Nonton Bola Bareng Anak-anak Milineal

MEREKA ADALAH generasi yang dibesarkan oleh tiga game; Point Blank, Mobile Legend, dan sekarang PUBG. Generasi ini punya meja tetap di kedai kopi yang kekencangan jaringan wi-fi gratisnya sekencang angen boh asee. Nongkrong bergerombol, dengan jadwal kumpul sebelum ashar hingga tengah malam bersamaan dengan ditutupnya kedai kopi.

Ketika berkumpul di kedai kopi langganannya, meja tetap mereka akan penuh dengan gelas minuman pesanan. Tapi yang membuat meja itu tampak sesemrawut meja tukang perbaiki barang elektronik adalah kelit kelindan kabel charger gawai masing-masing, headset, dan dua atau tiga unit laptop.

Continue reading “Nonton Bola Bareng Anak-anak Milineal”

Paska Hibernasi, Memulai Belajar dan Latihan Menulis Lagi

SEPEKAN LAMANYA aku mengalpakan diri belajar sekaligus latihan menulis di platform berbasis blockchain, Steemit. Itu alpa yang sengaja kulakukan bersamaan dengan libur Hari Raya Idul Fitri 1439 H. Layaknya muslim yang lain, aku pulang kampung untuk berlebaran bersama keluarga besar. Selama di sana, aku sama sekali meninggalkan aktifitas belajar dan latihan menulisku, hibernasi sejenak dari dunia literasi.

Paska hibernasi, aku merasa beruntung sebab telah dibuatkan satu blog baru oleh @zeds. Blog ini. Tempat di mana aku serasa masuk kelas baru. Naik kelas setelah hampir setahun berkutat di akun pribadi steemit. Berkat arahan @acehpungo, blog ini tetap bisa terkoneksi dengan akun steemitku, yaitu dengan menggunakan jasa @steempress-io yang dikembangkan oleh Martin Lees alias @Howo.

Blog baru. Itu artinya mengemban semangat baru. Energi baru. Yang baru-baru itu sudah terasa benar sejak beberapa berada di kampung. Selama hibernasi, aku berbaur dengan siapa saja, tapi yang paling menyenangkan dari semuanya adalah ketika punya kesempatan minum kopi bersama para orang tua di kedai kopi. Ada banyak cerita yang kudengar dari mereka. Pula banyak pelajaran yang bisa kupetik dari pelbagai kisah.

Continue reading “Paska Hibernasi, Memulai Belajar dan Latihan Menulis Lagi”

Prakata: MKDK, Membunuh Kecoa Dalam Kepala

 

MKDK. Membunuh kecoa dalam kepala. Adalah kalimat yang keluar dari mulut sastrawan asal Aceh, Azhari Aiyub yang baru-baru ini menerbitkan novel Kura-kura Berjanggut. Kalimat itu ia lontarkan medio 2007 pada kelas menulis Seuramoe Teumuleh II, diselenggarakan oleh Kata Hati Institute di Banda Aceh.

Membunuh kecoa dalam kepala adalah jawaban spontan yang dikatakannya ketika ia menanyakan pada seisi kelas, “Untuk apa menulis?” Barangkali jawaban itu dianggap paling nyeleneh bagi seisi kelas. Tapi tidak untukku. Mencari jawab atas pertanyaan untuk apa menulis bukanlah persoalan gampangan, khususnya untuk seorang awam menulis sepertiku.

Mengikut petuah Pramoedya Ananta Toer dalam novel Rumah Kaca bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian, bagiku agak terasa muluk-muluk. Maksudnya, untuk ukuran kemampuan menulisku yang masih cetek begini. Menyandarkan diri pada petuah itu sebagai jawaban ketika ditanyai orang kenapa harus menulis, tak ubahnya seperti si buruk rupa kelewat percaya diri.

Oleh sebab sadar diri akan kemampuan menulis itulah, aku butuh jawaban yang lebih sederhana atas pertanyaan, “Untuk apa menulis?” Beruntung aku sempat ikut kelas bersama Azhari Aiyub. Karena dari mulutnyalah aku mendapat jawaban yang sangat sederhana, tidak muluk-muluk, tak menuntut kerja otak ekstra untuk mencernanya.

“Untuk apa menulis? Untuk membunuh kecoa dalam kepala.” ~ Azhari Aiyub.

Kenapa kukatakan jawaban itu langsung bisa mengena. Itu tak lain terletak pada kata kecoa dalam kepala. Berkecoa kepala. Yang kuyakini adalah terjemahan ala kadarnya dari satu idiom Aceh; meu keuraleuep ulee. Ini adalah ungkapan untuk menggambarkan beban pikiran yang dialami seseorang, dan yang namanya umat manusia pengalaman itu adalah mutlak adanya.

Continue reading “Prakata: MKDK, Membunuh Kecoa Dalam Kepala”