Menjadi Pahlawan Bagi Seekor Biawak Malang

ADA BIAWAK dalam kepalaku. Seekor saja. Datang entah dari mana, tahu-tahu sudah ada begitu saja. Meringkuk dalam batok kepala. Sesekali melata, menjelajahi rimba otak yang basah, penuh lendir. Ketika ia melata, saraf-saraf di kepalaku menegang. Aku pusing bukan kepayang.

Hari pertama ia ada, aku membiarkannya, tak menggubris sama sekali. Sebab kupikir, biawak itu hanyalah halusinasi belaka. Apa lagi setelah kuingat-ingat, aku memang pernah melihat biawak beberapa kali melintas di belakang rumah. Tapi kemudian, apa yang kuanggap halusinasi ternyata salah besar. Biawak itu adalah senyata-nyatanya biawak yang hidup di rawa-rawa daerah pesisir atau di semak belukar sebuah tanah kosong sekitar pemukiman warga. Dan aku benar-benar menyadari keberadaannya ketika ia pertama kali keluar dari ringkukannya.

Continue reading “Menjadi Pahlawan Bagi Seekor Biawak Malang”

Unfinished Biography: Di Bawah Kibaran Kain Sarung Nyi Miriam

SETELAH BERBASA-BASI perihal kedatanganku menemuinya langsung di tempat tinggalnya ini, Nyi Miriam menyilahkanku masuk ke rumahnya. Ajakan yang membawaku harus menaiki tujuh anak tangga. Ajakan yang membuatku terperanjat pucat pada anak tangga ketiga, ketika dengan tak sengaja aku mendongakkan kepala. Nyi Miriam, lazimnya tuan rumah, naik terlebih dahulu dan tepat ketika aku menengadah ia telah berada di anak tangga ke enam, saat yang sama ketika angin petang dari hamparan sawah mengibarkan kain sarungnya.

Itu kibaran hebat hingga menampakkan semesta isinya. Semesta isinya yang samar, remang-remang, tapi dengan serta merta membuatku kembali merasa mual untuk kedua kalinya sejak dekapan itu, oleh sebab: dalam dongakan kepala penuh ketidaksengajaan itu, aku menemukan pangkal paha nenek tua ini tidak terbungkus oleh apa pun jenis kain yang serupa dalaman. Apakah itu kancut, cawat, atau kantong air seni sekaligus tahi khusus jompo yang oleh orang-orang sekarang menyebutnya pampers.

Continue reading “Unfinished Biography: Di Bawah Kibaran Kain Sarung Nyi Miriam”

Unfinished Biography: Tentang Nyi Miriam, Sekilasnya Saja

NYI MIRIAM telah tua. Sudah nenek-nenek. Umurnya tak tercatat dalam dokumen apa pun. Posturnya tinggi. Apa yang sangat mungkin telah membengkokkan tulang punggungnya adalah jumlah usianya. Ketika berdiri ia hampir menyerupai seorang muallaf yang sedang belajar ruku’ pada kali pertama. Matanya awan mendung. Tapi sorotnya masih setajam matahari pagi pada bulan Maret yang kering. Begitu pun dengan rambutnya. Sanggulannya dibelit pada sebatang tusuk konde dari cangkang kura-kura, adalah jenis rambut yang dipunyai kebanyakan orang-orang yang kelebihan umur.

Continue reading “Unfinished Biography: Tentang Nyi Miriam, Sekilasnya Saja”

Belajar Menulis Bebas: Tamasya Pikiran Pada Kekosongan

AKU INGIN menulis bebas. Mengalir sebebas air sungai dari hulu ke hilir. Mengudara serupa kepak sayap capung. Ringkih. Tapi dengan segenap keringkihan itulah ia mengada. Dan umat manusia mengenalnya, memberinya nama, dan ahli hewani mengudap banyak ilmu pengetahuan atas keberadaannya. Aku ingin menulis bebas. Merdeka. Dan tulisan yang terbaca adalah perayaan dari kebebasan yang ada. Barangkali itu tak semirip perayaan budak belian dari tuannya. Tapi kebebasan patutlah diselebrasi sedemikian rupa, bagaimana pun caranya.

Tamasya. Inilah saatnya mengajak pikiran bertamasya. Atau mungkin membiarkannya bertamasya sendirian saja, dan aku duduk di sini, menghadapi layar putih komputer jinjing sambil menunggu pikiran pulang membawa apa-apa yang dilihatnya. Apa saja yang dilihatnya, oleh-oleh pikiran sehabis pelesiran, kuambil satu-satu, kutimang-timang, kutimbang-timbang. Segalanya adalah bahan baku bagi rangkaian kalimat yang tengah kau baca. Segalanya adalah bahan baku bagi mengadanya sebuah cerita.

Continue reading “Belajar Menulis Bebas: Tamasya Pikiran Pada Kekosongan”

Dilema Ma Kurap

MA KURAP insomnia. Sudah sebulanan ini ia mengalaminya, dan ia hanya bisa menghabiskan malam-malam yang terasa begitu panjang dengan menatap loteng kamar dari pembaringannya. Sesekali ia menguap, mencoba memejamkan mata karenanya. Tapi itu sama sekali tak membuatnya lelap. Kecuali semakin matanya terpejam kian bebas pula khayalannya melayang kemana-mana. Saat khayalannya bergentayangan inilah Ma Kurap mendapati rasa kantuknya lenyap tak berjejak.

Continue reading “Dilema Ma Kurap”

Tengah Malam: Sketsa Tiga Kepala

MALAM MERAMBAT. Pelan, penuh khidmat. Buso Dhoe duduk di teras belakang rumah. Di temani secangkir kopi, nyamuk, obat nyamuk, rokok, dan roti Khong Guan. Bohlam lima watt menampilkan cahayanya yang temaram. Tapi cukup mengalahkan cahaya bintang nun jauh di langit. Udara gerah. Angin bulan Juli berhembus seenak udelnya, kadang berhembus keras hingga menyerupai badai, kadang tidak sama sekali. Dan malam ini tak ada angin, kecuali yang keluar dari pantat Buso Dhoe sedari tadi.

Continue reading “Tengah Malam: Sketsa Tiga Kepala”

Bagaimana D. T. Vagimbing Ungkapkan Cinta Pada Pamela

DONAT TRAM VAGIMBING. Masih ingat? Syukurlah kalian ingat. Aku hampir saja lupa padanya kalau tidak bertemu dengan Pamela, bakal calon istrinya kemarin siang. Itu pertemuan yang tidak disengaja pada sebuah kedai kopi seputaran Peunayong.

Aku yang sedang ngopi dengan istriku selesai belanja mingguan di Jalan Kartini disapa oleh seorang gadis, cukup membuat istri bermuka asam jawa pada kali pertama. Tapi setelah tahu kalau yang menegur adalah Pamela, cepat-cepat buah asam jawa yang nangkring di muka istriku berganti dengan buah srikaya. Manis seperti biasanya.

Continue reading “Bagaimana D. T. Vagimbing Ungkapkan Cinta Pada Pamela”

Membunuh Tokoh Fiksi Dalam Kepala

SUATU KALI aku terjebak dengan pikiranku sendiri. Dalam satu masalah pelik, yang sampai berhari-hari lamanya aku tersuruk kedalamnya tanpa tahu cara menyelesaikannya. Semuanya bermula ketika aku hendak mencoba menulis satu cerita pendek. Fiksi. Dengan setting cerita zaman konflik dulu.

Lazimnya cerita yang baik, tentunya harus digerakkan oleh tokoh di dalamnya. Maka aku pun mencoba mereka-reka tokoh untuk ceritaku itu, yang karena mengusung tema zaman konflik, aku memilih figur tentara sebagai tokoh utamanya. Lalu di sinilah letak masalah pelik muncul pada mulanya. Hingga membuatku berkesimpulan, bahwa jangankan di alam nyata, dalam alam khayali pun berurusan dengan tentara bisa menimbulkan malapetaka.

Continue reading “Membunuh Tokoh Fiksi Dalam Kepala”