Narasi Kota Kita: Ulee Lheue Satu Petang, Mural Tauris Mustafa Berjudul Ibadah Ikan

INI HARI senja tak turun di Ulee Lheue. Padahal sore sudah hendak menyatu dengan maghrib. Ada mendung menggantung. Seantero langit kelabu. Matahari terpacak di atas Pulau Bunta. Kecil nyalanya. Seperti cahaya bohlam kekurangan daya listrik. Ada mendung yang membuatnya sesemaput orang tua uzur. Dan Ulee Lheue menampilkan diri dalam kesenduan seorang istri menanti suaminya pulang. Setelah berbulan-bulan dijemput paksa para tentara pergi entah kemana. Sesendu perempuan dalam lirik lagu Pikee dalam album Bantayan. Inong tahee ji duek bak pinto. Agam baro hana meuho ka. Baluem kasoh boco bak tageue. Aneuk ka glue lagee bacee lam paya.

Dari bawah jembatan, satu boat nelayan masuk ke teluk. Kemudian bersandar di satu pelabuhan kecil yang menyatu dengan tempat pelelangan ikan. Ikan-ikan diturunkan. Tongkol, tuna, kerapu, jeunara, marlin kecil, dan juga gurita. Seorang toke beserta anak buahnya dengan sigap menyambut ikan tersebut. Menaikkannya ke timbangan. Lalu si toke sibuk memencet tombol angka di kalkulator saku. Mengalikan jumlah timbangan dengan harga-harga. Beda jenis ikan, beda pula harganya.

Sementara si toke sibuk, dua nelayan yang baru pulang melaut duduk dalam boatnya. Menunggu. Sembari menunggu satu diantaranya menyulut rokok. Lalu merebahkan punggungnya di atas sungka. Ia berpejam. Mungkin tengah membayangkan jumlah harga dan nominal uang yang didapatnya dari hasil tangkapan hari ini. Satunya lagi sibuk membereskan alat pancing. Tak lama kemudian ia melompat ke bibir pelabuhan dengan gesitnya. Kakinya kembali menjejak daratan setelah seharian mengapung di laut.

Menyimak aktivitas di pelabuhan kecil Ulee Lheue, aku teringat pada satu mural milik Tauris Mustafa. Ibadah Ikan. Begitu judulnya. Dilukis pada satu pesta mural yang digagas Komunitas Akar Imaji dua pekan lewat. Diadakan di Taman Budaya. Melibatkan puluhan seniman rupa di Banda Aceh lintas komunitas. Tauris Mustafa salah satu perupa dalam acara itu, mengangkat peruntungan nelayan saat mereka mencari nafkah sebagai tema karyanya.

Muralnya menggambarkan kecamuk laut. Diarungi setiap hari para nelayan. Pemilihan warna cat yang dominan gelap seperti hendak memaparkan dengan gamblang. Bahwa dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, para nelayan mesti bertaruh nyawa. Bahwa untuk melayani hajat makan siang malam penduduk kampung dan kota. Para nelayan kerap berhadapan dengan para tengkulak yang tak pernah berkecukupan dengan kekayaannya. Perihal yang memungkinkan hidup kebanyakan para nelayan kerap memiliki nasib tak baik. Di laut diamuk gelombang. Setiba di darat digulung hutang.

Penggambaran kehidupan nelayan yang coba diangkat Tauris Mustafa dalam muralnya adalah apa yang berlaku dulu dan kini di sekitar kita. Di Aceh, kekayaan hasil lautnya hanya direguk oleh segelintir orang. Itu biasanya meliputi para toke-toke, pemilik boat, dan jangan lupa juga para tengkulak. Yang pada karyanya Tauris mewakilkan para pereguk keuntungan dari kerja keras nelayan dalam seraut wajah samar. Matanya terbeliak hebat, serupa pandangan para hidung belang yang penuh syahwat.

Yang selalu berkutat dengan harap-harap cemas terhadap derita hidup para nelayan adalah perempuan di rumah mereka. Istrinya. Yang dilukis tak kalah samarnya dengan wajah para tengkulak tadi. Melulu memandang ke arah laut. Nanar. Yang dari kejauhan seakan-akan bisa menyaksikan bagaimana otot-otot lengan suaminya mengencang saat menarik pancing. Ada asa yang membuncah dari tatapan nanar itu. Tatapan yang menembus ke sebalik garis horizon, tempat garis langit dan laut bertemu.

Berbaur dengan nelayan di Ulee Lheue setelah menyaksikan mural Tauris Mustafa, aku jadi ingin berpuisi. Kutulis saja seperti di bawah ini.

Ibadah Ikan

Maka tunailah janji ikan, manakala ia telah menyatu dengan bumbu. Lantas pasrah di piring makanmu. Kau santap. Lahap. Yang bersisa adalah tulang belulang para nelayan. Di terpa ombak, dikepung hutang.

Ulee Lheue, Agustus 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *