Hendak Kutulis Tentang Belajar Anatomi, Tapi Urung

DENGAN CELAKANYA Diyus menggangu proses aku menulis malam ini. Sudah kutulis sekalimat pembuka untuk paragraf pertama, dengan seenaknya dia memaksa aku membaca tulisannya yang sudah selesai. Mau tidak mau aku harus menurut. Membaca. Tapi urusannya tak kelar di situ saja. Malah berbuntut pada pertanyaan-pertanyaan darinya. “Gimana menurutmu tulisan itu? Apa yang kurang? Ada yang perlu kutambah tidak?”

Celakalah aku yang hendak menulis tapi kemudian konsentrasi yang kuhimpun sejak magrib tadi buyar oleh sebab suruhan penuh pemaksaan itu. Celakalah lagi ketika buntut pertanyaan-pertanyaannya tentang tulisannya mesti kutanggapi detik itu juga. Kupikir, inilah penderitaan hidup satu-satunya yang kualami dalam seharian ini. Sampai-sampai aku bertanya dalam benak sendiri, “Dosa apa yang kuperbuat ini hari?”

Tadinya aku hendak menulis tentang kiat-kiat menulis yang pernah diajarkan oleh seorang praktisi sastra beberapa tahun lewat. Tapi sekarang yang hendak kutulis itu, sekalimat pembuka di paragraf pertama itu, kuhapus secara telak. Berkutat dengan sesuatu tema yang mandeg secara tiba-tiba kerap tak pernah menghasilkan apa-apa. Bakal tulisan akan terbengkalai begitu saja. Perihal yang tak pernah kuinginkan terjadi. Dan cara terbaik untuk menampik gejala perilaku buruk menulisku itu adalah mengenyahkannya dari mata baca.

Maka untuk mengisi kekosongan halaman tempat aku menulis sekalimat pembuka yang telah kuhapus, kutulislah uneg-uneg ini. Di samping kuanggap sebagai latihan menulis cepat sebagaimana biasa dilakukan para jurnalis straight news. Pula sebagai usahaku menerapi pikiran dari ledakan kekesalan. Lagi pun, setelah kupikir-pikir, menuliskan uneg-uneg yang mengganjal dalam hati adalah satu cara terbaik mendewasakan emosi.

Mendewasakan emosi. Masyaallah. Secelakanya Diyus yang membuyarkan konsentrasi menulisku tadi. Aku kayak merasa harus berterima kasih pula padanya. Frasa ‘mendewasakan emosi’ yang tertulis spontan di atas itu, kalau boleh kuklaim secara sepihak sebagai penemuan padanan kata, oleh sebab gangguannyalah kejadian itu mengada. “Aktivis HAM, aktivis perempuan, apa lagi ya?” Diyus tanya lagi ke aku. Hampir buyar lagi konsentrasiku. Tapi kepalang tanggung. Sudah 300 kata begini, merugilah aku kalau ini kuhapus lagi.

Sampai di 300 kata tadi, uneg-unegku tumpas sudah. Emosiku terasa santai seperti semula. Hati plong tanpa ada yang mengganjal lagi. Kini tiba saatnya aku melanjutkan tulisan ini agar bisa memuaikan diri hingga mencapai lima ratusan kata. Tapi celakanya (sekali lagi) @sangdiyus sudah bungkam sejak dua menit lewat. Padahal saat-saat genting seperti ini perlulah aku sesuatu gangguan yang menginspirasi, lebih-lebih dari seorang bernama Diyus.

Apa boleh buat dia itu masih saja bungkam. Matanya terpacak di layar laptopnya, mengedit tulisannya. Dan tak ada cara lain bagiku, demi tercapainya hajat tulisan berisi lima ratusan kata, aku mencoba berandai-andai isi kepalanya. Adakah kawanan kecoak beranak pinak di sana? Ataukah biawak pernah menjadikan kepalanya sebagai rawa-rawa di pesisir yang ditumbuhi perdu-perdu nipah, bak geureuju (jeruju), dan lain sebagainya.

Membaca banyak tulisannya aku tak percaya kalau di semesta  batok kepalanya hidup atau pernah hidup beragam satwa. Aku tak percaya isi kepalanya serupa rawa-rawa di daerah pesisir yang penuh semak belukar itu. Aku lebih percaya kepala yang dipunyainya adalah semacam tempat yang serupa pustaka. Penuh serak buku, kamus, cipratan kopi di sana-sini, abu rokok juga, pengap. Sementara agak ke belakang dari bangunan pustaka, berdiri satu bangunan megah tapi agak rahasia. Itu harem. Tempat Chaterine Zeta Jones, Chelsea Islan, Lola Astanova, Monica Belucci, si STW Widyawati, dan belasan nama perempuan tenar lainnya menunggu giliran kedatangannya. Entah untuk apa?

 

Source Image: 2.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *