Narasi Kota Kita: Di Lampu Merah Jalan Sudirman

AKU KELUAR rumah tepat ketika azan Isya menggema di langit Banda Aceh. Aku keluar rumah hendak ke kedai kopi langganan. Rutenya melewati tiga kelokan lorong kampung, tembus jalan besar. Berhenti di lampu merah di satu perempatan. Ambil lurus. Lalu tanpa perlu tancap gas aku menghidupkan lampu tanda kanan untuk kemudian balik arah. Masih dengan laju santai, sepeda motor tinggal kuarahkan ke kiri, karena diseberang aku berbelok arah itulah letak kedai kopi itu.

Sejak tiba di jalan besar setelah melewati lorong kampung, jalanan padat merayap. Suasananya persis sama dengan suasana sabtu malam. Di lampu merah, mobil dan sepeda motor berhenti patuh. Yang berjalan kaki tak ada sama sekali, pengendara kereta angin pun tidak. Lampu hijau masih belum menyala, kepatuhan para pengendara sepertinya akan berlanjut hingga tiga atau mungkin empat puluh detik kedepan.

Dalam penantian selama tiga atau empat puluh detik inilah cerita yang ingin kubagi di sini bermula. Semuanya berawal ketika dari arah belakang para penunggu lampu hijau nyala, satu mobil mewah bergerak cepat dengan membunyikan klakson panjang tanpa henti. Para pengendara lain, terutama pengendara sepeda motor termasuk aku sendiri, serempak menoleh. Sekadar ingin tahu gerangan apa hingga mobil yang belakangan tiba di lampu merah membunyikan klaksonnya tanpa henti itu.

Ketika mendapati mobil yang gaduh tersebut adalah satu unit mobil jenis SUV merk Toyota Fortuner, para pengendara sepeda motor cuma nyengir. Aku juga nyengir, begitu pun orang di samping sopir satu mobil yang berhenti di sampingku juga ikutan nyengir setelah menurunkan kaca mobilnya. Pesepeda motor di depanku tersenyum sinis. Satu becak motor di sampingnya malah mati tiba-tiba. Mungkin mogok oleh sebab tak tahan mendengar bunyi klakson yang memekakkan telinga, dan si abang becak dengan sigap mengengkolnya kembali. Berkali-kali.

Klakson Toyota Fortuner itu masih menggema panjang. Tapi orang-orang di lampu merah, dalam penantian detik-detik lampu hijau menyala tetap bergeming. Barangkali semua sepakat, mereka akan membuka jalan jika yang membunyikan klakson adalah mobil ambulan, tapi yang satu ini bukanlah ambulan. Aku menoleh lagi. Di belakang Toyota Fortuner cerewet itu berderet mobil-mobil serupa kendati berlainan judulnya. Di baris kedua kulihat ada Pajero Sport, lalu Extrail, dan entah apa lagi.

Jejeran mobil-mobil mewah, yang jika diakumulasikan semua harganya akan sangat cukup dipakai oleh Steffy Burase untuk menyukseskan Aceh Marathon, jelaslah bahwa ini rombongan para pejabat teras yang entah siapa gerangannya. Tapi apa hendak dikata. Orang-orang sama sekali tak membuka jalan. Masih patuh menunggu detik lampu hijau menyala. Juga masih dengan santai menoleh ke arah asal suara klakson berbunyi, dan kulihat beberapa pengendara malah bercakap-cakap satu sama lain sambil tertawa-tawa.

Masuk dalam komplotan pengendara yang patuh lampu merah begini rupa aku senang bukan kepalang. Kendati di belakang beberapa mobil rombongan pejabat yang entah siapa sudah mulai membunyikan klakson secara serempak. Lampu merah seakan beku dalam nyalanya yang merah. Semuanya bergerak lamban, selamban lambaian spanduk yang dihela sepoi angin malam yang sejuk. Namun nyatalah adanya, yang melamban ini seketika sirna manakala seseorang dari mobil Toyota Fortuner di belakang membuka kaca jendela. Melongokkan kepalanya keluar, lalu dengan lantang berteriak, “Woii…!”

Itu teriakan yang tak kalah keras dengan bunyi klakson mobil yang ditumpanginya. Aku cukup jelas mendengar kata woi itu. Tapi sayang, lampu hijau sudah keburu nyala, teriakan terputus sementara orang-orang mulai melaju kembali. Tentu dengan laju yang perlahan, terutama becak motor yang tadi mati. Aku mengubah jalur sedikit ke sebelah kanan hingga berada tepat di belakang laju becak itu, dan mau tak mau mengikutinya dengan perlahan pula.

Toyota Fortuner masih bergemuruh. Tapi kali ini bukan oleh sebab bunyi klaksonnya. Melainkan raungan suara knalpot yang hampir serupa dengan suara dengus kerbau jantan jelang ajal saat disembelih tukang jagal pada dini hari Meugang. Gemuruh gas begitu rupa, sudah pasti pertanda si sopir Toyota Fortuner itu tengah mengamuk sendiri. Emosionil sendiri. Sudah pasti merepet dan memaki. Lalu melampiaskan kekesalannya pada pedal gas sembari menginjak pedal kopling kuat-kuat.

Mendengar raungan suara knalpot mobil Fortuner yang kini sudah mulai melaju mengikuti laju para pengendara lain di depannya. Aku jadi merasa kasihan pada semua orang dalam rombongan, terutama pada si sopir Fortuner dan orang yang duduk di sampingnya, yang berteriak woi setelah melongokkan kepala dari kaca jendela. Bisa kubayangkan betapa murka keduanya. Dan kemurkaan itulah yang membuatku sedih dalam rasa kasihan yang berlebih. Itu tidak lain sebab siang tadi, aku membaca satu artikel yang mengungkapkan bahwa pria yang suka marah-marah, yang suka emosi, yang gampang naik darah, adalah mereka-mereka yang cepat mati.

Aku sedih membayangkan seseorang di antara rombongan itu mati oleh sebab marah-marahnya sendiri. Dan ya, aku berdoa semoga mereka tak lekas mati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *