Narasi Kota Kita: Banda Aceh, Ujung Juni 2018

UJUNG JALAN Abdullah Ujong Rimba. Di rumah kopi Teras Kota. Seberang tapak Hotel Aceh yang beton tiang pancangnya dicat warna warni. Di seberang pagar utara Masjid Raya. Kamis, 28 Juni 2018. Aku mendapati Banda Aceh hendak bersiap-siap menuju Isya. Isya yang sama dengan yang sudah-sudah, jauh abad sejak para pedagang Arab memperkenalkan kewajiban ini sebagai tuntunan hidup segenap manusia seisi Bandar.

Sejak saat itu syiar menyebar. Ke pulau-pulau terjauh nusantara. Bandar jadi lebih terkenal karenanya. Selain jadi tempat niaga dan pelabuhan singgah galiung-galiung asing dalam pelayarannya menuju negeri-negeri bawah angin. Bandar ini pula menjadi titik temu guru dan murid. Mahasiswa-mahasiswa dari negeri asing berdatangan, sementara yang alim-alim melakukan perjalanan dan berdakwah ke tempat-tempat terjauh.

Sebagi tempat bertemu guru dan murid, sebagai tuan rumah bagi mahasiswa-mahasiswa asing menimba ilmu. Aku membayangkan Bandar ini pada abad-abad silam tak ubahnya kota-kota besar dunia, yang punya plot dana untuk pelbagai beasiswa dan penelitian. Gezah intelektualitas Bandar memuncratkan sinarnya. Kitab-kitab dikarang, pustaka-pustaka dibangun, dan para cendikia melangsungkan debat ilmiah mereka dalam jurnal-jurnal, atau ruang debat terbuka.

Sudah tentu yang kubayangkan itu bukanlah suatu kebenaran mutlak. Namun sejarah akan keagungannya telah tertulis dalam banyak naskah, telah dicetak dalam banyak buku. Hanya saja, sejarah keagungan abad-abad silam adalah suatu hal yang melenakan. Bisa membikin orang melulu menoleh ke belakang hingga melupa untuk melangkah ke depan.

Membaca sejarah tanpa memakai pisau analisa adalah ihwal yang membuat nalar jalan di tempat. Logika tumpul, dan pikiran kian hari kian terkikis sifat kritisnya. Lalu kecendiakaan kita hanyalah berupa cendikianya para taklid buta.

Untuk menepis diri dari memahami teks sejarah secara taklid buta. Yang mengelu-elukan sejarah kegemilangan sambil memarkirkan mobil tanpa mau tahu mengganggu orang lain, aku selalu menegaskan diri untuk melihat Banda Aceh kini dengan sangat hati-hati. Mengakui perihal-perihal baik yang pernah berlaku di sini tanpa harus menafikan keburukan-keburukannya juga.

Dengan pemahaman seperti itu, Banda Aceh selalu bisa membuyarkanku dari lamunan tak penting ketika seorang diri. Menyelinap dalam pikiranku untuk kemudian menghadirkan diri dalam kesegaran yang berbeda-beda. Ihwal kenapa aku bisa memulai menulis beberapa tulisan berseri dengan judul awalan Narasi Kota Kita.

One Reply to “Narasi Kota Kita: Banda Aceh, Ujung Juni 2018”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *