Menjadi Orang Jakarta

BARU DATANG dari kampung, setahun, dua tahun tinggal. Tak lantas langsung bisa menjadikanmu sebagai orang Jakarta. Menjadi orang Jakarta banyak syaratnya. Apalagi jika standar rujukan yang dipasang adalah apa yang sering ditayangkan di televisi, terutama program-program hiburan dan gosip. Butuh banyak modal untuk bisa disebut sebagai orang Jakarta. Modal uang tentu saja.

Sebagaimana sudah jadi rahasia umum, Jakarta akan menyingkap segala rahasianya atas nama uang. Dan kepada uanglah Jakarta kerap menanggalkan jubah harga diri. Atau jika ada yang sanggup bayar lebih, kenapa tidak ia telanjang sekalian. Biar puas sesiapa yang suka jajan.

Pergi ke Jakarta dengan maksud mencari uang adalah satu di antara bahagian perilaku paling mulia. Tapi kemuliaan yang ditawarkan Jakarta bagi mereka yang mencari uang di tubuhnya adalah kepedihan. Keperihan. Hal yang akan dengan gampang dirasakan sekira kau datang dengan tangan kosong, otak kosong. Sementara keahlian yang kau punya berupa keahlian menguras tenaga. Jadi kulilah kau di sana.

Jpeg

Untuk bisa melulu kenyang, Jakarta kerap meminta tumbal. Tumbal itu kian bertambah-tambah apabila setelah urusan lapar selesai, kau berharap sedikit kesenangan. Lalu bertambah lagi jika kau meminta kenikmatan. Kemudian kian membuncah ketika kau minta ketenaran. Begitu seterusnya. Dan seterusnya. Sampai-sampai pada suatu waktu kau tersadar bahwa segenap tubuhmu, begitu pun pikiranmu. Telah dikuasai utuh oleh sesuatu kuasa tak kasat mata. Jakarta menjeratmu luar dalam. Kau tersuruk dalam jurang terdalam dan tenggelam.

Tapi tenang. Untuk yang satu itu Jakarta tidak pernah menjerat orang-orang yang bersiteguh dengan harga diri. Dalam hal ini Jakarta akan pilih kasih. Terutama kepada mereka yang telah menggadaikan benak, hati dan pikirannya pada nafsu dan ambisinya sendiri. Jakarta akan mendekap erat orang-orang seperti ini dengan rasa senang tanpa ampun.

“Mari. Datanglah. Akan kusambut siapa saja yang datang padaku. Akan kuberikan padanya segala bentuk kenikmatan dunia. Kenikmatan tak berperi. Asalkan mereka mau menanggalkan jubah harga diri, asalkan mereka tak ambil peduli meski sudah jadi budakku di sini,” gumam Jakarta dalam hati menyambut pendatang baru.

“Untuk menjadi Jakarta, kau mesti punya ambisi dan jangan tanggung-tanggung. Jakarta tak pernah suka orang-orang serba tanggung. Yang serba tanggung hanya akan jadi kecoa saja. Tidak lebih!” Begitu petuah seseorang yang merasa diri telah jadi Jakarta setelah meninggalkan kampung halamannya. Setelah menanggalkan tekanan huruf T dari lidahnya.

“Kenapa harus menjadi Jakarta?” Tanyaku waktu itu.

“Karena kau sudah datang ke Jakarta,” jawabnya sigap.

“Tapi aku kesini bukan untuk menjadi Jakarta. Aku hanya ingin jadi diri sendiri saja.”

“Kau punya apa? Berapa banyak uang yang kau bawa?”

“Apakah di sini, semua bisa selesai dengan uang?”

“Semua bisa selesai dengan uang. Bahkan ketika kau sedang malas cebok setelah berak. Kau bisa mengupah tukang cebok nantinya.”

“Sampai segitunya?”

“Kau mau minta lebih? Nanti. Cebok dulu. Bayar. Kemudian nego lagi. Tawar harga lagi.”

Baru datang dari kampung, sepekan dua pekan tinggal. Seseorang yang kutemui di Jakarta ajak aku minum kopi bersama. Di sebuah cafe seputaran Kalibata. Sampai di sana, kudengar ceritanya tentang Jakarta. Ceritanya tentang malam-malam di Jakarta. Dua jam bersamanya aku merasa semaput. Yang benar-benar kusimak dari semua ceritanya adalah kata-kata yang ada huruf T di dalamnya. Terdengar benar ia menyebut kata-kata itu dengan sangat hati-hati. Barangkali ia takut jika T di setiap kata-kata itu terlalu mengeluarkan bunyi.

Catatan Ini Kutulis Ketika

AKU TULIS catatan ini ketika. Hujan turun sebentar saja dan angin tengah ribut-ributnya di luar rumah. Itu bersamaan dengan naiknya sebuah status media sosial seorang seniman yang merasa diri sudah benar-benar seniman sejati hanya gara-gara pernah menulis sebiji dua biji puisi, yang mengatakan perhelatan PKA kali ini gagal. Menurutnya kegagalan itu disebabkan banyak hal. Ia menjabarkannya satu-satu, tapi satu hal yang tidak mau diakuinya di situ. Bahwa kegiatan akbar itu gagal bersebab tidak ada nama dia dalam deretan panitia penting.

Continue reading “Catatan Ini Kutulis Ketika”

Trik Pelengkap Bisa Menulis Setiap Hari Bersama Taufik Al Mubarak

Tulisan ini kutulis setelah membaca satu postingan milik Taufik Al Mubarak, penulis buku Aceh Pungo dan di steemit punya akun bernama @acehpungo. Trik sederhana agar lancar menulis setiap hari. Itulah judul postingannya. Dari judulnya saja, sudah tentu tulisan yang seperti itu adalah gizi pelengkap yang harus sesegera mungkin dilahap, terutama orang sepertiku yang punya kehendak menulis setiap hari.

Setelah membaca dengan seksama postingan sepanjang lima ratus tujuh belas kata tersebut, ada banyak trik menulis yang membuat penulis pemula jadi lebih tercerahkan. Semuanya tertulis dengan bahasa sederhana, mudah ditangkap sekaligus dipraktekkan. Katakanlah satu di antaranya menulis cerita-cerita kecil di balik selembar foto yang tersimpan di folder galeri gawai pribadi. Tapi di antara sekian jumlah trik yang ada dalam tulisannya, satu trik yang dianjurkan dan paling ampuh untuk dipraktekkan adalah; membaca koran pagi. Dalam tulisannya tertulis begini:

Continue reading “Trik Pelengkap Bisa Menulis Setiap Hari Bersama Taufik Al Mubarak”