Kiat-kiat Membebaskan Diri Dari Jerat Calo Beasiswa

AKU PERNAH bermimpi bisa melanjutkan studi lagi. Aku pernah terdaftar sebagai mahasiswa tingkat lanjut program paska sarjana sebuah kampus negeri di Banda Aceh. Jalan tahun ketiga kuliah di situ, telah habis semua mata kuliah. Tinggal bikin penelitian, menulis tulisan akhir, lalu sudah. Tapi di tahun ketiga itulah, kata sudah yang kumaksud tadi malah berujung pada kata tak berkesudahan. Setidaknya hingga sekarang ini.

Mimpiku sederhana. Apa lacur, mimpi itu harus kupendam dalam hati oleh sebab soalan klise: faktor ek[onomi]! Faktor itu pula yang membuatku didatangi oleh seorang teman (tak seberapa dekat) dan menawarkan solusi agar bisa melanjutkan kuliah lagi. Itu terjadi pada tahun keempat. Ketika aku sudah memutuskan jadi juru tulis berita di sebuah portal berita lokal, yang sejak beberapa tahun lewat telah tutup usia gara-gara pelbagai skandal. Tentu saja keputusan itu kuambil demi satu tekad: bisa mengumpulkan jerih yang ada untuk membunuh ketidakmampuanku akan biaya.

Solusi yang ditawarkan teman yang tak seberapa dekat itu adalah agar aku mengurus beasiswa. Katanya, “Hari gini masih pakai uang kuliah sendiri? Rugi. Beasiswa banyak, kenapa tak dimanfaatkan saja.” Ada benarnya juga dengan ledekan teman saat itu, tapi kukatakan padanya, “Beasiswa ada. Tapi yang pernah kudapat bukan beasiswa penuh.”

Si teman balik bertanya, apakah aku mau menyiapkan berkas sekira ada beasiswa yang jumlahnya cukup untuk beli mahar sekira aku kebelet kawin di tahun itu. Antusias sekali aku jawab, “Detik ini juga akan kusiapkan segala keperluannya.” Si pembawa solusi sumringah mendengar jawabku. Tapi yang kuingat, ia bukannya langsung memberi persyaratan yang harus kusiapkan. Melainkan terlebih dahulu mengatakan bahwa beasiswa yang ditawarkannya ini bersifat rahasia.

Saking rahasianya, si teman kemudian membeberkan dengan sangat hati-hati, setengah berbisik beberapa syarat lisan yang harus aku iyakan. Itu harus kusetujui terlebih dahulu sebelum menyiapkan syarat-syarat dalam bentuk bundelan berkas bukti perkuliahan. Syarat lisan itu membuatku terpana. Melongo seperti seorang pesakitan. Si teman yang tak seberapa dekat itu tiba-tiba saja berubah jadi wujud paling asing bagiku. Seketika saja ia berubah jadi tukang palak, begitu cangklak, tapi lebih tepatnya bisa kugambarkan bahwa inilah solusi paling celaka yang pernah kuterima.

“Karena beasiswa yang ingin kau usul adalah beasiswa tugas akhir. Itu jumlahnya bisa dua puluhan juta lebih. Tapi untuk urusan ini itu, kau harus setuju menyisihkan sebagian darinya untuk orang-orang yang mengurusnya,” terangnya.

“Berapa?”

“Ya pembagiannya kira-kira 30 banding 70.”

“Sudah fix segitu?”

“Sudah.”

“Tak ada tawar menawar lagi?”

“Kau mau tawar berapa?”

“Bagaimana kalau pembagian yang kau sebut tadi, kita balik. Aku 70, kau dan orang-orang yang mengurus ini itu dapat 30. Bagaimana?”

“O. Tidak bisa. Tidak bisa begitu.”

“Jadi yang bisa bagaimana?”

“Ya seperti kusebut tadi.”

“Oke.”

“Kau setuju?”

“Maaf. Aku tidak setuju.”

“Tidak rezekimu kalau begitu.”

“Aku sama sekali tak berharap rezekiku datang dari orang-orang sepertimu.”

Ia tersinggung. Aku apa lagi. Tawar menawar pembagian jatah itu benar-benar menyinggung perasaan. Membuat jeri ulu hati. Aku hendak dijadikan komoditi. Celaka sekali. Tiga tahun kuliah lanjutan dan kemudian didatangi calo beasiswa adalah sebuah kesialan intelektual yang tak terkira. Kesialan yang membuatku jadi sentimentil sendiri, dan kemudian bertekad: persetan putus kuliah dari pada putus saraf di kepala.

Lantas ia berlalu, sambil dengan sinis berkata, “Baru kau seorang yang menolak tawaran ini. Orang sudah kemana-mana, kau masih sok idealis dan masih sombong begini.” Aku tergagap. Tapi alhamdulillah, ilham itu datang juga, dan kukatakan padanya, “Tak mengapa. Setidaknya hari ini kau tahu berapa harga sombong yang kupunya. Nanti kalau sudah cukup modal jangan sungkan datang lagi. Siapa tahu untuk yang kedua kali aku berubah pikiran, dan kukasih diskon biar kau banyak rezeki. Jangan lupa sampaikan salamku buat ibumu. Salam manis. Tapi jangan sampai kedengaran bapakmu.”[]

2 Replies to “Kiat-kiat Membebaskan Diri Dari Jerat Calo Beasiswa”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *