Ketika Banyak Orang Berubah Jadi Cebong dan Kampret

JELANG PEMILIHAN calon presiden yang partai puncaknya tinggal menghitung pekan saja, Indonesia makin gegap gempita. Seluruh Indonesia terlibat dalam pembicaraan, dukung-mendukung, siapa yang pantas jadi orang nomor satu periode lima tahunan kedepan. Yang naik jadi calon adalah seteru lama, meski pasangan (bukan ranjang) yang dipilih masing-masing mereka kali ini berbeda. Pada periode sebelumnya kedua orang ini sudah pernah saling adu taji. Mengantarkan yang satu jadi petahana pada periode sekarang, dan satunya lagi tampak sebagai lawan abadi yang terkepung banyak ambisi pribadi. Apa yang terjadi pada periode ini lebih kurang sama dengan yang dulu-dulu, tapi letak bedanya terang terdapat pada cara-cara mendukung para simpatisan di kedua kubu.

Sungguh, seteru Jokowi versus Prabowo dalam masa kampanye calon presiden kali ini telah membelah Indonesia dalam dua kubu besar. Kubu-kubu kecil tetap ada, dan akan kita bicarakan di sini sebagai orang-orang di luar pagar saja. Maka mari berfokus pada yang besar-besar terlebih dahulu. Semisal fakta tentang penamaan antar dua kubu besar itu. Yang satu punya nama panggilan khas kepada kubu lawannya. Begitu pun sebaliknya. Yang satu disebut Cebong. Satunya lagi dilakab Kampret.

Hingga tak pelak lagi, jadilah sebagian besar orang di Indonesia saling mengidentifikasi, lebih tepatnya saling maki memaki dengan dua istilah yang demikian. Jika tidak Cebong seseorang, maka Kampret-lah ianya. Begitu pun keterbalikannya. 

Continue reading “Ketika Banyak Orang Berubah Jadi Cebong dan Kampret”

5W 1H & Kebingungan Bikin Berita Bernarasumber Politikus Bebal

SEWAKTU JADI juru kabar di salah satu media online-tak online Aceh yang sekarang sudah tak tahu kemana oleh sebab keambisiusan pemiliknya. Menulis berita adalah tuntutan jika tak ingin disebut kewajiban. Berbekal surat magang—dari pertama masuk dan hingga keluar, entah kenapa aku tak punya sebiji pun kartu pers—aku belajar sekaligus berlatih menulis setiap hari. Menulis berita tentu saja. Mulai dari berita harga emas, kecelakaan lalu lintas, bencana alam, harga cabai, kekerasan terhadap anak, sampai berita politik yang notabene narasumbernya suka beri pernyataan tak sesuai konteks pertanyaan yang kuajukan.

Untuk ukuran menulis berita, terutama jenis berita langsung (straight news), boleh dikata gampang-gampang susah. Gampang jika berita dimaksud cuma sebatas laporan harga-harga atau kejadian-kejadian tertentu. Formula 5W 1H (what, who, when, where, why, dan how) dengan mudah diaplikasikan.

Continue reading “5W 1H & Kebingungan Bikin Berita Bernarasumber Politikus Bebal”

Pentingnya Monumentasi Istilah Jenderal Kardus dan Jenderal Baper

SETELAH BANYAK orang–mulai dari pakar hingga para awam berspekulasi. Jelas sudah calon wakil presiden yang digandeng Jokowi sebagai tandemnya untuk pemilihan umum 2019 nanti adalah Kyai Ma’ruf Amin. Lawan tandem Jokowi – Ma’ruf Amin, sudah jelas juga siapa. Tak lain dan tidak bukan, Prabowo Subianto. Calon presiden gagal pada pemilu 2014 lalu. Kali ini akan naik lagi. Hanya saja tandem yang dipilihnya belum pasti siapa. Kecuali sinyalemen kabar yang beredar di pelbagai laman berita nasional, terdapat beberapa nama yang akan menjadi pasangannya. Sandiaga Uno. Agus Harimurti Yudhoyono–AHY.

Continue reading “Pentingnya Monumentasi Istilah Jenderal Kardus dan Jenderal Baper”

Menjadi Ayah Sebaik Pak Beye

“JIKA INGIN jadi orang tua yang baik bagi anak-anaknya. Contohlah perilaku Pak Beye. Mantan presiden kita itu. Jangankan masih kanak-kanak, sudah dewasa pun AHY ditimang-timang dengan penuh kasih sayang.”

Itulah ungkapan yang kudengar dari seorang bapak-bapak ketika ngopi di kedai langganan petang tadi. Penampilannya parlente. Dia bicara dengan seorang temannya yang tak kalah parlente, dan dari apa yang dibicarakan, bisa kutaksir keduanya tak pernah ketinggalan berita dalam dan luar negeri, dalam dan luar provinsi, terutama berita-berita politik.

Continue reading “Menjadi Ayah Sebaik Pak Beye”