Seterkutuknya Seorang Polisi yang Menggampar Perempuan dan Anak Kecil

PEKAN INI wajah kepolisian coreng oleh sebab ulah konyol penuh celaka AKBP M. Yusuf di Bangka Belitung. Sebagaimana video viral yang beredar di laman media sosial, tindakannya menendang seorang perempuan sekaligus menggampar seorang anak kecil, adalah satu tindakan yang hanya mungkin dilakukan oleh penjahat udik maha celaka.

Ketika tindakan seperti itu dilakukan oleh seseorang berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi, konon lagi sasarannya perempuan dan anak kecil, sudah barang tentu harus direspon dengan seketerkutuknya kata terkutuk. Sudah semestinya Tito Karnavian bertindak lebih kalap lagi darinya, dan pemutasian jabatan terasa masih belum cukup. 

Continue reading “Seterkutuknya Seorang Polisi yang Menggampar Perempuan dan Anak Kecil”

Betapa Celakanya Game PUBG

Dalam dua mingguan ini game Player Unkown’s Battle Ground atau disingkat PUBG telah menggerogoti sisi-sisi kebersamaan seorang teman. Rasa sosialnya terhadap orang sekitar lenyap dihisap permainan itu, dan inilah aku, menulis laporan ini tepat ketika si teman tengah hanyut dalam pertualangan perang semu di layar gawainya. Laporan ini kubuat berdasarkan rasa sentimentil yang amat sangat. Bisa kau bayangkan sendiri musababnya kenapa. Apalagi kalau kau pernah dicueki oleh teman, satu-satunya orang yang sedang bersamamu, tanpa bicara sepatah kata pun oleh sebab kesibukannya dengan game itu.

Continue reading “Betapa Celakanya Game PUBG”

Tengah Malam: Sketsa Tiga Kepala

MALAM MERAMBAT. Pelan, penuh khidmat. Buso Dhoe duduk di teras belakang rumah. Di temani secangkir kopi, nyamuk, obat nyamuk, rokok, dan roti Khong Guan. Bohlam lima watt menampilkan cahayanya yang temaram. Tapi cukup mengalahkan cahaya bintang nun jauh di langit. Udara gerah. Angin bulan Juli berhembus seenak udelnya, kadang berhembus keras hingga menyerupai badai, kadang tidak sama sekali. Dan malam ini tak ada angin, kecuali yang keluar dari pantat Buso Dhoe sedari tadi.

Continue reading “Tengah Malam: Sketsa Tiga Kepala”

Bersoal Suporter Bola

TAK BISA dipungkiri, sepakbola adalah satu olahraga paling menyedot perhatian umat manusia sejagad. Meski masih simpang siur dari mana jenis permainan ini punya asal, dunia sepakat bahwa sepakbola modern dikembangkan oleh orang-orang Inggris. Dan menjadi satu alat kolonialisme paling diterima oleh pribumi-pribumi di negeri-negeri jajahan di antara pelbagai bentuk kebrutalannya. Ihwal bagaimana sepakbola kemudian menyebar dan berkembang dari Eropa ke tanah-tanah jajahan. Ke Amerika Latin, Afrika dan juga Asia.

Continue reading “Bersoal Suporter Bola”

Di Selingkar Tampuk Kekuasaan Irwandi

IRWANDI YUSUF ditangkap KPK. Ketika kekuasaannya sebagai Gubernur Aceh edisi 2017 – 2022 hendak dirayakan untuk perjalanan setahun pertama. Ketika orang-orang ramai bertaruh harap padanya, akan kesejahteraan hidup di Aceh. Demi mendengar komitmennya dalam hal memberantas tindak cue peng nanggroe. Mengikut pada slogannya yang paling fenomenal, bahwa pemerintahan yang dipegangnya kali ini bermadzhab hana fee.

Continue reading “Di Selingkar Tampuk Kekuasaan Irwandi”

Bagaimana D. T. Vagimbing Ungkapkan Cinta Pada Pamela

DONAT TRAM VAGIMBING. Masih ingat? Syukurlah kalian ingat. Aku hampir saja lupa padanya kalau tidak bertemu dengan Pamela, bakal calon istrinya kemarin siang. Itu pertemuan yang tidak disengaja pada sebuah kedai kopi seputaran Peunayong.

Aku yang sedang ngopi dengan istriku selesai belanja mingguan di Jalan Kartini disapa oleh seorang gadis, cukup membuat istri bermuka asam jawa pada kali pertama. Tapi setelah tahu kalau yang menegur adalah Pamela, cepat-cepat buah asam jawa yang nangkring di muka istriku berganti dengan buah srikaya. Manis seperti biasanya.

Continue reading “Bagaimana D. T. Vagimbing Ungkapkan Cinta Pada Pamela”

Membunuh Tokoh Fiksi Dalam Kepala

SUATU KALI aku terjebak dengan pikiranku sendiri. Dalam satu masalah pelik, yang sampai berhari-hari lamanya aku tersuruk kedalamnya tanpa tahu cara menyelesaikannya. Semuanya bermula ketika aku hendak mencoba menulis satu cerita pendek. Fiksi. Dengan setting cerita zaman konflik dulu.

Lazimnya cerita yang baik, tentunya harus digerakkan oleh tokoh di dalamnya. Maka aku pun mencoba mereka-reka tokoh untuk ceritaku itu, yang karena mengusung tema zaman konflik, aku memilih figur tentara sebagai tokoh utamanya. Lalu di sinilah letak masalah pelik muncul pada mulanya. Hingga membuatku berkesimpulan, bahwa jangankan di alam nyata, dalam alam khayali pun berurusan dengan tentara bisa menimbulkan malapetaka.

Continue reading “Membunuh Tokoh Fiksi Dalam Kepala”

Kiat-kiat Membebaskan Diri Dari Jerat Calo Beasiswa

AKU PERNAH bermimpi bisa melanjutkan studi lagi. Aku pernah terdaftar sebagai mahasiswa tingkat lanjut program paska sarjana sebuah kampus negeri di Banda Aceh. Jalan tahun ketiga kuliah di situ, telah habis semua mata kuliah. Tinggal bikin penelitian, menulis tulisan akhir, lalu sudah. Tapi di tahun ketiga itulah, kata sudah yang kumaksud tadi malah berujung pada kata tak berkesudahan. Setidaknya hingga sekarang ini.

Mimpiku sederhana. Apa lacur, mimpi itu harus kupendam dalam hati oleh sebab soalan klise: faktor ek[onomi]! Faktor itu pula yang membuatku didatangi oleh seorang teman (tak seberapa dekat) dan menawarkan solusi agar bisa melanjutkan kuliah lagi. Itu terjadi pada tahun keempat. Ketika aku sudah memutuskan jadi juru tulis berita di sebuah portal berita lokal, yang sejak beberapa tahun lewat telah tutup usia gara-gara pelbagai skandal. Tentu saja keputusan itu kuambil demi satu tekad: bisa mengumpulkan jerih yang ada untuk membunuh ketidakmampuanku akan biaya.

Continue reading “Kiat-kiat Membebaskan Diri Dari Jerat Calo Beasiswa”

Memoar Kampung Asal: Keheningan Seorang Ibu

KAU PULANG dan mendapati rumah tengah menghanyutkan diri dalam keheningan yang canggung. Itu pada suatu petang pekan terakhir bulan ramadhan yang riuh, ketika ibu sedang menyiapkan menu berbuka puasa. Salam yang kau ucapkan terjawab dengan lirih. Tapi cukup mengungkapkan rasa sentimentil seorang perantau yang baru menginjakkan kaki di rumah asalnya. Setelah bertahun-tahun tinggal di kampung orang.

Dengan tergopoh-gopoh ibu menyambutmu di teras rumah, demi mendengar suara salammu. Ibu adalah satu-satunya orang yang menghafal warna suaramu. Sebagaimana ia tak pernah melupa suara anak-anaknya yang lain. Pula selalu bisa membedakan mana suara si sulung atau si bungsu.

Ada keharuan yang tak terkatakan manakala seorang anak berjumpa dengan ibunya setelah sekian tahun lamanya. Mungkin ada peluk setelah jabat tangan penuh takzim. Tapi yang membikin semuanya jadi lebih mengharu biru adalah ketika kau dapati seisi rumah telah demikian membeku dalam keheningannya. Keheningan yang kelak kau sadari menyebar dari hati dan mata redup ibumu.

Continue reading “Memoar Kampung Asal: Keheningan Seorang Ibu”

Prakata: MKDK, Membunuh Kecoa Dalam Kepala

 

MKDK. Membunuh kecoa dalam kepala. Adalah kalimat yang keluar dari mulut sastrawan asal Aceh, Azhari Aiyub yang baru-baru ini menerbitkan novel Kura-kura Berjanggut. Kalimat itu ia lontarkan medio 2007 pada kelas menulis Seuramoe Teumuleh II, diselenggarakan oleh Kata Hati Institute di Banda Aceh.

Membunuh kecoa dalam kepala adalah jawaban spontan yang dikatakannya ketika ia menanyakan pada seisi kelas, “Untuk apa menulis?” Barangkali jawaban itu dianggap paling nyeleneh bagi seisi kelas. Tapi tidak untukku. Mencari jawab atas pertanyaan untuk apa menulis bukanlah persoalan gampangan, khususnya untuk seorang awam menulis sepertiku.

Mengikut petuah Pramoedya Ananta Toer dalam novel Rumah Kaca bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian, bagiku agak terasa muluk-muluk. Maksudnya, untuk ukuran kemampuan menulisku yang masih cetek begini. Menyandarkan diri pada petuah itu sebagai jawaban ketika ditanyai orang kenapa harus menulis, tak ubahnya seperti si buruk rupa kelewat percaya diri.

Oleh sebab sadar diri akan kemampuan menulis itulah, aku butuh jawaban yang lebih sederhana atas pertanyaan, “Untuk apa menulis?” Beruntung aku sempat ikut kelas bersama Azhari Aiyub. Karena dari mulutnyalah aku mendapat jawaban yang sangat sederhana, tidak muluk-muluk, tak menuntut kerja otak ekstra untuk mencernanya.

“Untuk apa menulis? Untuk membunuh kecoa dalam kepala.” ~ Azhari Aiyub.

Kenapa kukatakan jawaban itu langsung bisa mengena. Itu tak lain terletak pada kata kecoa dalam kepala. Berkecoa kepala. Yang kuyakini adalah terjemahan ala kadarnya dari satu idiom Aceh; meu keuraleuep ulee. Ini adalah ungkapan untuk menggambarkan beban pikiran yang dialami seseorang, dan yang namanya umat manusia pengalaman itu adalah mutlak adanya.

Continue reading “Prakata: MKDK, Membunuh Kecoa Dalam Kepala”