Memoar Kampung Asal: Keheningan Seorang Ibu

KAU PULANG dan mendapati rumah tengah menghanyutkan diri dalam keheningan yang canggung. Itu pada suatu petang pekan terakhir bulan ramadhan yang riuh, ketika ibu sedang menyiapkan menu berbuka puasa. Salam yang kau ucapkan terjawab dengan lirih. Tapi cukup mengungkapkan rasa sentimentil seorang perantau yang baru menginjakkan kaki di rumah asalnya. Setelah bertahun-tahun tinggal di kampung orang.

Dengan tergopoh-gopoh ibu menyambutmu di teras rumah, demi mendengar suara salammu. Ibu adalah satu-satunya orang yang menghafal warna suaramu. Sebagaimana ia tak pernah melupa suara anak-anaknya yang lain. Pula selalu bisa membedakan mana suara si sulung atau si bungsu.

Ada keharuan yang tak terkatakan manakala seorang anak berjumpa dengan ibunya setelah sekian tahun lamanya. Mungkin ada peluk setelah jabat tangan penuh takzim. Tapi yang membikin semuanya jadi lebih mengharu biru adalah ketika kau dapati seisi rumah telah demikian membeku dalam keheningannya. Keheningan yang kelak kau sadari menyebar dari hati dan mata redup ibumu.

Ayah telah lama berpulang. Abang telah membangun keluarganya sendiri. Kakak ikut suaminya tinggal di kota lain. Adik belum juga pulang dari kota tempat ia melanjutkan sekolah. Dan kau adalah perantau yang selalu punya alasan tak terelakkan untuk tidak pulang sekian tahun lamanya. Mungkin sejak acara tahlilan ke seratus hari meninggalnya ayah, enam tahun lewat.

Ibu masih berdiri di hadapanmu. Matanya menggenang. Ihwal kenapa kelopak matamu turut membandang. Untuk menyembunyikan air yang membulir dari kelopak mata, kau mengalihkan pandangan ke bingkai-bingkai foto di dinding ruang tamu. Pula foto-foto kusam tanpa bingkai yang dipajang dengan cara menyandarkannya pada gelas-gelas antik dalam bufet. Di sana kau menemukan keheningan dalam bentuk lain. Cukup membuat dadamu serasa dihimpit dari segala sisi dan tiba-tiba kau dihinggap perasaan bersalah.

Ibu telah beruban. Sekujur tubuhnya diliput keriput. Mengerut. Laju tahun telah menuakan segala makhluk, tak terkecuali ibu. Tapi seorang ibu tak pernah menyesali keniscayaan itu. Tak bisa pula ia menyesali keniscayaan sebuah rumah yang akan kehilangan riuhnya. Tepat ketika satu per satu anaknya pergi meninggalkan rumah untuk memenuhi arung hidup masing-masing.

Yang ia sesali—lebih tepatnya: yang kerap membuatnya berkali-kali lebih hening dari potret-potret kusam itu—adalah ketika ia menyiapkan menu berbuka puasa yang hanya akan disantap oleh dirinya sendiri.

Ibu punya caranya sendiri untuk membebaskan diri dari keharuan. Meski telah agak ringkih, ia akan kembali tergopoh-gopoh pergi ke belakang. Sekadar menyiapkan meja makan untuk anaknya yang baru saja pulang. Sementara kau masih termangu di ruang tamu, ruang belakang telah agak riuh dengan denting sendok, gelas, dan piring—betapa sibuknya ibu di meja makan. Kesibukan yang membuat hatinya riang sebab telah punya teman berbuka puasa. Konon lagi teman itu adalah anaknya.

Keheningan yang tak terkirakan, yang baru kau sadari beberapa saat tadi, kini telah berbalik. Tak ada yang bisa memeriahkan hati seorang ibu kecuali saat ia menyiapkan menu buka puasa untuk anaknya yang baru saja pulang. Mendengar denting gelas, sendok, dan piring ia bersenandung dalam hati. Berupa kidung-kidung yang pernah dilafalkannya ketika ia meninabobokanmu dalam ayunan dulu.

Tahu benar ibu, kedatangan anaklah yang membuyarkan segala hening itu. Hal mana yang membuatnya kini mulai berani berangan-angan; betapa meriahnya hari rayanya nanti. Hal mana yang membuatnya kini lebih bersemangat untuk membuat timphan esok hari. Juga berancang-ancang untuk sesegara mungkin bisa memasak daging meugang, kari, sop, masak puteh, atawa rendang.

Sirine tanda buka puasa berbunyi dari corong pengeras suara meunasah. Ibu meneguk air putih. Setelah terlebih dahulu memastikanmu meneguk kopi dan menyodorkanmu boh rhom-rhom atawa timphan balon. Barangkali, tahun-tahun penuh hening tuntas sudah. Meski ibu tahu, itu hanya berlaku sebelum kau pamit lagi nanti. Dan ritual keheningan rumah yang bermula dari redup mata dan ulu hatinya mewujud kembali.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *