Memoar Kampung Asal: Keheningan Seorang Ibu

KAU PULANG dan mendapati rumah tengah menghanyutkan diri dalam keheningan yang canggung. Itu pada suatu petang pekan terakhir bulan ramadhan yang riuh, ketika ibu sedang menyiapkan menu berbuka puasa. Salam yang kau ucapkan terjawab dengan lirih. Tapi cukup mengungkapkan rasa sentimentil seorang perantau yang baru menginjakkan kaki di rumah asalnya. Setelah bertahun-tahun tinggal di kampung orang.

Dengan tergopoh-gopoh ibu menyambutmu di teras rumah, demi mendengar suara salammu. Ibu adalah satu-satunya orang yang menghafal warna suaramu. Sebagaimana ia tak pernah melupa suara anak-anaknya yang lain. Pula selalu bisa membedakan mana suara si sulung atau si bungsu.

Ada keharuan yang tak terkatakan manakala seorang anak berjumpa dengan ibunya setelah sekian tahun lamanya. Mungkin ada peluk setelah jabat tangan penuh takzim. Tapi yang membikin semuanya jadi lebih mengharu biru adalah ketika kau dapati seisi rumah telah demikian membeku dalam keheningannya. Keheningan yang kelak kau sadari menyebar dari hati dan mata redup ibumu.

Continue reading “Memoar Kampung Asal: Keheningan Seorang Ibu”