Cara Pintas Membunuh Ketidakbahagiaan

KETIKA HARGA Steem dan SBD anjlok. Steemit jadi sebegini sepi. Riuh rendah konten sudah tak lagi menggema. Banyak kreator konten melakukan hibernasi di tempat masing-masing. Aku yakin mereka belum lagi mati. Hibernasi bagi kreator konten itu sama pentingnya dengan liburan bagi abdi negara. Jika tidak libur, rutinitas yang begitu-begitu saja akan menggerus kreativitas. Kreativitas yang hanya akan menghasilkan karya-karya membosankan. Jangankan bisa mencerahkan, tapi malah membuat penikmat konten jadi ingin cepat-cepat enyah.

Dulu ketika harga Steem dan SBD tengah jaya-jayanya, aku pernah mematok akan menayangkan postingan sehari satu. Tentu saja patokan itu termotivasi oleh sebab urusan benefit. Tapi ternyata itu tak bisa kujalani oleh sebab banyak hal. Menyadari atas ketidakmampuanku mencapai target pribadi, pertamanya aku agak menyesal juga. Tapi setelah membaca-baca ulang beberapa postingan lama yang kutulis setiap hari. Aku menemukan banyak artikel yang sama sekali tak ada isi. Cuma sebatas kejar tayang. Hal kenapa aku kemudian memilih jeda barang sehari dua hari dari menulis postingan.

Jeda. Hibernasi. Libur. Adalah perihal yang mutlak. Aku butuh penyegaran. Setidaknya sehari dua hari tak mengurus akun steemit, tidak memosting konten, aku bisa memanfaatkan pikiran pada perkara-perkara lain yang bisa melegakanku dari rutinitas. Tadinya, aku menjadikan steemit sebagai tempat belajar menulis dengan bahagia. Menulis tanpa banyak aturan. Menulis apa saja. Tapi ketika itu kulakukan setiap hari, rutin—hingga boleh dikata jadi rutinitas sehari-hari. Aku jadi punya kesimpulan, ternyata rutin bahagia bikin jenuh juga. Perlu diimbangi dengan hal-hal yang tidak mendatangkan bahagia.

Ada banyak cara untuk tidak bahagia. Salah satu cara paling pintas adalah dengan cemplung ke sumur. Timbul tenggelam di sana barang setengah atau sehari. Kemudian, jika masih cukup tenaga teriak minta tolonglah sekuat tenaga. Aku yakin kau akan mendapatkan ketidakbahagiaan dan kebahagiaan sekaligus tepat ketika kau kena tolong pada seseorang yang berbaik hati di atas. Jika pun tidak ada yang menolong. Dan kemudian kau mati di sumur itu tanpa ada orang mengetahui. Yakinlah, itulah ketidakbahagiaan paling purna yang pernah di dapat seorang anak manusia. Kau patut berbangga. Karena satu-satunya anak manusia yang mencapai status itu adalah kau sendiri.

Lalu bagaimana cara yang kulakukan untuk mencapai ketidakbahagiaan sebagai perimbangan dari kebahagiaan yang telah kucapai setiap hari sebelumnya? Tidak. Aku tidak akan cemplung ke sumur. Aku cukup bermain game Android yang pernah kukutuk sebulanan lewat. PUBG. Sebagai pemula, aku memainkan game itu alakadarnya. Tiap turun dari pesawat. Lari sana-sini barang sebentar. Lantas kena tembak. Game over. Aku menyumpah beberapa kali. Restart lagi. Main lagi. Game over lagi. Dan sudah tentu aku menyumpah untuk kesekian kali. Hingga ketika tersadar bahwa aku telah bersumpah serapah dalam jumlah yang tak terhitungkan. Aku jadi tahu, ternyata letak ketidakbahagiaan dengan kebahagiaan itu dekat sekali. Ada hijab di tengah-tengahnya, tapi cuma setipis kulit bawang (meminjam istilah @sangdiyus).

Manakala ketidakbahagiaan datang. Katakanlah kau jadi tidak bahagia oleh sebab harapan palsu seorang gebetan. Apakah itu cowok, cewek, (jika pun kau punya gebetan banci, boleh juga kau masukkan dalam daftar sebutan di sini). Kau jadi sedih karenanya. Kau cemberut. Hari-hari yang kau lalui adalah hari-hari penuh masam muka. Yang jelas kau sama sekali tak bahagia. Untuk bisa bahagia hari itu juga. Kau tinggal merapal banyak sumpah serapah. Ingat si pemberi harapan palsu, langsung serapah sekali.  Ingat dia lagi. Serapah lagi. Yakinlah kau akan bahagia detik itu juga. Tenang sentosa. Selamat mencoba.

 

Image source: 1.

Parijo Ronokuromo Diculik

PEKAN KEDUA bulan Agustus 1995. Tak diingatnya lagi tepatnya tanggal berapa. Parijo Ronokuromo mendapati dirinya terbangun di pinggir jalan lingkar Kota Yogya dalam keadaan telanjang. Bulat. Jangankan seutas benang masih menyemat di tubuh kerempengnya. Rambut kepalanya pun sudah tak ada. Botak. Tak hanya itu, bulu-bulu penting di organ luar tubuhnya juga plontos semua. Alisnya hilang. Bulu mata juga. Yang masih tetap seperti sedia kala adalah bebuluan di selangkangannya. Keriting, tumbuh serampangan persis seperti belukar di tanah kosong yang tak kena hirau pemiliknya selama bertahun-tahun.

Continue reading “Parijo Ronokuromo Diculik”

Pulang: Sebuah Prosesi

IA PAMIT dengan sekali tarikan nafas. Melangkah ke sebalik pintu tanpa menoleh ke belakang lagi. Begitu pun ketika ia sudah berada di pintu pagar halaman rumah. Rumah yang ditinggalkannya sepi kini. Sepi dengan segenap ratap dan isak tangis anak-anaknya, istrinya, dan kerabat lain yang sempat hadir pada detik-detik terakhir ia pamit.

Ia membuka gerendel pintu pagar dengan sangat perlahan. Inilah saatnya ia menikmati untuk terakhir kalinya satu barang remeh temeh yang pernah dimilikinya. Gerendel besi yang sudah berkarat. Yang dibelinya enam atau tujuh tahun lalu di toko bangunan milik A Kiong, seorang Konghucu yang bisa menghafal Al-Fatihah dan bacaan-bacaan dalam rukun khutbah. Dengan sentuhan tangannya yang dingin pucat pada gerendel besi itu, ia terkenang pengakuan A Kiong suatu waktu. “Rumahku bersebelahan dengan masjid. Dan aku tidak tuli.”

Continue reading “Pulang: Sebuah Prosesi”

Trik Picik Menulis Panjang

DALAM PERKARA menulis bebas ada trik yang jika kau terapkan dengan benar akan menghasilkan tulisan panjang. Jumlah katanya dijamin akan berkutat di atas lima ratusan. Trik ini, meski agak sedikit picik, sederhana saja. Tanpa harus pusing-pusing memikirkan ide ini itu. Tanpa menuntut pengadaan modal data anu ini, dan lain sebagainya.

Bagaimana trik yang kumaksud itu? Karena triknya cukup sederhana, baiknya tak kukata secara gamblang begitu saja. Melainkan boleh kau dapat, sekiranya kau jeli, dengan membaca beberapa cerita kecil di bawah ini. Mari. Sila nikmati.

Continue reading “Trik Picik Menulis Panjang”

Sunyi Pecah di Bivak Emperom

TENGAH MALAM di Bivak Emperom. Markas Komunitas Kanot Bu. Di ruang bawah. Ruang yang kerap berganti nama sesuai kegiatan yang tengah berlaku di Kanot Bu. Sesekali diberi nama Bilik Roepa PaskaDOM. Tapi ketika berlangsung beberapa kelas namanya berubah jadi Ruang Studi Jama’ah. Begitulah, aku di sini malam ini. Memelototi layar laptop sejak dua jam tadi. Ditemani @sangdiyus yang juga melakukan hal sama. Menulis entah apa.

Tadinya, ihwal aku memelototi layar laptop hendak menulis satu artikel apresiasi. Tentang kegiatan seni rupa. Tapi sedari tadi baru selesai satu paragraf belaka. Mentok sejak satu jam lewat. Oleh sebab kekurangan data, terutama tema kegiatannya. Acara seni rupa kumaksud itu sudah berlangsung dalam dua tiga hari ini. Tempatnya di Taman Budaya. Masuk dalam rangkaian besar perhelatan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) 7. Namun dilihat dari para perupa yang berkumpul, medium yang dipakai, dan rupa-rupa objek yang mereka gambar, boleh dikata, kegiatan tersebut merupakan satu pesta mural paling akbar yang pernah ada di Banda Aceh.

Continue reading “Sunyi Pecah di Bivak Emperom”

Narasi Kota Kita: Di Lampu Merah Jalan Sudirman

AKU KELUAR rumah tepat ketika azan Isya menggema di langit Banda Aceh. Aku keluar rumah hendak ke kedai kopi langganan. Rutenya melewati tiga kelokan lorong kampung, tembus jalan besar. Berhenti di lampu merah di satu perempatan. Ambil lurus. Lalu tanpa perlu tancap gas aku menghidupkan lampu tanda kanan untuk kemudian balik arah. Masih dengan laju santai, sepeda motor tinggal kuarahkan ke kiri, karena diseberang aku berbelok arah itulah letak kedai kopi itu.

Continue reading “Narasi Kota Kita: Di Lampu Merah Jalan Sudirman”

Menjadi Pahlawan Bagi Seekor Biawak Malang

ADA BIAWAK dalam kepalaku. Seekor saja. Datang entah dari mana, tahu-tahu sudah ada begitu saja. Meringkuk dalam batok kepala. Sesekali melata, menjelajahi rimba otak yang basah, penuh lendir. Ketika ia melata, saraf-saraf di kepalaku menegang. Aku pusing bukan kepayang.

Hari pertama ia ada, aku membiarkannya, tak menggubris sama sekali. Sebab kupikir, biawak itu hanyalah halusinasi belaka. Apa lagi setelah kuingat-ingat, aku memang pernah melihat biawak beberapa kali melintas di belakang rumah. Tapi kemudian, apa yang kuanggap halusinasi ternyata salah besar. Biawak itu adalah senyata-nyatanya biawak yang hidup di rawa-rawa daerah pesisir atau di semak belukar sebuah tanah kosong sekitar pemukiman warga. Dan aku benar-benar menyadari keberadaannya ketika ia pertama kali keluar dari ringkukannya.

Continue reading “Menjadi Pahlawan Bagi Seekor Biawak Malang”

Unfinished Biography: Di Bawah Kibaran Kain Sarung Nyi Miriam

SETELAH BERBASA-BASI perihal kedatanganku menemuinya langsung di tempat tinggalnya ini, Nyi Miriam menyilahkanku masuk ke rumahnya. Ajakan yang membawaku harus menaiki tujuh anak tangga. Ajakan yang membuatku terperanjat pucat pada anak tangga ketiga, ketika dengan tak sengaja aku mendongakkan kepala. Nyi Miriam, lazimnya tuan rumah, naik terlebih dahulu dan tepat ketika aku menengadah ia telah berada di anak tangga ke enam, saat yang sama ketika angin petang dari hamparan sawah mengibarkan kain sarungnya.

Itu kibaran hebat hingga menampakkan semesta isinya. Semesta isinya yang samar, remang-remang, tapi dengan serta merta membuatku kembali merasa mual untuk kedua kalinya sejak dekapan itu, oleh sebab: dalam dongakan kepala penuh ketidaksengajaan itu, aku menemukan pangkal paha nenek tua ini tidak terbungkus oleh apa pun jenis kain yang serupa dalaman. Apakah itu kancut, cawat, atau kantong air seni sekaligus tahi khusus jompo yang oleh orang-orang sekarang menyebutnya pampers.

Continue reading “Unfinished Biography: Di Bawah Kibaran Kain Sarung Nyi Miriam”

Unfinished Biography: Tentang Nyi Miriam, Sekilasnya Saja

NYI MIRIAM telah tua. Sudah nenek-nenek. Umurnya tak tercatat dalam dokumen apa pun. Posturnya tinggi. Apa yang sangat mungkin telah membengkokkan tulang punggungnya adalah jumlah usianya. Ketika berdiri ia hampir menyerupai seorang muallaf yang sedang belajar ruku’ pada kali pertama. Matanya awan mendung. Tapi sorotnya masih setajam matahari pagi pada bulan Maret yang kering. Begitu pun dengan rambutnya. Sanggulannya dibelit pada sebatang tusuk konde dari cangkang kura-kura, adalah jenis rambut yang dipunyai kebanyakan orang-orang yang kelebihan umur.

Continue reading “Unfinished Biography: Tentang Nyi Miriam, Sekilasnya Saja”

Belajar Menulis Bebas: Tamasya Pikiran Pada Kekosongan

AKU INGIN menulis bebas. Mengalir sebebas air sungai dari hulu ke hilir. Mengudara serupa kepak sayap capung. Ringkih. Tapi dengan segenap keringkihan itulah ia mengada. Dan umat manusia mengenalnya, memberinya nama, dan ahli hewani mengudap banyak ilmu pengetahuan atas keberadaannya. Aku ingin menulis bebas. Merdeka. Dan tulisan yang terbaca adalah perayaan dari kebebasan yang ada. Barangkali itu tak semirip perayaan budak belian dari tuannya. Tapi kebebasan patutlah diselebrasi sedemikian rupa, bagaimana pun caranya.

Tamasya. Inilah saatnya mengajak pikiran bertamasya. Atau mungkin membiarkannya bertamasya sendirian saja, dan aku duduk di sini, menghadapi layar putih komputer jinjing sambil menunggu pikiran pulang membawa apa-apa yang dilihatnya. Apa saja yang dilihatnya, oleh-oleh pikiran sehabis pelesiran, kuambil satu-satu, kutimang-timang, kutimbang-timbang. Segalanya adalah bahan baku bagi rangkaian kalimat yang tengah kau baca. Segalanya adalah bahan baku bagi mengadanya sebuah cerita.

Continue reading “Belajar Menulis Bebas: Tamasya Pikiran Pada Kekosongan”