Kodok di Toilet

BARUSAN AKU ke kamar mandi sekaligus kamar buang hajat—kecil atawa besar. Aku kencing dengan khidmatnya. Menikmati sensasi pelepasan yang begitu melegakan setelah di jalan pulang sebelum sampai rumah, selangkanganku mesti terkepit-kepit sedemikian rupa. Pendengaranku fokus tertuju pada suara kucuran air seni yang kini membuih di lubang kloset. Saat hendak membilas, seekor kodok nyelonong dari mulut pipa pembuangan air yang letaknya di sudut, berjarak sedepa dari dudukan kloset. Aku batal menciduk air dalam bak saat itu juga. Fokus mataku langsung mengarah padanya, yang kini mendongakkan kepalanya. Balik menatapku dengan tenangnya.

Mendapati cara ia menatapku, aku sedikit bergidik. Bukan karena takut, alergi atau merasa jijik. Tapi lebih kepada curiga oleh caranya mendelik begitu rupa. Bentuk matanya yang nyaris sama dengan mata buaya. Dalam waktu-waktu tertentu bisa menampilkan diri sebagai binatang sok sayu. Dengan cara menatapku seperti itu. Aku jadi grogi. Pikiranku langsung mengarah pada asumsi-asumsi tak masuk akal yang diawali dengan frasa, “Jangan-jangan … dan seterusnya.” Hampir 60 detik aku terpelongo dengan asumsi-asumsi absurd. Tak langsung cebok hanya untuk bersitatap dengannya.

Setelah cebok aku cepat-cepat keluar kamar mandi. Kututup pintu dan kukunci dari luar. Aku ingin menghukum kodok tak tahu diri itu dengan mengurungnya di sana. Biar tahu rasa dia. Sudah main nyelonong masuk kamar mandi orang. Lalu sok akrab pula gayanya. Tapi sebelum menutup pintu rapat-rapat. Kusempatkan sekali lagi melirik ke arahnya yang masih bersimpuh di lantai. Masih di tempat semula. Belum melompat kemana-mana, meski mukanya yang jelek itu sudah tak lagi menghadap dudukan kloset. Melainkan menghadap pintu. Tempat di mana aku berdiri sekadar memastikan sebelum mengurungnya dari luar.

Saat itulah kontak mataku dengan mata kodok bedebah itu terjadi untuk kedua kalinya. Sekali lagi aku terpaku seperti saat hendak cebok tadi. Namun kali ini, aku sudah tak bergidik. Asumsi negatif yang terlintas di pikiran sebagaimana pada kali pertama tidak datang sama sekali. Namun berganti dengan suatu ingatan, “Sepertinya aku pernah mengenal kodok ini. Kayaknya aku pernah berjumpa dengannya sebelum ini. Tapi di mana ya?”

Selagi mengingat-ingat kembali pernah ketemu di mana aku dengan kodok sialan ini dalam alam bawah sadarku. Kodok itu melompat sekali lagi. Dudukannya kini sudah di bibir pintu. Lalu aku mendengar ia berkata, “Kau masih ingat aku rupanya, ya? Syukurlah. Tapi kau lupa pernah ketemu aku di mana, iya begitu? Hahahaha.” Aku terperanjat. Mendengar kodok berkata-kata dan bisa memahami bahasanya tentu saja butuh mukjizat Nabiyullah Sulaiman alaihissalam. Tapi entah ilham dari mana, aku bisa memahami kata-katanya kini. Hal yang membuatku, alih-alih gembira, tapi malah lagi-lagi bergidik. Kali ini sejenis gidikan seorang pecundang. “Jangan-jangan, kodok ini siluman.”

“Kau pikir aku siluman, hah? Hahaha,” katanya, seakan bisa membaca pikiranku. “Tenang, kawan. Aku ini temanmu. Apa kau tak ingat dulu, kita besar di kolam yang sama. Berenang-renang kesana kemari bersama-sama. Kita sama-sama diteriaki cebong, tapi kita tetap bertahan dan tak pernah menggubris risakan anak-anak tak tahu untung itu,” ujarnya lagi.

Aku bingung bukan kepalang. Seekor kodok mendaku-daku diri sebagai teman sepermainanku. Aku menggigil. Keringat dingin berkucuran di jidat. Bibirku bergerak-gerak tapi tak mengeluarkan sepatah kata. Lututku gemetar hebat. Di saat yang sama alam bawah sadarku memutar kejadian-kejadian silam. Masa-masa aku lahir, dan … Astaga! Benarlah adanya. Akulah kecebong yang ketika hendak menjadi katak, aku kena kutuk berubah jadi manusia. Hingga harus menanggung sesak kencing seperti di jalan pulang tadi. Hingga harus tergopoh-gopoh lari ke kamar mandi. Hingga di waktu-waktu tertentu harus menderita mencret-mencret hanya gara-gara kelebihan makan rujak.[]

Image source: 1,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *