Di Selingkar Tampuk Kekuasaan Irwandi

IRWANDI YUSUF ditangkap KPK. Ketika kekuasaannya sebagai Gubernur Aceh edisi 2017 – 2022 hendak dirayakan untuk perjalanan setahun pertama. Ketika orang-orang ramai bertaruh harap padanya, akan kesejahteraan hidup di Aceh. Demi mendengar komitmennya dalam hal memberantas tindak cue peng nanggroe. Mengikut pada slogannya yang paling fenomenal, bahwa pemerintahan yang dipegangnya kali ini bermadzhab hana fee.

Namun ketika sas-sus yang beredar bahwa ia ketangkap tangan pihak KPK menguat. Pemberitaan ramai. Lini massa riuh. Hampir semua orang di Aceh yang mendengar kabar itu mengeluh. Ada yang mengeluh oleh sebab kecewa. Tak percaya. Tak menyangka. Tapi di antara keluhan-keluhan itu, ada pula rupa-rupa keluhan yang timbul oleh karena merasa segala dendam telah lunas. Puas.

Di selingkar tampuk kekuasaan terhampar gelimang godaan yang tak ada habisnya. Irwandi Yusuf tahu benar akan hal ini. Jangankan Irwandi, kepala lorong di kampungku juga sudah sedari dulu tahu. Alasan kenapa ia beberapa kali mencalonkan diri untuk itu (alhamdulillah, tahun ini terpilih) agar bisa merasakan dengan kulit tubuhnya sendiri, godaan yang bagaimana saja ada di sana. Tanpa mau tahu bahwa godaan di selingkar tampuk kekuasaan jelas berbeda-beda kadarnya. 

Godaan di tampuk kekuasaan setingkat gubernuran sudah tentu tidak main-main. Apalagi kekuasaan untuk lingkup provinsi Aceh. Yang setelah puluhan tahun didera konflik, Jakarta mengucurkan belasan triliun rupiah sebagai anggaran tahunan yang serapannya tentu saja untuk kesejahteraan rakyat.

Atas nama rakyatlah kemudian mesin-mesin politik bertarung memperebutkan tampuk kekuasaan. Tempat di mana para petarung itu bisa mengelola uang tahunan yang bejibun banyaknya. Tempat di mana orang-orang bisa mengais rezeki sekaligus meraup untung hingga tahu-tahu banyak orang di selingkar kekuasaan kaya mendadak.

Penguasaan tampuk kekuasaan Aceh paska damai diramaikan oleh mesin-mesin politik lokal. Perihal yang dalam perjalanannya membuat orang-orang yang dasarnya besar dari ideologi yang sama berpecah. Untuk kemudian menghasilkan ‘perang politik’ sesama mereka, di mana mesin-mesin politik nasional turut menentukan andil atas keseruan ‘perang’ itu.

Berkali-kali orang-orang di Aceh menyandarkan harapan pada figur yang datang dari basis ideologi yang sama. Berkali-kali pula harapan itu pupus, dan mungkin tengah mencapai klimaksnya pada malam ketika Irwandi dijemput KPK. Tapi bukankah Aceh paling mutakhir adalah Aceh yang bangkit dari pelbagai keputus-asaan?

Ada banyak orang kecewa atas ironi seorang Irwandi, ada yang bergembira oleh sebab dendam kesumatnya. Tapi terlepas dari urusan kepentingan di selingkar tampuk kekuasaan. Kerja KPK adalah sebaik-baik usaha untuk pemerintahan Aceh yang bersih. Hendaknya tak berhenti pada kasus ini saja.  Hingga pemerintahan bermazhab hana fee sebagaimana cita-cita Irwandi berjalan di tangan figur-figur lain, yang atas nama rakyat tak sesekali ingkar janji.

Yang jelas, sejatinya tampuk kekuasaan adalah yang memakan tumbal. Gelimang godaan adalah jeratnya. Dan iya, untuk menapaki tangga tampuk kekuasaan, pemenang atas pertarungan perebutannya harus melewati dan kemudian dikelilingi para pagar ayu. Mungkin dalam hal ini para pagar ayu itu adalah sesiapa yang suka menjilat, atau kadung diposisikan untuk menjilat. Datang dari latar dan jenis kelamin yang berbeda, dengan motif menjilat yang berbeda-beda pula.

Irwandi Yusuf ditangkap KPK, dan jelas adanya tampuk kekuasaan tengah memenuhi janjinya. Pun seseorang yang akan bertindak sebagai justice collaborator dalam pemeriksaan KPK nanti–bernyanyilah dengan sebaik-baik nyanyian. Seperti menahbiskan akan posisi penting para pagar ayu di selingkar tampuk kekuasaan itu. Penting dalam banyak hal, terutama pada urusan-urusan yang berujung pada skandal.

 

Images source: kompas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *