Trik Picik Menulis Panjang

DALAM PERKARA menulis bebas ada trik yang jika kau terapkan dengan benar akan menghasilkan tulisan panjang. Jumlah katanya dijamin akan berkutat di atas lima ratusan. Trik ini, meski agak sedikit picik, sederhana saja. Tanpa harus pusing-pusing memikirkan ide ini itu. Tanpa menuntut pengadaan modal data anu ini, dan lain sebagainya.

Bagaimana trik yang kumaksud itu? Karena triknya cukup sederhana, baiknya tak kukata secara gamblang begitu saja. Melainkan boleh kau dapat, sekiranya kau jeli, dengan membaca beberapa cerita kecil di bawah ini. Mari. Sila nikmati.

Continue reading “Trik Picik Menulis Panjang”

Semangkuk Sup Panas Grong-grong dan Bualan Diyus Tentang Tiga Belahan Jeruk Nipis

SEMANGKUK SUP panas di Grong-grong telah menjadikan polemik sepanjang perjalanan kami. Itu bermula ketika kami berangkat pada malam buta yang hendak gerhana dari Banda Aceh menuju Cunda, Lhokseumawe. Kami, empat belas orang dalam rombongan ini, terbagi dalam dua mobil, hendak berkunjung ke rumah @pieasant, di mana ibunya meninggal dunia beberapa hari sebelumnya.

Aku semobil dengan Diyus Hanafi, Muhajir Abdul Aziz, Opong, Fauzan, dan Andre Zahrul Fuadi. Adalah @sangdiyus yang memulai polemik itu. Ketika mobil yang kami tumpangi melesat dengan laju yang begitu menenangkan di jalan lurus Peurade, Trienggadeng, ia berkata keisi mobil. Bahwa di Grong-grong ada dijual sup terenak yang pernah disantapnya selama hidupnya. Sup yang keenakannya begitu menghanyutkan, sampai-sampai ia lupa Grong-grong itu berada di kabupaten mana.

Continue reading “Semangkuk Sup Panas Grong-grong dan Bualan Diyus Tentang Tiga Belahan Jeruk Nipis”

Trik Pelengkap Bisa Menulis Setiap Hari Bersama Taufik Al Mubarak

Tulisan ini kutulis setelah membaca satu postingan milik Taufik Al Mubarak, penulis buku Aceh Pungo dan di steemit punya akun bernama @acehpungo. Trik sederhana agar lancar menulis setiap hari. Itulah judul postingannya. Dari judulnya saja, sudah tentu tulisan yang seperti itu adalah gizi pelengkap yang harus sesegera mungkin dilahap, terutama orang sepertiku yang punya kehendak menulis setiap hari.

Setelah membaca dengan seksama postingan sepanjang lima ratus tujuh belas kata tersebut, ada banyak trik menulis yang membuat penulis pemula jadi lebih tercerahkan. Semuanya tertulis dengan bahasa sederhana, mudah ditangkap sekaligus dipraktekkan. Katakanlah satu di antaranya menulis cerita-cerita kecil di balik selembar foto yang tersimpan di folder galeri gawai pribadi. Tapi di antara sekian jumlah trik yang ada dalam tulisannya, satu trik yang dianjurkan dan paling ampuh untuk dipraktekkan adalah; membaca koran pagi. Dalam tulisannya tertulis begini:

Continue reading “Trik Pelengkap Bisa Menulis Setiap Hari Bersama Taufik Al Mubarak”

Seterkutuknya Seorang Polisi yang Menggampar Perempuan dan Anak Kecil

PEKAN INI wajah kepolisian coreng oleh sebab ulah konyol penuh celaka AKBP M. Yusuf di Bangka Belitung. Sebagaimana video viral yang beredar di laman media sosial, tindakannya menendang seorang perempuan sekaligus menggampar seorang anak kecil, adalah satu tindakan yang hanya mungkin dilakukan oleh penjahat udik maha celaka.

Ketika tindakan seperti itu dilakukan oleh seseorang berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi, konon lagi sasarannya perempuan dan anak kecil, sudah barang tentu harus direspon dengan seketerkutuknya kata terkutuk. Sudah semestinya Tito Karnavian bertindak lebih kalap lagi darinya, dan pemutasian jabatan terasa masih belum cukup. 

Continue reading “Seterkutuknya Seorang Polisi yang Menggampar Perempuan dan Anak Kecil”

Atas Nama Free Wi-fi

SELEPAS SMONG, Banda Aceh dibanjiri kedai kopi dengan layanan jaringan internet gratis. Boleh dikata, di luar dari perkara-perkara pilu disebabkan bencana maha dahsyat itu, smong meninggalkan jejaknya akan kesadaran orang-orang (terutama para pekerja NGO) akan pentingnya jaringan internet. Yang oleh para pemilik kedai kopi menjadikannya sebagai satu cara memikat pelanggan, hingga sejak saat itu jaringan internet tidak lagi dimonopoli warung internet.

Hingga kini layanan free wi-fi telah menjadi andalan bagi setiap pemilik kedai kopi. Jika mau disurvey acak, kalau ada 11 kedai kopi yang ada di Banda Aceh, cuma dua yang tidak memakai jaringan internet gratis. Sisanya sudah barang tentu menjanjikan free wi-fi, terserah jenis kedai kopi itu mengusung gaya cafe-cafe kekinian. Atau masih bergaya ala lama yang isi kedainya cuma berisi meja dan kursi dan dapur meracik kopi dan meja kasir, tanpa tetek bengek artistik lainnya.

Continue reading “Atas Nama Free Wi-fi

Argentina Kalah, Akhir Lebaynya Seorang Jorge Sampaoli

PRANCIS MENANG 4 – 3 atas Argentina. Skor besar begitu rupa seperti melengkapi partai besar ini. Cukup bikin puas penonton yang tidak mendukung dua tim ini sebagai juara nantinya. Gol-gol yang tercipta berikut prosesnya sepanjang 95 menit pertandingan benar-benar menjadi hiburan. Dua tim yang bertanding benar-benar bermain sesuai standar turnamen olahraga terbesar sejagad. Piala Dunia 2018 Rusia.

Meski Argentina dan Prancis sama-sama bermain agak melempem di fase grup, tapi di pertandingan tadi keduanya menunjukkan permainan kelas juara dunia. Argentina memegang penguasaan bola terbanyak. Tapi Prancis mampu mencetak gol lebih, dengan memanfaatkan kecepatan Kylian Mbappe sebagai tumpuan strategi serangan baliknya. Terbukti ia mencetak dua gol dan penalti yang membuahkan gol pun terjadi karena pelanggaran bek Argentina terhadapnya.

Continue reading “Argentina Kalah, Akhir Lebaynya Seorang Jorge Sampaoli”

Narasi Kota Kita: Banda Aceh, Ujung Juni 2018

UJUNG JALAN Abdullah Ujong Rimba. Di rumah kopi Teras Kota. Seberang tapak Hotel Aceh yang beton tiang pancangnya dicat warna warni. Di seberang pagar utara Masjid Raya. Kamis, 28 Juni 2018. Aku mendapati Banda Aceh hendak bersiap-siap menuju Isya. Isya yang sama dengan yang sudah-sudah, jauh abad sejak para pedagang Arab memperkenalkan kewajiban ini sebagai tuntunan hidup segenap manusia seisi Bandar.

Continue reading “Narasi Kota Kita: Banda Aceh, Ujung Juni 2018”

Kiat-kiat Membebaskan Diri Dari Jerat Calo Beasiswa

AKU PERNAH bermimpi bisa melanjutkan studi lagi. Aku pernah terdaftar sebagai mahasiswa tingkat lanjut program paska sarjana sebuah kampus negeri di Banda Aceh. Jalan tahun ketiga kuliah di situ, telah habis semua mata kuliah. Tinggal bikin penelitian, menulis tulisan akhir, lalu sudah. Tapi di tahun ketiga itulah, kata sudah yang kumaksud tadi malah berujung pada kata tak berkesudahan. Setidaknya hingga sekarang ini.

Mimpiku sederhana. Apa lacur, mimpi itu harus kupendam dalam hati oleh sebab soalan klise: faktor ek[onomi]! Faktor itu pula yang membuatku didatangi oleh seorang teman (tak seberapa dekat) dan menawarkan solusi agar bisa melanjutkan kuliah lagi. Itu terjadi pada tahun keempat. Ketika aku sudah memutuskan jadi juru tulis berita di sebuah portal berita lokal, yang sejak beberapa tahun lewat telah tutup usia gara-gara pelbagai skandal. Tentu saja keputusan itu kuambil demi satu tekad: bisa mengumpulkan jerih yang ada untuk membunuh ketidakmampuanku akan biaya.

Continue reading “Kiat-kiat Membebaskan Diri Dari Jerat Calo Beasiswa”

Petualangan ‘Taik Buah’ Joachim Loew Dalam Sebuah Meme

JOACHIM LOEW. Pelatih tim sepakbola Jerman. Adalah satu pelatih bola di antara segelintir pelatih nyeleneh di dunia. Kenyelenehan Joachim Loew cukup khas. Susah ditiru pelatih lain. Kalau pun ditiru mereka tak akan melakukannya di pinggir lapangan, sementara para pemainnya sedang bertungkus lumus memenangkan pertandingan.

Apa kenyelenehan seorang Joachim Loew? Ngupil dan ngulik isi selangkangan. Kemudian berlanjut dengan aksi membaui jari tangan yang dipakainya untuk melakukan dua hal tadi. Jika ditimbang-timbang ‘hobi’ Joachim Loew itu adalah salah satu aksi paling monumental dalam dunia sepakbola sejagad. Aksi yang mewarnai dan melengkapi sepakbola adalah satu peradaban olahraga paling meriah yang pernah dimiliki umat manusia.

Aksi itu, barangkali, sama monumentalnya dengan tanduk Zinedine Zidane ke dada Marco Metarazzi pada final Piala Dunia 2006. Tak kalah monumentalnya dengan cara penyelamatan bola oleh penjaga gawang Kolombia, Rene Higuita. Jika pun ada kejadian lain yang membuat aksi Joachim Loew tak ada apa-apanya adalah kejadian penembakan Andres Escobar. Pemain yang melakukan gol bunuh diri pada Piala Dunia 1994. Lalu sepulang ke negaranya ia ajal di ujung bedil pembunuh.

Continue reading “Petualangan ‘Taik Buah’ Joachim Loew Dalam Sebuah Meme”