Catatan Ini Kutulis Ketika

AKU TULIS catatan ini ketika. Hujan turun sebentar saja dan angin tengah ribut-ributnya di luar rumah. Itu bersamaan dengan naiknya sebuah status media sosial seorang seniman yang merasa diri sudah benar-benar seniman sejati hanya gara-gara pernah menulis sebiji dua biji puisi, yang mengatakan perhelatan PKA kali ini gagal. Menurutnya kegagalan itu disebabkan banyak hal. Ia menjabarkannya satu-satu, tapi satu hal yang tidak mau diakuinya di situ. Bahwa kegiatan akbar itu gagal bersebab tidak ada nama dia dalam deretan panitia penting.

Catatan ini kutulis ketika Geuceue tiba-tiba senyap. Angin di luar rumah tak lagi ribut-ribut. Sementara di pojok kampung yang lain, mungkin nun di pedalaman Nisam sana, sebuah kedai kopi riuh oleh sebab seorang pelanggannya bersikeras bahwa gerakan perlawanan harus dipicu kembali. Bahwa banyak elit kombatan yang sudah lupa arti perjuangan. Sudah lena dengan gelimang laba proyek. Si pelanggan itu bersikukuh, cara satu-satunya agar para elit itu ingat kembali pada jutaan ton penderitaan masa perang dulu adalah dengan cara memulai perang kembali. “Biarlah darah mengalir lagi, dan kita akan bahu membahu seperti dulu-dulu.”

Narasi Aceh lampau yang dibangun dengan imajinasi kemegahan didengung-dengungkan oleh sebagian pemerhati sejarah. Segala yang baik hanya ada pada tahun atau bahkan abad yang sudah-sudah. Yang buruk-buruk tidak ada sama sekali. Jika pun ada, itu aib yang mesti dihapus dari catatan mana pun. Hal mana yang membuat anak cucu  kemudian hari, para pemerhati sejarah itu misalnya, merasa narsis sendiri. Merasa merekalah pemegang tongkat estafet para pendahulu yang tampak seakan-akan tak pernah punya dosa sejarah itu.

Keberadaan catatan ini mengada ketika cara-cara berbagi ilmu pengetahuan para intelektual. Khususnya para intelektual yang hanya gara-gara sudah pernah mandi salju di daratan Eropa, merasa jijik dengan leubeueng (comberan) di belakang rumahnya sendiri. Hanyalah dengan cara membeberkan teori sosial ini itu. Melulu teori. Penuh rapalan kata istilah yang bisa membuat kerut dahi berhari-hari. Tanpa pernah bisa menyederhanakannya dengan bahasa orang-orang kampungnya sendiri. Alih-alih menyederhanakan, malah mereka membicarakan gejala-gejala sosial yang berlaku di kampung dengan bahasa-bahasa intelek, yang lagi-lagi membuat kerut kening para pendengarnya. Kali ini bisa berminggu-minggu lamanya.

Ada banyak catatan ilmiah tentang gejala-gejala yang terjadi di kampung halamannya. Itu catatan ilmiah setelah melakukan penelitian cukup intensif, berbulan-bulan, bahkan ada juga yang menghabiskan waktunya dalam bilangan tahun. Bahkan ada yang menjadikan perilaku sehari-hari sanak keluarganya, termasuk kebiasaan buang hajat di sungai, misalnya, sebagai bahan penelitian. Namun satu hal yang patut disayangkan, catatan ilmiah itu seringnya tertulis dalam bahasa asing. Dimuat dalam jurnal-jurnal ekslusif. Dicetak oleh penerbit-penerbit luar. Yang jangankan bisa dijangkau oleh orang banyak. Oleh si intelektual itu sendiri tidak bisa menjangkaunya lagi, tepat ketika ia sudah memperoleh gelar dari tempat yang mewajibkannya meneliti kampung sendiri.

Tadinya aku ingin cepat-cepat mengakhiri catatan ini. Tapi urung ketika ingatanku terpacak pada satu perdebatan. Perdebatan kecil. Berlangsung beberapa bulan lewat. Antara si pemerhati sejarah narsis dengan intelektual yang pernah mandi salju di Eropa itu. Dan aku terjebak di tengah-tengah mereka. Mendengar cara-cara mereka saling mempertahankan sekaligus mematahkan argumen lawan. Yang satu mengajak balik badan ke belakang. Penuh nostalgi. Satunya lagi bersikukuh dengan teori sosial dari buku-buku. Semuanya harus diukur dengan takaran pikiran Barat.

Aku tersenyum-senyum sendiri mendengar perdebatan keduanya. Sebab dari argumen-argumen yang ada, aku berkesimpulan. Dua orang ini sepertinya tengah merasa culture shock. Sama-sama terjebak pada masa kini. Biar saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *