Betapa Celakanya Game PUBG

Dalam dua mingguan ini game Player Unkown’s Battle Ground atau disingkat PUBG telah menggerogoti sisi-sisi kebersamaan seorang teman. Rasa sosialnya terhadap orang sekitar lenyap dihisap permainan itu, dan inilah aku, menulis laporan ini tepat ketika si teman tengah hanyut dalam pertualangan perang semu di layar gawainya. Laporan ini kubuat berdasarkan rasa sentimentil yang amat sangat. Bisa kau bayangkan sendiri musababnya kenapa. Apalagi kalau kau pernah dicueki oleh teman, satu-satunya orang yang sedang bersamamu, tanpa bicara sepatah kata pun oleh sebab kesibukannya dengan game itu.

Jika alasan kecuekannya itu adalah sedang sibuk menggombal seseorang yang akan dijadikan sasaran cintanya, barangkali kau akan sedikit memberikan kelonggaran permakluman. Tapi dicueki untuk sesuatu permainan yang alur permainannya cuma begitu-begitu saja tentu bikin panas hati juga. Kau tampak sama sekali tak penting olehnya, dan inilah aku, menulis laporan seadanya dengan rasa sentimentil yang amat sangat oleh sebab hampir setengah jam diabaikan oleh si teman yang satu ini.

Setelah kuselesaikan paragraf kedua, kulirik si teman yang sedang fokus menekuri permainannya, ini kali kesekian ia mengulang dari pertama setelah sebelumnya berkali-kali mati sebelum mencapai finish. Bibirnya yang legam oleh sebab candu bergerak-gerak dengan derajat kemonyongan yang tak terkira. Sepasang jempolnya bergeser kesana kemari di layar gawai. Nyaris seperti gerak caping kepiting jantan yang tengah bercengkerama membelai punggung kepiting betina. Mata berkedip hebat. Sesekali keluar suara umpatan dari mulutnya. Tapi banyak di antaranya adalah berupa desis atau decak kesal, entah kesal pada dirinya sendiri, atau kesal pada gamer lain, rekan main di seberang sana.

Dulu temanku—kini ia bermain sembari mengudut sebatang rokok—pernah bilang akan menggeluti sesuatu game yang ada di handphone, laptop, komputer meja, atau gawai ber-android adalah jenis-jenis game yang bisa menghibur dirinya sendiri. Tapi sekarang, dengan PUBG, berdasarkan umpatan, mimik wajah dan desis kecewa yang beberapa kali keluar dari mulutnya. Aku menemukan temanku yang sudah hampir satu jam mengabaikanku tanpa sepatah kata, terlibat dalam satu permainan yang alih-alih bisa menghibur, malah membuatnya merasa tegang sendiri. Yang ketika diserang musuh, mimik wajahnya serupa orang sembelit yang tengah mati-matian mengedan di jamban.

Apakah ketegangan bisa menghibur? Apakah petualangan penuh tantangan yang digadang-gadang dalam iklan game itu menjamin terhiburnya seseorang? Aku tak tahu pasti. Kecuali melihat sikap temanku yang setelah gagal untuk kesekian kalinya mencapai finish. Masih saja menyimpan mimik ber-setting jamban. Tapi kini mimik itu sudah berubah demikian kusutnya serupa kain lap kompor bertenaga minyak tanah.

Cakap punya cakap, PUBG adalah satu di antara sekian banyak game paling digemari para gamer sekarang ini. Salah satunya temanku yang mukanya sekarang masih sekusut ija brok, salah duanya adalah aku sendiri. Tapi apa boleh buat, gawaiku tak cukup modal untuk memenuhi syarat-prasyarat agar aplikasi game itu bisa terinstall sempurna. Terutama besaran RAM gawai yang sungguh sangat bermasalah dengan ukuran aplikasi PUBG.

Maka jelaslah adanya, kenapa tulisan sentimentil ini kutulis dengan penuh keikhlasan hati. Selain karena diabaikan tanpa sepatah kata oleh si teman yang kini malah sudah memulai main lagi. Juga dipengaruhi oleh modal gawai yang tidak mencukupi untuk meng-install aplikasi. Boleh kukata, ini hanya sekadar rutukan pada diri sendiri belaka. Selebihnya berusaha khusyu’-lah aku kini, di hadapan Onet yang dengan mendengar musiknya saja, melambungkan ingatanku pada masa-masa penuh lapar ketika kuliah dulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *