Tengah Malam: Sketsa Tiga Kepala

MALAM MERAMBAT. Pelan, penuh khidmat. Buso Dhoe duduk di teras belakang rumah. Di temani secangkir kopi, nyamuk, obat nyamuk, rokok, dan roti Khong Guan. Bohlam lima watt menampilkan cahayanya yang temaram. Tapi cukup mengalahkan cahaya bintang nun jauh di langit. Udara gerah. Angin bulan Juli berhembus seenak udelnya, kadang berhembus keras hingga menyerupai badai, kadang tidak sama sekali. Dan malam ini tak ada angin, kecuali yang keluar dari pantat Buso Dhoe sedari tadi.

Continue reading “Tengah Malam: Sketsa Tiga Kepala”

Bagaimana D. T. Vagimbing Ungkapkan Cinta Pada Pamela

DONAT TRAM VAGIMBING. Masih ingat? Syukurlah kalian ingat. Aku hampir saja lupa padanya kalau tidak bertemu dengan Pamela, bakal calon istrinya kemarin siang. Itu pertemuan yang tidak disengaja pada sebuah kedai kopi seputaran Peunayong.

Aku yang sedang ngopi dengan istriku selesai belanja mingguan di Jalan Kartini disapa oleh seorang gadis, cukup membuat istri bermuka asam jawa pada kali pertama. Tapi setelah tahu kalau yang menegur adalah Pamela, cepat-cepat buah asam jawa yang nangkring di muka istriku berganti dengan buah srikaya. Manis seperti biasanya.

Continue reading “Bagaimana D. T. Vagimbing Ungkapkan Cinta Pada Pamela”

Membunuh Tokoh Fiksi Dalam Kepala

SUATU KALI aku terjebak dengan pikiranku sendiri. Dalam satu masalah pelik, yang sampai berhari-hari lamanya aku tersuruk kedalamnya tanpa tahu cara menyelesaikannya. Semuanya bermula ketika aku hendak mencoba menulis satu cerita pendek. Fiksi. Dengan setting cerita zaman konflik dulu.

Lazimnya cerita yang baik, tentunya harus digerakkan oleh tokoh di dalamnya. Maka aku pun mencoba mereka-reka tokoh untuk ceritaku itu, yang karena mengusung tema zaman konflik, aku memilih figur tentara sebagai tokoh utamanya. Lalu di sinilah letak masalah pelik muncul pada mulanya. Hingga membuatku berkesimpulan, bahwa jangankan di alam nyata, dalam alam khayali pun berurusan dengan tentara bisa menimbulkan malapetaka.

Continue reading “Membunuh Tokoh Fiksi Dalam Kepala”

Kiat-kiat Membebaskan Diri Dari Jerat Calo Beasiswa

AKU PERNAH bermimpi bisa melanjutkan studi lagi. Aku pernah terdaftar sebagai mahasiswa tingkat lanjut program paska sarjana sebuah kampus negeri di Banda Aceh. Jalan tahun ketiga kuliah di situ, telah habis semua mata kuliah. Tinggal bikin penelitian, menulis tulisan akhir, lalu sudah. Tapi di tahun ketiga itulah, kata sudah yang kumaksud tadi malah berujung pada kata tak berkesudahan. Setidaknya hingga sekarang ini.

Mimpiku sederhana. Apa lacur, mimpi itu harus kupendam dalam hati oleh sebab soalan klise: faktor ek[onomi]! Faktor itu pula yang membuatku didatangi oleh seorang teman (tak seberapa dekat) dan menawarkan solusi agar bisa melanjutkan kuliah lagi. Itu terjadi pada tahun keempat. Ketika aku sudah memutuskan jadi juru tulis berita di sebuah portal berita lokal, yang sejak beberapa tahun lewat telah tutup usia gara-gara pelbagai skandal. Tentu saja keputusan itu kuambil demi satu tekad: bisa mengumpulkan jerih yang ada untuk membunuh ketidakmampuanku akan biaya.

Continue reading “Kiat-kiat Membebaskan Diri Dari Jerat Calo Beasiswa”