Dilema Ma Kurap

MA KURAP insomnia. Sudah sebulanan ini ia mengalaminya, dan ia hanya bisa menghabiskan malam-malam yang terasa begitu panjang dengan menatap loteng kamar dari pembaringannya. Sesekali ia menguap, mencoba memejamkan mata karenanya. Tapi itu sama sekali tak membuatnya lelap. Kecuali semakin matanya terpejam kian bebas pula khayalannya melayang kemana-mana. Saat khayalannya bergentayangan inilah Ma Kurap mendapati rasa kantuknya lenyap tak berjejak.

Matanya kembali terpacak di loteng kamar. Ada jaring laba-laba bergelayut di satu sudut. Dua ekor cicak menempel di sana, mungkin sedang menunggu mangsa, tapi dari cara keduanya merayap tampak betul mereka punya maksud bermesum ria di sana, disela-sela menunggu mangsanya. Melihat sepasang cicak yang bermasyhuk mesra begitu, khayalan Ma Kurap kian membuncah. Ia menggeliat ketika khayalan sewaktu ia berpejam tadi datang kembali memenuhi alam pikirannya.

Sebenarnya khayalan yang datang tiap malam itu, yang menyebabkannya menderita insomnia dalam sebulanan ini, adalah sejenis khayalan tabu. Apa lagi mengingat dirinya punya status seorang istri, yang beberapa bulan ke depan, mungkin, ia akan menimang seorang cucu dari anak perempuan pertamanya yang kawin dengan seorang pemuda kampung sebelah setahun lalu. Ma Kurap tahu betul, ia sebagai istri Buso Dhoe sangat tidak pantas punya khayalan seperti yang dialaminya sekarang atau pada malam yang sudah-sudah.

Tapi kekuatan apakah yang mampu membendung jalannya khayalan? Sambil terus berkhayal Ma Kurap mencoba mencari-cari jawabannya. Kadang ia menemukan kekuatan itu terletak pada diri suaminya, Buso Dhoe. Namun kemudian ia sadari Buso Dhoe, untuk beberapa tahun terakhir, hanya kuat pada beberapa hal saja: mengoceh, begadang di teras belakang, mendengkur, memaki, dan terakhir adalah makan. Hanya itu saja, dan kalau ada kekuatan lain yang menegaskan Buso Dhoe adalah kepala rumah tangga yang telah puluhan tahun mereka arungi bersama, itu cuma bersisa di bunyi kentutnya saja.

Pada kali yang lain, Ma Kurap mencoba memangkas jalannya khayalan itu dengan menghitung-hitung usianya sendiri. Ia mendapati diri sudah tak muda lagi. Sewindu kedepan umurnya tepat setengah abad. Dan angka segitu lebih dari cukup untuk menanggalkan seluruh gerahamnya, mengendurkan gurat pipinya, betis berikut pahanya, pantat, pun sepasang buah dadanya.

Meski sehari-hari ia tetap berdandan sesuai standar istri seorang pejabat (bangku panjang) kabupaten, kendati atribut-atribut dandanannya itu adalah rupa-rupa barang yang diiklankan para pesohor gaek di televisi. Usianya itu telah menggerus apa saja pesona yang dimilikinya dulu hingga Buso Dhoe harus mati-matian bertarung cinta dengan lusinan pemuda dalam memperebutkan cintanya. 

Itu cerita dulu yang mampu diingatnya. Cerita masa mudanya, yang ketika kenangan itu datang sebagai embel-embel dari urusan menghitung-hitung usianya untuk menepis khayalannya yang ingin sekali disangkalnya. Tapi kenangan masa mudanya malah semakin membuatnya merasa lebih percaya diri.

“Sewaktu muda kau punya pesona yang memikat para pemuda. Tapi pada usia seperti sekarang ini, pesona kau dikhususkan untuk mereka-mereka yang lebih matang dalam hal pengertian,” kata seseorang yang gaib di benaknya. Membuat Ma Kurap lagi-lagi tak mampu menepis khayalannya.

Malam menua. Mata Ma Kurap masih terpacak di loteng. Sepasang cicak sudah tak ada lagi di tempat semula. Mungkin telah sepakat untuk menyelesaikan urusan kemesuman mereka di peraduan sarangnya, meninggalkan Ma Kurap terjaga seorang diri. Sementara di sebelahnya, suaminya Buso Dhoe mendengkur sejak dua jam tadi, setelah masuk kamar dan naik ranjang tanpa berkata barang sepatah kata. 

Ditingkahi suara dengkuran Buso Dhoe di sampingnya yang hampir serupa bunyi knalpot motor butut yang diengkol pemiliknya di pagi hari, Ma Kurap masih bisa mendengar detak jarum jam di dinding dengan sempurna. Tapi yang lamat-lamat di telinganya kini adalah suara hati kecilnya. Juga suara jangkrik dan burung hantu di luaran sana.

Dengan alunan suara-suara yang timbul tenggelam itulah Ma Kurap menjalani malam-malamnya, antara berpejam dan nyalang sebagaimana adanya. Hingga tepat ketika kokok ayam pertama melantang dari kandang belakang rumah tetangga ia tertidur dengan sendirinya. Khayalannya hilang serta merta, untuk kemudian datang esok malam dan Ma Kurap kembali bergelut dengan insomnia masa tuanya.

Sementara, pada waktu bersamaan Ma Kurap tertidur barusan, di sebuah rumah panggung di kampung yang sama, Pang Luhop terbangun dari tidurnya. Ia mendapati sekujur tubuhnya basah oleh keringat. Tapi ia tak yakin kalau yang membuat basah selangkangannya adalah keringat sama dengan yang mengucur di tubuhnya.

“Sudah tua begini masih mimpi basah? Gerangan apakah ini. Mana yang bikin basah Ma Kurap lagi,” gumam Pang Luhop dalam hati.

 

Baca cerita sebelumnya di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *