Ketika Banyak Orang Berubah Jadi Cebong dan Kampret

JELANG PEMILIHAN calon presiden yang partai puncaknya tinggal menghitung pekan saja, Indonesia makin gegap gempita. Seluruh Indonesia terlibat dalam pembicaraan, dukung-mendukung, siapa yang pantas jadi orang nomor satu periode lima tahunan kedepan. Yang naik jadi calon adalah seteru lama, meski pasangan (bukan ranjang) yang dipilih masing-masing mereka kali ini berbeda. Pada periode sebelumnya kedua orang ini sudah pernah saling adu taji. Mengantarkan yang satu jadi petahana pada periode sekarang, dan satunya lagi tampak sebagai lawan abadi yang terkepung banyak ambisi pribadi. Apa yang terjadi pada periode ini lebih kurang sama dengan yang dulu-dulu, tapi letak bedanya terang terdapat pada cara-cara mendukung para simpatisan di kedua kubu.

Sungguh, seteru Jokowi versus Prabowo dalam masa kampanye calon presiden kali ini telah membelah Indonesia dalam dua kubu besar. Kubu-kubu kecil tetap ada, dan akan kita bicarakan di sini sebagai orang-orang di luar pagar saja. Maka mari berfokus pada yang besar-besar terlebih dahulu. Semisal fakta tentang penamaan antar dua kubu besar itu. Yang satu punya nama panggilan khas kepada kubu lawannya. Begitu pun sebaliknya. Yang satu disebut Cebong. Satunya lagi dilakab Kampret.

Hingga tak pelak lagi, jadilah sebagian besar orang di Indonesia saling mengidentifikasi, lebih tepatnya saling maki memaki dengan dua istilah yang demikian. Jika tidak Cebong seseorang, maka Kampret-lah ianya. Begitu pun keterbalikannya. 

Adapun Cebong adalah sebutan yang dialamatkan kepada pendukung Jokowi yang petahana itu. Sementara Kampret tidak lain sebutan balasan para Cebong kepada yang mendukung Prabowo. Inilah yang membuat Indonesia tampak maha asyik dalam dua tahunan ini. Lebih-lebih jelang partai final pemilihan presiden yang akan dihelat bulan April nanti. Dibilang maha asyik oleh sebab seteru dua kubu ini telah memunculkan banyak hal yang lucu-lucu. Drama politik penuh muslihat dan intrik telah membikin banyak orang tertawa, terutama bagi mereka yang berada di luar kubu besar dan berkumpul dalam kubu-kubu kecil yang (tak) seberapa penting itu.

Hujat menghujat antar pasukan Cebong dan Kampret benar-benar telah membikin meriah alam demokrasi Indonesia. Itu di satu sisi. Tapi pada sisi yang lain, tampak gamblanglah adanya, bahwa kebanyakan para pasukan Kampret dan Cebong adalah orang-orang yang berpolitik secara taklid buta saja. Kerjaannya cuma ikut-ikutan belaka. Tak pernah mau tahu fakta, yang penting dukung, yang penting ikut teriak, ikut viralkan meme yang menyerang kubu lawan. Sudah itu habis perkara.

Sungguh, kedudukan para taklid buta inilah yang kerap mengantarkan para ‘pengabdi setan’ di dunia politik melulu mendapat tempat dalam kancah perpolitikan Indonesia. Para ‘pengabdi setan’ di dunia politik termaksud secara gamblang tertuju kepada mereka yang lebih mementingkan keuntungan pribadi tinimbang mengurus negara–katakanlah para koruptor, selebihnya bisa dicari sendiri. Para pengabdi setan perpolitikan inilah sebenar-benarnya orang yang meraup banyak untung di tengah-tengah seteru para pendukung taklid buta.

Seorang politikus berperangai buruk bin bejat akan tampak alim di kalangan para Kampret hanya gegara sama-sama mendukung Prabowo. Seorang politikus bajing loncat akan tampak bijak di mata para Cebong karena berada satu barisan di belakang Jokowi.

Begitulah. Keberadaan para politikus yang seperti ini benar-benar telah menjadi parasit, baik di tubuh Prabowo atau pun di tubuh Jokowi sendiri. Bagi mereka, mendapat hujatan dan sumpah serapah di kubu lawan sama sekali tak jadi soal. Toh, mereka akan tetap tampak bongsor-bongsor, tambun-tambun. Asalkan rajin memancing, asupan makanan akan terus mengalir dari para pendukung taklid buta. Umpan pancingan pun gampang-gampang saja. Cukup lemparkan isu-isu buruk ke calon presiden kubu lawan. Isu agama paling mempan dari pelbagai isu yang ada. Para Cebong atau Kampret taklid buta akan dengan suka rela memamahnya, menjadikan isu-isu itu jadi mesiu tambahan untuk perang hujat menghujat di lini massa.

Kalau sudah begini, yang tidak mendukung siapa-siapa mau bagaimana? Tak usah bagaimana-bagaimana. Mari nikmati saja pada seteru yang ada. Toh, ada DILDO yang menyelamatkan akal waras kita.


Image 1. by Farraz Tandjoeng, source: vice.com, Image: 2, 3.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *