Bersin, Tisu, Cinta yang Buyar Karenanya

MALAM BISU. Yang bersuara adalah kipas angin, nyamuk, jangkrik, cicak sesekali, dahan pohon jambu yang menggesek seng atap rumah ketika di terpa angin, juga suara bersin-bersinmu sejak setengah jam lalu. Tadinya kau menggunakan tisu untuk mengelap ingus dan liur oleh sebab bersin-bersin itu, tapi kini kau beralih pada lengan baju. Kendati terang betul perbedaan mengelap ingus dengan tisu dan lengan baju, terutama terletak pada kelembutannya ketika kena kulit lubang hidung.

Continue reading “Bersin, Tisu, Cinta yang Buyar Karenanya”

Kodok di Toilet

BARUSAN AKU ke kamar mandi sekaligus kamar buang hajat—kecil atawa besar. Aku kencing dengan khidmatnya. Menikmati sensasi pelepasan yang begitu melegakan setelah di jalan pulang sebelum sampai rumah, selangkanganku mesti terkepit-kepit sedemikian rupa. Pendengaranku fokus tertuju pada suara kucuran air seni yang kini membuih di lubang kloset. Saat hendak membilas, seekor kodok nyelonong dari mulut pipa pembuangan air yang letaknya di sudut, berjarak sedepa dari dudukan kloset. Aku batal menciduk air dalam bak saat itu juga. Fokus mataku langsung mengarah padanya, yang kini mendongakkan kepalanya. Balik menatapku dengan tenangnya.

Continue reading “Kodok di Toilet”

Cara Pintas Membunuh Ketidakbahagiaan

KETIKA HARGA Steem dan SBD anjlok. Steemit jadi sebegini sepi. Riuh rendah konten sudah tak lagi menggema. Banyak kreator konten melakukan hibernasi di tempat masing-masing. Aku yakin mereka belum lagi mati. Hibernasi bagi kreator konten itu sama pentingnya dengan liburan bagi abdi negara. Jika tidak libur, rutinitas yang begitu-begitu saja akan menggerus kreativitas. Kreativitas yang hanya akan menghasilkan karya-karya membosankan. Jangankan bisa mencerahkan, tapi malah membuat penikmat konten jadi ingin cepat-cepat enyah.

Continue reading “Cara Pintas Membunuh Ketidakbahagiaan”

Parijo Ronokuromo Diculik

PEKAN KEDUA bulan Agustus 1995. Tak diingatnya lagi tepatnya tanggal berapa. Parijo Ronokuromo mendapati dirinya terbangun di pinggir jalan lingkar Kota Yogya dalam keadaan telanjang. Bulat. Jangankan seutas benang masih menyemat di tubuh kerempengnya. Rambut kepalanya pun sudah tak ada. Botak. Tak hanya itu, bulu-bulu penting di organ luar tubuhnya juga plontos semua. Alisnya hilang. Bulu mata juga. Yang masih tetap seperti sedia kala adalah bebuluan di selangkangannya. Keriting, tumbuh serampangan persis seperti belukar di tanah kosong yang tak kena hirau pemiliknya selama bertahun-tahun.

Continue reading “Parijo Ronokuromo Diculik”

Pulang: Sebuah Prosesi

IA PAMIT dengan sekali tarikan nafas. Melangkah ke sebalik pintu tanpa menoleh ke belakang lagi. Begitu pun ketika ia sudah berada di pintu pagar halaman rumah. Rumah yang ditinggalkannya sepi kini. Sepi dengan segenap ratap dan isak tangis anak-anaknya, istrinya, dan kerabat lain yang sempat hadir pada detik-detik terakhir ia pamit.

Ia membuka gerendel pintu pagar dengan sangat perlahan. Inilah saatnya ia menikmati untuk terakhir kalinya satu barang remeh temeh yang pernah dimilikinya. Gerendel besi yang sudah berkarat. Yang dibelinya enam atau tujuh tahun lalu di toko bangunan milik A Kiong, seorang Konghucu yang bisa menghafal Al-Fatihah dan bacaan-bacaan dalam rukun khutbah. Dengan sentuhan tangannya yang dingin pucat pada gerendel besi itu, ia terkenang pengakuan A Kiong suatu waktu. “Rumahku bersebelahan dengan masjid. Dan aku tidak tuli.”

Continue reading “Pulang: Sebuah Prosesi”

Trik Picik Menulis Panjang

DALAM PERKARA menulis bebas ada trik yang jika kau terapkan dengan benar akan menghasilkan tulisan panjang. Jumlah katanya dijamin akan berkutat di atas lima ratusan. Trik ini, meski agak sedikit picik, sederhana saja. Tanpa harus pusing-pusing memikirkan ide ini itu. Tanpa menuntut pengadaan modal data anu ini, dan lain sebagainya.

Bagaimana trik yang kumaksud itu? Karena triknya cukup sederhana, baiknya tak kukata secara gamblang begitu saja. Melainkan boleh kau dapat, sekiranya kau jeli, dengan membaca beberapa cerita kecil di bawah ini. Mari. Sila nikmati.

Continue reading “Trik Picik Menulis Panjang”

Sunyi Pecah di Bivak Emperom

TENGAH MALAM di Bivak Emperom. Markas Komunitas Kanot Bu. Di ruang bawah. Ruang yang kerap berganti nama sesuai kegiatan yang tengah berlaku di Kanot Bu. Sesekali diberi nama Bilik Roepa PaskaDOM. Tapi ketika berlangsung beberapa kelas namanya berubah jadi Ruang Studi Jama’ah. Begitulah, aku di sini malam ini. Memelototi layar laptop sejak dua jam tadi. Ditemani @sangdiyus yang juga melakukan hal sama. Menulis entah apa.

Tadinya, ihwal aku memelototi layar laptop hendak menulis satu artikel apresiasi. Tentang kegiatan seni rupa. Tapi sedari tadi baru selesai satu paragraf belaka. Mentok sejak satu jam lewat. Oleh sebab kekurangan data, terutama tema kegiatannya. Acara seni rupa kumaksud itu sudah berlangsung dalam dua tiga hari ini. Tempatnya di Taman Budaya. Masuk dalam rangkaian besar perhelatan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) 7. Namun dilihat dari para perupa yang berkumpul, medium yang dipakai, dan rupa-rupa objek yang mereka gambar, boleh dikata, kegiatan tersebut merupakan satu pesta mural paling akbar yang pernah ada di Banda Aceh.

Continue reading “Sunyi Pecah di Bivak Emperom”

Narasi Kota Kita: Di Lampu Merah Jalan Sudirman

AKU KELUAR rumah tepat ketika azan Isya menggema di langit Banda Aceh. Aku keluar rumah hendak ke kedai kopi langganan. Rutenya melewati tiga kelokan lorong kampung, tembus jalan besar. Berhenti di lampu merah di satu perempatan. Ambil lurus. Lalu tanpa perlu tancap gas aku menghidupkan lampu tanda kanan untuk kemudian balik arah. Masih dengan laju santai, sepeda motor tinggal kuarahkan ke kiri, karena diseberang aku berbelok arah itulah letak kedai kopi itu.

Continue reading “Narasi Kota Kita: Di Lampu Merah Jalan Sudirman”

Menjadi Pahlawan Bagi Seekor Biawak Malang

ADA BIAWAK dalam kepalaku. Seekor saja. Datang entah dari mana, tahu-tahu sudah ada begitu saja. Meringkuk dalam batok kepala. Sesekali melata, menjelajahi rimba otak yang basah, penuh lendir. Ketika ia melata, saraf-saraf di kepalaku menegang. Aku pusing bukan kepayang.

Hari pertama ia ada, aku membiarkannya, tak menggubris sama sekali. Sebab kupikir, biawak itu hanyalah halusinasi belaka. Apa lagi setelah kuingat-ingat, aku memang pernah melihat biawak beberapa kali melintas di belakang rumah. Tapi kemudian, apa yang kuanggap halusinasi ternyata salah besar. Biawak itu adalah senyata-nyatanya biawak yang hidup di rawa-rawa daerah pesisir atau di semak belukar sebuah tanah kosong sekitar pemukiman warga. Dan aku benar-benar menyadari keberadaannya ketika ia pertama kali keluar dari ringkukannya.

Continue reading “Menjadi Pahlawan Bagi Seekor Biawak Malang”

Unfinished Biography: Di Bawah Kibaran Kain Sarung Nyi Miriam

SETELAH BERBASA-BASI perihal kedatanganku menemuinya langsung di tempat tinggalnya ini, Nyi Miriam menyilahkanku masuk ke rumahnya. Ajakan yang membawaku harus menaiki tujuh anak tangga. Ajakan yang membuatku terperanjat pucat pada anak tangga ketiga, ketika dengan tak sengaja aku mendongakkan kepala. Nyi Miriam, lazimnya tuan rumah, naik terlebih dahulu dan tepat ketika aku menengadah ia telah berada di anak tangga ke enam, saat yang sama ketika angin petang dari hamparan sawah mengibarkan kain sarungnya.

Itu kibaran hebat hingga menampakkan semesta isinya. Semesta isinya yang samar, remang-remang, tapi dengan serta merta membuatku kembali merasa mual untuk kedua kalinya sejak dekapan itu, oleh sebab: dalam dongakan kepala penuh ketidaksengajaan itu, aku menemukan pangkal paha nenek tua ini tidak terbungkus oleh apa pun jenis kain yang serupa dalaman. Apakah itu kancut, cawat, atau kantong air seni sekaligus tahi khusus jompo yang oleh orang-orang sekarang menyebutnya pampers.

Continue reading “Unfinished Biography: Di Bawah Kibaran Kain Sarung Nyi Miriam”