Beechung, Sarjana yang Enggan Pulang Kampung

BEECHUNG SEORANG sarjana lulusan fakultas ilmu sosial. Sejak selesai kuliah ia memilih tinggal di kota, enggan pulang kampung. Ilmu yang didapatnya di bangku kuliah memang agak susah diaplikasikan dengan kehidupan kampung. Konon lagi jika menyangkutpautkan ilmu yang didapatnya dengan bahasa sehari-hari orang-orang di kampung. Pelik betul. Itu sebabnya ia memilih tinggal di kota, pulang ke kampung halaman setahun sekali, pas hari raya, itu pun tak pernah lama.

Continue reading “Beechung, Sarjana yang Enggan Pulang Kampung”

73

5W 1H & Kebingungan Bikin Berita Bernarasumber Politikus Bebal

SEWAKTU JADI juru kabar di salah satu media online-tak online Aceh yang sekarang sudah tak tahu kemana oleh sebab keambisiusan pemiliknya. Menulis berita adalah tuntutan jika tak ingin disebut kewajiban. Berbekal surat magang—dari pertama masuk dan hingga keluar, entah kenapa aku tak punya sebiji pun kartu pers—aku belajar sekaligus berlatih menulis setiap hari. Menulis berita tentu saja. Mulai dari berita harga emas, kecelakaan lalu lintas, bencana alam, harga cabai, kekerasan terhadap anak, sampai berita politik yang notabene narasumbernya suka beri pernyataan tak sesuai konteks pertanyaan yang kuajukan.

Untuk ukuran menulis berita, terutama jenis berita langsung (straight news), boleh dikata gampang-gampang susah. Gampang jika berita dimaksud cuma sebatas laporan harga-harga atau kejadian-kejadian tertentu. Formula 5W 1H (what, who, when, where, why, dan how) dengan mudah diaplikasikan.

Continue reading “5W 1H & Kebingungan Bikin Berita Bernarasumber Politikus Bebal”

48

Catatan Ini Kutulis Ketika

AKU TULIS catatan ini ketika. Hujan turun sebentar saja dan angin tengah ribut-ributnya di luar rumah. Itu bersamaan dengan naiknya sebuah status media sosial seorang seniman yang merasa diri sudah benar-benar seniman sejati hanya gara-gara pernah menulis sebiji dua biji puisi, yang mengatakan perhelatan PKA kali ini gagal. Menurutnya kegagalan itu disebabkan banyak hal. Ia menjabarkannya satu-satu, tapi satu hal yang tidak mau diakuinya di situ. Bahwa kegiatan akbar itu gagal bersebab tidak ada nama dia dalam deretan panitia penting.

Continue reading “Catatan Ini Kutulis Ketika”

58

Semua Orang Bisa Menulis

ADA BANYAK hal yang ingin kuceritakan. Tapi hampir semuanya sukar kutulis oleh sebab keahlian menulisku yang masih cetek belaka. Kerap aku dikepung oleh perasaan iri ketika membaca tulisan orang lain. Khususnya tulisan-tulisan sebentuk esai dan prosa, yang dengan mudah menyampaikan sesuatu gagasan dalam kalimat-kalimat yang gampang dicerna. Ingin sekali aku bisa menulis seperti itu, tapi keinginan kerap berujung pada keinginan saja dan aku masih belum bisa menulis apa-apa.

Continue reading “Semua Orang Bisa Menulis”

39

Kiat-kiat Membebaskan Diri Dari Jerat Calo Beasiswa

AKU PERNAH bermimpi bisa melanjutkan studi lagi. Aku pernah terdaftar sebagai mahasiswa tingkat lanjut program paska sarjana sebuah kampus negeri di Banda Aceh. Jalan tahun ketiga kuliah di situ, telah habis semua mata kuliah. Tinggal bikin penelitian, menulis tulisan akhir, lalu sudah. Tapi di tahun ketiga itulah, kata sudah yang kumaksud tadi malah berujung pada kata tak berkesudahan. Setidaknya hingga sekarang ini.

Mimpiku sederhana. Apa lacur, mimpi itu harus kupendam dalam hati oleh sebab soalan klise: faktor ek[onomi]! Faktor itu pula yang membuatku didatangi oleh seorang teman (tak seberapa dekat) dan menawarkan solusi agar bisa melanjutkan kuliah lagi. Itu terjadi pada tahun keempat. Ketika aku sudah memutuskan jadi juru tulis berita di sebuah portal berita lokal, yang sejak beberapa tahun lewat telah tutup usia gara-gara pelbagai skandal. Tentu saja keputusan itu kuambil demi satu tekad: bisa mengumpulkan jerih yang ada untuk membunuh ketidakmampuanku akan biaya.

Continue reading “Kiat-kiat Membebaskan Diri Dari Jerat Calo Beasiswa”

64