Menjadi Ayah Sebaik Pak Beye

“JIKA INGIN jadi orang tua yang baik bagi anak-anaknya. Contohlah perilaku Pak Beye. Mantan presiden kita itu. Jangankan masih kanak-kanak, sudah dewasa pun AHY ditimang-timang dengan penuh kasih sayang.”

Itulah ungkapan yang kudengar dari seorang bapak-bapak ketika ngopi di kedai langganan petang tadi. Penampilannya parlente. Dia bicara dengan seorang temannya yang tak kalah parlente, dan dari apa yang dibicarakan, bisa kutaksir keduanya tak pernah ketinggalan berita dalam dan luar negeri, dalam dan luar provinsi, terutama berita-berita politik.

Terhadap pernyataan si bapak yang bicara pertama tadi, si bapak satunya lagi mengangguk setuju. Saat hendak menimpali, aku cukup menyimaknya tanpa harus memperlebar daun kuping. Pasti ini pembicaraan menarik untuk kudengar, toh, meja kopi mereka cuma terpisah sejuluran tangan dari meja kopiku. “Kalau itu aku setuju kali. Kasih sayang Pak Beye pada anak-anaknya memang tiada duanya. Dalam hal itu, jangankan kita berdua, Pak Jokowi saja kalah telak. Masa sudah jadi presiden gitu, dia masih biarin anaknya jualan martabak?”

“Itulah,” jawab si bapak pertama dan kemudian terbahak-bahak sendiri.

 

“Tapi kalau benar nanti Pak Bowo bertandem dengan AHY, kira-kira bakal menang tidak ya?” Tanya bapak kedua pada temannya.

“Agak gampang-gampang susah juga memprediksinya, kukira. Tapi yang jelas pasangan Bowo-AHY bukanlah pasangan remeh temeh, ya. Secara dua-duanya punya trah kemiliteran, sama-sama punya partai besar. Sama-sama punya ambisi besar pula.”

“Tapi ambisi Pak Beye tampak jelas sekali,” timpal bapak kedua.

Si bapak pertama tak langsung menyahut. Ia menoleh ke arahku. Sekilas saja. Kukira ia telah menyadari kalau pembicaraan mereka telah kusimak sedari tadi. “Dek, kau milih siapa waktu pemilu presiden dulu?” Ia bertanya padaku. Aku gelagapan. Kikuk. Bukan tak tahu harus menjawab apa dari pertanyaannya itu. Tapi kikuk sendiri sebab merasa sudah dipergoki atau ketangkap tangan atas ulahku yang mencuri dengar omongan keduanya.

Bapak kedua menoleh. Lalu tersenyum. Keduanya tersenyum ke arahku, seperti sedang menikmati kekikukan gelagatku sambil menunggu jawaban keluar dari kerongkonganku. Agak kering juga kerongkongan oleh sebab pertanyaan tiba-tiba dari orang yang kukenal. Kuseruput kopi sekadar menghilangkan gugup yang melanda, lantas kujawab, “Pilpres kemarin aku tak coblos siapa-siapa, Pak. Bukan mau golput. Tapi waktu pemilihan, kebetulan, aku tertidur sepanjang hari. Pas bangun TPS sudah tutup. Berita-berita sudah tayangin hasil hitung cepat, Jokowi menang.”

Mendengar jawabanku sepanjang itu, dua bapak di sampingku terbahak. Si bapak kedua, menyosorku dengan pertanyaan aku akan pilih siapa pada pilpres 2019 nanti. “Itu pun kalau nanti kau tidak tidur seharian lagi ya,” katanya sambil tertawa lepas. Aku tak langsung menjawab, tapi balik menebak dan mengatakan bahwa keduanya pendukung Jokowi.

Bapak pertama menangguk. Yang kedua menggeleng. “Aku Bowomania,” jawabnya sambil tertawa lagi. Nyaris terpingkal-pingkal. Aku ikut tertawa melihat cara kedua bapak-bapak itu tertawa. Apalagi ketika si bapak pertama mengulang kata bowomania dengan intonasi milik pemenang pertandingan adu ponco.

Menyadari keduanya tak menyoalkan ulah mencuri dengar obrolan mereka pertama tadi. Aku memberanikan diri untuk bertanya lebih lanjut. Terutama tentang figur Pak Beye, yang kata bapak pertama, adalah tipikal orang tua percontohan bagi para orang tua di seluruh Indonesia. Pertanyaanku yang seperti itu membuat keduanya seserius tadi. Mereka tenang kembali. Tawa mereda. Lalu sambil mencomot sebiji boh rom-rom dan kemudian memasukkannya kemulut, ia menggeser kursinya sedikit lebih dekat lagi denganku.

Setelah jakunnya naik turun dua kali, pertanda boh rom-rom yang dikunyahnya dipaksa telan sebelum waktunya. Mungkin biar lekas-lekas bisa bicara jelas padaku, ia mengatakan bahwa Pak Beye memang tipikal orang tua penuh kasih sayang terutama pada anak-anaknya. Menurutnya itu terbukti dari cara-cara Pak Beye dalam mendekati Jokowi atau Prabowo.

Pak Beye mungkin pernah berharap pada Jokowi agar ia mau bertandem dengan anaknya yang gagag ganteng itu pada pilpres 2019. Tapi ketika menyadari Jokowi sok-sok jinak-jinak merpati tanpa memberi sinyal yang jelas. Pak Beye, demi kejelasan pekerjaan anaknya yang mungkin telah jadi pengangguran sejak mundur dari karir kemiliteran, mendekati Pak Bowo. Tentu usaha dekat mendekati dua figur yang jelas-jelas pernah berseteru dalam pilpres terdahulu dan kemungkinan besar akan berseteru lagi dalam pilpres tahun depan. Ini butuh nyali besar.

“Kalau bukan untuk kemaslahatan hidup anaknya, ngapain coba Pak Beye harus bertebal-tebal muka. Harus bercapek-capek hingga harus masuk rumah sakit segala.”

Aku manggut-manggut. “Kamu nanti. Kalau sudah kawin dan punya anak. Jadi ayah. Kau ikutlah cara Pak Beye menyayangi anak. Harus bisa betul-betul sayang sejak masih bayi, bocah, remaja, hingga dewasa. Sayangnya awet betul.”

“Kalau begitu AHY beruntung betul dong, Pak,” tukasku.

“Beruntung. Siapa yang tidak merasa beruntung punya orang tua sebaik Pak Beye, coba?”

Aku manggut-manggut lagi. Sambil mendengar si bapak pertama berceloteh terus tentang Pak Beye. Kulihat bapak kedua tengah sibuk dengan gawainya. Aku pun ikut serta. Kubuka aplikasi youtube di gawai sendiri. Di kotak pencarian kuketik, “Album pertama SBY.” Entah kenapa, tiba-tiba aku ingin mendengar lagu-lagu yang pernah diciptakannya.

Images source: 1, 2,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *