Suatu Kali, Kampung Kami

PADA MASA ketika tentara masih tinggal, jaga dan tidur dan onani dan lain sebagainya di pos. Di mana setiap hari mereka keluyuran di kampung kami dan kampung sebelah, juga di kampung-kampung yang lain sambil memamerkan senjata. Orang-orang di kampung kami dibuat terbiasa menggotong tubuh-tubuh keluar dari parit dengan keberadaan mereka. Bukan dari parit saja. Kadang orang-orang kampung mengangkatnya setelah menemukannya mengapung di tambak ikan, di rawa-rawa, dekat kandang ayam milik warga, atau bahkan kerap pula di badan jalan yang ketika musim hujan penuh dengan kubangan lumpur.

Continue reading “Suatu Kali, Kampung Kami”

Narasi Kota Kita: Banda Aceh, Ujung Juni 2018

UJUNG JALAN Abdullah Ujong Rimba. Di rumah kopi Teras Kota. Seberang tapak Hotel Aceh yang beton tiang pancangnya dicat warna warni. Di seberang pagar utara Masjid Raya. Kamis, 28 Juni 2018. Aku mendapati Banda Aceh hendak bersiap-siap menuju Isya. Isya yang sama dengan yang sudah-sudah, jauh abad sejak para pedagang Arab memperkenalkan kewajiban ini sebagai tuntunan hidup segenap manusia seisi Bandar.

Continue reading “Narasi Kota Kita: Banda Aceh, Ujung Juni 2018”

Memoar Kampung Asal: Keheningan Seorang Ibu

KAU PULANG dan mendapati rumah tengah menghanyutkan diri dalam keheningan yang canggung. Itu pada suatu petang pekan terakhir bulan ramadhan yang riuh, ketika ibu sedang menyiapkan menu berbuka puasa. Salam yang kau ucapkan terjawab dengan lirih. Tapi cukup mengungkapkan rasa sentimentil seorang perantau yang baru menginjakkan kaki di rumah asalnya. Setelah bertahun-tahun tinggal di kampung orang.

Dengan tergopoh-gopoh ibu menyambutmu di teras rumah, demi mendengar suara salammu. Ibu adalah satu-satunya orang yang menghafal warna suaramu. Sebagaimana ia tak pernah melupa suara anak-anaknya yang lain. Pula selalu bisa membedakan mana suara si sulung atau si bungsu.

Ada keharuan yang tak terkatakan manakala seorang anak berjumpa dengan ibunya setelah sekian tahun lamanya. Mungkin ada peluk setelah jabat tangan penuh takzim. Tapi yang membikin semuanya jadi lebih mengharu biru adalah ketika kau dapati seisi rumah telah demikian membeku dalam keheningannya. Keheningan yang kelak kau sadari menyebar dari hati dan mata redup ibumu.

Continue reading “Memoar Kampung Asal: Keheningan Seorang Ibu”