Menjadi Pahlawan Bagi Seekor Biawak Malang

ADA BIAWAK dalam kepalaku. Seekor saja. Datang entah dari mana, tahu-tahu sudah ada begitu saja. Meringkuk dalam batok kepala. Sesekali melata, menjelajahi rimba otak yang basah, penuh lendir. Ketika ia melata, saraf-saraf di kepalaku menegang. Aku pusing bukan kepayang.

Hari pertama ia ada, aku membiarkannya, tak menggubris sama sekali. Sebab kupikir, biawak itu hanyalah halusinasi belaka. Apa lagi setelah kuingat-ingat, aku memang pernah melihat biawak beberapa kali melintas di belakang rumah. Tapi kemudian, apa yang kuanggap halusinasi ternyata salah besar. Biawak itu adalah senyata-nyatanya biawak yang hidup di rawa-rawa daerah pesisir atau di semak belukar sebuah tanah kosong sekitar pemukiman warga. Dan aku benar-benar menyadari keberadaannya ketika ia pertama kali keluar dari ringkukannya.

Itu terjadi pada satu siang yang payah. Oleh sebab angin kencang tengah gencar-gencarnya dan matahari mendera kotaku dengan segala kehebatan yang dia punya. Ketika biawak keluar dan lantas melata, mungkin lebih tepatnya berenang dalam lendir otak, kepalaku serasa meuguyak (guyak: kata bahasa Aceh untuk menjelaskan goyangan yang disebabkan oleh riak kecil dalam air). Aku panik. Kepala berdenyut. Denyut sama yang kurasakan ketika migrain akut yang kambuh setiap akhir Mei menyerangku dengan hebatnya. Padahal ini sudah Agustus saja.

Kau tahu, menyadari ada biawak dalam kepalamu selagi mengalami pusing tanpa ampun begitu. Bikin kau menderita berkali-kali lipat dari segala siksaan yang mampu dilakukan Tim Mawar Kopassus terhadap aktivis 98.

Siksaan itulah yang kualami pada siang paling bedebah itu. Dan biawak makin berleha-leha dalam kepala. Berenang kesana kemari, dan denyutan yang diciptakan oleh guyak lendir dalam otak membuatku ingin membenturkan kepala ini ke tembok berkali-kali. Tapi kesadaran lain, sebentuk kesadaran manusiawi untuk sesegera mungkin menghindarkan diri dari segala hal yang bisa mencelakakan tubuh, mengurungkan niat membenturkan kepala di tembok. Aku memilih tersuruk dalam kehoyongan seorang pemabuk. Lalu kepada ranjanglah aku menyerahkan diri sambil berusaha memejamkan mata.

Aku berbaring. Gelisah. Dalam keterpejaman mata di atas ranjang, biawak yang sedang sangat aktif di kepalaku makin tampak nyata. Itu biawak kecil. Anak biawak lebih tepatnya. Lidahnya yang bercabang menjulur lunglai. Mukanya sejelek biawak terjelek sedunia. Matanya kuyu. Mengerjap tak keruan. Empat kakinya pendek lengkap dengan kuku elangnya, tajam, mencengkeram suluran-suluran otak di kepala. Kupikir, cengkeraman itulah yang membuat kepalaku berkedut dan menyebabkan sakit kepala yang sudah pasti tak bakal mempan sembuh hanya dengan menenggak pil merk oskadon.

Keringat sudah mulai keluar dari pori-pori dahi. Aku masih berpejam, dan membiarkan keringat itu mengucur untuk kemudian menghilang di sela-sela anak rambutku. Biawak dalam kepala sudah tak melata lagi. Tapi cengkeraman kuku elangnya terasa makin kuat. Ia berdiam diri. Barangkali tengah memikirkan sesuatu. Andai kata benar biawak itu sedang memikirkan sesuatu, sudah pasti ia mencangkok kerja otakku hingga bisa berpikir. Sebab, mana ada binatang di dunia, konon lagi binatang sehina dia, yang bisa berpikir sebagaimana manusia.

Oleh sebab ia berpikir dengan meminjam otakku, aku tahu apa yang sedang dipikirkannya. Tapi ketika aku mencoba menyeka keringat yang lain, aku tahu ia bukannya berpikir, tapi lebih tepatnya sedang mengenang sesuatu. Lebih tepatnya lagi mengenang seekor biawak betina yang menetaskan telurnya di otakku, hingga kemudian ia keluar dari cangkangnya pada siang yang kering, panas, dan kepayahan oleh sebab angin kencang.

Seekor biawak kecil yang mengenang ibunya selagi ia terdampar dalam kepalaku, bagaimana pun juga, bikin aku iba hati juga. Dalam kepeningan luar biasa sebab kuku elangnya yang tajam itu, aku berusaha sekuat tenaga menepis penderitaan ini. Lantas memilih memusatkan pikiran, memikirkan cara bagaimana mengeluarkannya dalam perangkap yang tak lain adalah kepalaku sendiri. Benar. Aku ingin membebaskan biawak malang ini, dan melepasnya dalam rawa-rawa dekat pantai atau mungkin juga di semak belukar tanah kosong sekitaran rumah warga.

Untuk rasa kasihanku pada biawak kecil yang telah membuatku harus terbaring sambil berpejam begini rupa, aku jadi terkesima sendiri. Aku merasa, saat itu juga tengah bertindak seidealnya tindakan seorang pahlawan. Bertindak hampir sama dengan seorang aktivis pecinta binatang. Yang lebih memilih melakukan demonstrasi besar-besaran manakala tahu seekor katak naas dan pipih di aspal jalan oleh sebab ban mobil seorang pejabat pemerintahan. Tapi diam dengan sebenar-benarnya diam (pura-pura tak tahu) atas penghilangan kepemilikan tanah orang kampung di Kuala Seumayam atau di Kulon Progo sana.

Bertaut dengan cerita penghilangan kepemilikan tanah orang-orang kampung oleh penguasa, aku jadi bingung sendiri. Biawak kecil itu menghilang seketika. Dan kesadaran lain segera muncul setelahnya, bahwa yang sebenarnya terjadi adalah: aku terlalu banyak mengada-ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *