Ketika Banyak Orang Berubah Jadi Cebong dan Kampret

JELANG PEMILIHAN calon presiden yang partai puncaknya tinggal menghitung pekan saja, Indonesia makin gegap gempita. Seluruh Indonesia terlibat dalam pembicaraan, dukung-mendukung, siapa yang pantas jadi orang nomor satu periode lima tahunan kedepan. Yang naik jadi calon adalah seteru lama, meski pasangan (bukan ranjang) yang dipilih masing-masing mereka kali ini berbeda. Pada periode sebelumnya kedua orang ini sudah pernah saling adu taji. Mengantarkan yang satu jadi petahana pada periode sekarang, dan satunya lagi tampak sebagai lawan abadi yang terkepung banyak ambisi pribadi. Apa yang terjadi pada periode ini lebih kurang sama dengan yang dulu-dulu, tapi letak bedanya terang terdapat pada cara-cara mendukung para simpatisan di kedua kubu.

Sungguh, seteru Jokowi versus Prabowo dalam masa kampanye calon presiden kali ini telah membelah Indonesia dalam dua kubu besar. Kubu-kubu kecil tetap ada, dan akan kita bicarakan di sini sebagai orang-orang di luar pagar saja. Maka mari berfokus pada yang besar-besar terlebih dahulu. Semisal fakta tentang penamaan antar dua kubu besar itu. Yang satu punya nama panggilan khas kepada kubu lawannya. Begitu pun sebaliknya. Yang satu disebut Cebong. Satunya lagi dilakab Kampret.

Hingga tak pelak lagi, jadilah sebagian besar orang di Indonesia saling mengidentifikasi, lebih tepatnya saling maki memaki dengan dua istilah yang demikian. Jika tidak Cebong seseorang, maka Kampret-lah ianya. Begitu pun keterbalikannya. 

Continue reading “Ketika Banyak Orang Berubah Jadi Cebong dan Kampret”

118

Petang di Bivak Emperom

BIVAK EMPEROM akan memulai denyutnya setelah tengah hari. Dari subuh ke pagi, tempat ini tertidur dengan pulasnya, tanpa ada satu pun kuasa kebisingan atau kegemparan bisa membuatnya terbangun seketika. Petang hari adalah waktu di mana Bivak Emperom berdenyut dengan sempurna. Orang-orang beraktivitas layaknya aktivitas pegawai negeri setelah upacara senin pagi. Titik jedanya pas azan maghrib. Lantas denyut itu berlanjut lagi hingga tengah malam, tak jarang sampai ke dini hari.

Continue reading “Petang di Bivak Emperom”

59

Tiga Lagu Aceh Dalam Album Musik Etnik Dunia

SEKIRA DUA tahun setelah bencana maha dahsyat Smong 26 Desember 2004 melanda Aceh, dan beberapa negara lainnya. EarthSync, satu label rekaman sekaligus produser konten audio dan visual, asal Chennai, India Selatan melakukan satu proyek musik. Yaitu penggarapan musik etnik lintas negara. Meliputi negara-negara yang dihantam bencana Smong, seperti Sri Lanka, Maldives, India, dan Indonesia. Laya Project. Begitu nama proyek tersebut, yang kemudian dijadikan pula sebagai nama album bagi keseluruhan musik yang digarap.

Continue reading “Tiga Lagu Aceh Dalam Album Musik Etnik Dunia”

61

5W 1H & Kebingungan Bikin Berita Bernarasumber Politikus Bebal

SEWAKTU JADI juru kabar di salah satu media online-tak online Aceh yang sekarang sudah tak tahu kemana oleh sebab keambisiusan pemiliknya. Menulis berita adalah tuntutan jika tak ingin disebut kewajiban. Berbekal surat magang—dari pertama masuk dan hingga keluar, entah kenapa aku tak punya sebiji pun kartu pers—aku belajar sekaligus berlatih menulis setiap hari. Menulis berita tentu saja. Mulai dari berita harga emas, kecelakaan lalu lintas, bencana alam, harga cabai, kekerasan terhadap anak, sampai berita politik yang notabene narasumbernya suka beri pernyataan tak sesuai konteks pertanyaan yang kuajukan.

Untuk ukuran menulis berita, terutama jenis berita langsung (straight news), boleh dikata gampang-gampang susah. Gampang jika berita dimaksud cuma sebatas laporan harga-harga atau kejadian-kejadian tertentu. Formula 5W 1H (what, who, when, where, why, dan how) dengan mudah diaplikasikan.

Continue reading “5W 1H & Kebingungan Bikin Berita Bernarasumber Politikus Bebal”

48

Betapa Suntuknya Orang Aceh

Selain bioskop, tempat rekreasi hampir sama nihilnya, misalnya kebun binatang. ~ Tirto.id


BERSEBAB STANDAR orang-orang yang baru datang dari Jakarta dalam hal tempat cari hiburan adalah segala bentuk tempat berbayar. Mahal-mahal. Semisal bioskop. Kebun binatang. Starbuck. Tempat karaoke. Maka betapa kasihan orang-orang kita di Aceh. Kita sama sekali tak punya tempat berstandar seperti itu. Kepingin nonton film kita cuma bisa melototin layar laptop dengan nonton streaming di indoxxi dot com. Itu pun mesti nunggu yang versi bluray dulu.

Continue reading “Betapa Suntuknya Orang Aceh”

136

Narasi Kota Kita: Ulee Lheue Satu Petang, Mural Tauris Mustafa Berjudul Ibadah Ikan

INI HARI senja tak turun di Ulee Lheue. Padahal sore sudah hendak menyatu dengan maghrib. Ada mendung menggantung. Seantero langit kelabu. Matahari terpacak di atas Pulau Bunta. Kecil nyalanya. Seperti cahaya bohlam kekurangan daya listrik. Ada mendung yang membuatnya sesemaput orang tua uzur. Dan Ulee Lheue menampilkan diri dalam kesenduan seorang istri menanti suaminya pulang. Setelah berbulan-bulan dijemput paksa para tentara pergi entah kemana. Sesendu perempuan dalam lirik lagu Pikee dalam album Bantayan. Inong tahee ji duek bak pinto. Agam baro hana meuho ka. Baluem kasoh boco bak tageue. Aneuk ka glue lagee bacee lam paya.

Continue reading “Narasi Kota Kita: Ulee Lheue Satu Petang, Mural Tauris Mustafa Berjudul Ibadah Ikan”

71

Narasi Kota Kita: Di Lampu Merah Jalan Sudirman

AKU KELUAR rumah tepat ketika azan Isya menggema di langit Banda Aceh. Aku keluar rumah hendak ke kedai kopi langganan. Rutenya melewati tiga kelokan lorong kampung, tembus jalan besar. Berhenti di lampu merah di satu perempatan. Ambil lurus. Lalu tanpa perlu tancap gas aku menghidupkan lampu tanda kanan untuk kemudian balik arah. Masih dengan laju santai, sepeda motor tinggal kuarahkan ke kiri, karena diseberang aku berbelok arah itulah letak kedai kopi itu.

Continue reading “Narasi Kota Kita: Di Lampu Merah Jalan Sudirman”

58

Semangkuk Sup Panas Grong-grong dan Bualan Diyus Tentang Tiga Belahan Jeruk Nipis

SEMANGKUK SUP panas di Grong-grong telah menjadikan polemik sepanjang perjalanan kami. Itu bermula ketika kami berangkat pada malam buta yang hendak gerhana dari Banda Aceh menuju Cunda, Lhokseumawe. Kami, empat belas orang dalam rombongan ini, terbagi dalam dua mobil, hendak berkunjung ke rumah @pieasant, di mana ibunya meninggal dunia beberapa hari sebelumnya.

Aku semobil dengan Diyus Hanafi, Muhajir Abdul Aziz, Opong, Fauzan, dan Andre Zahrul Fuadi. Adalah @sangdiyus yang memulai polemik itu. Ketika mobil yang kami tumpangi melesat dengan laju yang begitu menenangkan di jalan lurus Peurade, Trienggadeng, ia berkata keisi mobil. Bahwa di Grong-grong ada dijual sup terenak yang pernah disantapnya selama hidupnya. Sup yang keenakannya begitu menghanyutkan, sampai-sampai ia lupa Grong-grong itu berada di kabupaten mana.

Continue reading “Semangkuk Sup Panas Grong-grong dan Bualan Diyus Tentang Tiga Belahan Jeruk Nipis”

49

Uteun Wakaf, Lagu Isu Lingkungan Hasil Diskusi di RSJ

TAHUN LEWAT, sekira pekan akhir bulan Agustus, satu lagu Aceh yang mengangkat isu lingkungan dirilis dengan tingkat spontanitas paling dahsyat para musisi dalam menghasilkan lagu. Lagu itu di beri judul, Uteun Wakaf. Liriknya dicipta secara keroyokan, musiknya di aransemen oleh Fuady Keulayu, lalu Rial Amoeba turun suara sebagai vokalnya, dan anak-anak Aceh Documentary bertindak sebagai juru gambar sekaligus juru rekam. Hingga video lagu tersebut dapat dinikmati di laman youtube, seperti yang boleh kau lihat di bawah ini.

Continue reading “Uteun Wakaf, Lagu Isu Lingkungan Hasil Diskusi di RSJ”

50

Suatu Kali, Kampung Kami

PADA MASA ketika tentara masih tinggal, jaga dan tidur dan onani dan lain sebagainya di pos. Di mana setiap hari mereka keluyuran di kampung kami dan kampung sebelah, juga di kampung-kampung yang lain sambil memamerkan senjata. Orang-orang di kampung kami dibuat terbiasa menggotong tubuh-tubuh keluar dari parit dengan keberadaan mereka. Bukan dari parit saja. Kadang orang-orang kampung mengangkatnya setelah menemukannya mengapung di tambak ikan, di rawa-rawa, dekat kandang ayam milik warga, atau bahkan kerap pula di badan jalan yang ketika musim hujan penuh dengan kubangan lumpur.

Continue reading “Suatu Kali, Kampung Kami”

61