Bersoal Suporter Bola

TAK BISA dipungkiri, sepakbola adalah satu olahraga paling menyedot perhatian umat manusia sejagad. Meski masih simpang siur dari mana jenis permainan ini punya asal, dunia sepakat bahwa sepakbola modern dikembangkan oleh orang-orang Inggris. Dan menjadi satu alat kolonialisme paling diterima oleh pribumi-pribumi di negeri-negeri jajahan di antara pelbagai bentuk kebrutalannya. Ihwal bagaimana sepakbola kemudian menyebar dan berkembang dari Eropa ke tanah-tanah jajahan. Ke Amerika Latin, Afrika dan juga Asia.

Dalam perkembangannya, sepakbola modern tak lagi hanya meliputi sebatas permainan di lapangan saja. Tak hanya sebatas kalah menang. Tapi beriring di dalamnya macam-macam unsur kebudayaan umat manusia; uang, tragedi, kematian, pesta pora, rumah judi, nasib, tenaga kerja asing, air mata, skandal. Atau bahkan juga meliputi derita buruh-buruh pabrik garmen penyedia seragam permainan, yang upahnya hanya seper-sekian dari bayaran keringat pertama seorang bintang sepakbola.

Atas nama unjuk kebolehan turnamen-turnamen sepakbola dihelat. Yang paling monumental di antaranya adalah Piala Dunia, kemudian turun lagi pada  turnamen-turnamen reguler antar negara dalam masing-masing teritorial. Seturut pula liga antar klub dalam sebuah negara, mulai dari yang paling tidak terkenal seperti Liga Seuribee di Teupin Pukat Meurah Dua. Hingga yang paling menyedot publik dunia seperti Liga Champion, Liga Inggris, Serie A Italia, La Liga Spanyol dan lain sebagainya.

Lalu di sinilah kemudian perniagaan menemukan celahnya untuk membikin segala bentuk perhelatan sepakbola menjadi semacam pesta pora. Menjadi satu pusat pasar paling menjanjikan laba. Sampai-sampai produk kripik singkong sekalipun mau mempertaruhkan modalnya hanya untuk tampak sebagai bagian dari produk yang menyokong sepakbola. Tentu dengan harapan; kalau tak bisa dimakan oleh para pemain yang sedang berlaga di lapangan, kenapa tidak kripik mereka dikunyah oleh para penontonnya.

Penonton, suporter, atawa fans adalah penyokong paling utama bagi berlangsungnya sejarah persepakbolaan dunia. Belalak mata jutaan penikmatnya di seantero dunia pada setiap pertandingan, entah itu belalak dari stadion atau di muka layar televisi adalah gemerincing uang yang terkira banyaknya. Dari mana klub-klub di liga besar dunia punya kekayaan untuk membayar upah pemain, pelatih, juga para pegawai-pegawai lain yang agak rahasia untuk diberitakan media massa.

Menjaga keterbelalakan mata para penikmat sepakbola adalah wajib adanya. Tugas yang kemudian dengan baik diemban oleh rupa-rupa media massa dunia. Opini publik digiring sebijak-bijaknya. Apa yang berlangsung dalam satu pertandingan diulas. Dan tidak hanya itu, perseteruan antar klub yang satu dengan yang lainnya diumbar sedemikian rupa. Begitu pun rivalitas antar pemain dibingkai dalam cerita-cerita yang sangat tidak pantas untuk dilewatkan barang sekedipan mata.

Lantas kotak-kotak para suporter pun tercipta, siapa membela siapa. Hingga kemudian kotak-kotak itu mewabah sampai ke sudut kampung Peunaron, tak peduli pusat kotak utamanya adalah sebuah klub yang bersarang di hiruk pikuk kota antah berantah Spanyol atau Inggris atau Italia, Jerman, Prancis, Belanda, dan tidak sekali pun berasal dari kota-kota terdekat. Semisal ada orang-orang yang mau memakai jersey contekan klub Persiraja yang di punggungnya tertera nama-nama seperti A. Gamal, Irwansyah, atau bahkan Abdul Musawir.

Loyalitas suporter sepakbola pada satu ketika (sekarang ini misalnya) telah menjadi satu tolok ukur kesetiaan. Penonton sepakbola yang tak punya tim pujaan bisa dianggap bubee dua jab, meski kefanatikan para fans klub sepakbola dari kejauhan itu sering berupa kefanatikan buta belaka.

Tapi itulah sisi magis sepakbola. Yang membuat fanatisme suporternya kerap membabi buta. Dan apa yang ditulis Eduardo Galleano, penulis besar Uruguay dalam satu esai pendeknya berjudul The Fan, adalah satu gambaran yang menjelaskan dengan baik segala petingkah mereka.

“Sebagaimana halnya penganut pagan, suporter sepakbola berbagi keyakinan yang sama antar sesamanya. Hanya tim kita yang terbaik. Yang bajingan adalah wasit, dan klub lawan hanyalah maling belaka,” tulis Eduardo Galleano.[]

 

Images: gettyimage

Bacaan: deadspin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *