satu caraku bertahan di sini. Dengan ngelantur seenak hati. Menulis apa saja yang tak benar-benar hendak kutulis. Dan kalian tak harus membacanya seserius membaca tulisan para begawan sastra. Cuma yakinlah, bahkan dengan ngelantur menulis saja platform ini tetap menjanjikan pengharapan yang ujung-ujungnya bisa kau uangkan.

Apakah tidak ada cara lain? Ada. Banyak malah. Salah satunya memulai perang-perangan opini dengan para steemian lain. Hitung-hitung bisa mengasah ketajaman pikiran dalam berargumentasi teks. Orang-orang kepincut untuk membalasnya, hingga kelesuan oleh sebab harga yang tak kunjung naik itu pecah dalam keriuhan teks yang mencerahkan. Tentu perang-perangan opini yang kumaksud adalah sebentuk pertikaian gagasan, tak menyerang pribadi apa lagi berwujud pada serangan fisik yang tak mengenakkan hati.

Ibarat kata tentara yang jenuh hidup di barak. Dan damai telah membuncitkan perut mereka sebuncit perut kerbau tengah hamil tua. Hanya peranglah yang membuat mereka kembali pada fungsinya, ihwal kenapa banyak di antara pembesar tentara sering cari gara-gara.

Itu makanya tak ada salahnya para steemian mengadopsi pikiran tentara yang seperti itu. Meski yang menjadi ajang perang di sini adalah perang gagasan. Perang yang tak mesti pakai otot, tak melukai fisik apa lagi sampai membuat ajal sesiapa yang terlibat di dalamnya. Sementara yang dipakai sebagai senjata hanya berupa nalar dan wawasan, yang dari sinilah kewarasan pikiran dipertaruhkan.

Pertanyaan lanjutannya; apakah ada di antara steemian di sini yang ingin mewujudkan sebentuk keriuhan itu? Jika ada, kenapa tak dimulai sekarang ini juga. Tinggal pilih tema yang sedikit banyaknya bisa mencerahkan semua, sederhana, dan tak usah muluk-muluk. Itu bisa berupa tentang kancut model bagaimanakah yang disukai seorang Putin di Rusia? Atau kenapa tidak, perang opini itu bertema, pada umur berapakah seekor kucing betina layak menyandang status sebagai betina janda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *