Bersin, Tisu, Cinta yang Buyar Karenanya

MALAM BISU. Yang bersuara adalah kipas angin, nyamuk, jangkrik, cicak sesekali, dahan pohon jambu yang menggesek seng atap rumah ketika di terpa angin, juga suara bersin-bersinmu sejak setengah jam lalu. Tadinya kau menggunakan tisu untuk mengelap ingus dan liur oleh sebab bersin-bersin itu, tapi kini kau beralih pada lengan baju. Kendati terang betul perbedaan mengelap ingus dengan tisu dan lengan baju, terutama terletak pada kelembutannya ketika kena kulit lubang hidung.

Kini kau mengabaikan segala yang beda-beda itu. Mengurusi muncratan bersin-bersin sesegera mungkin lebih penting ketimbang pilah pilih alat lap. Menjinakkan leleran ingus oleh sebab bersin-bersin adalah pekerjaan darurat yang mesti kau kerjakan sesegera mungkin. Dari pada membiarkannya mengalir pelan di alur kecil bawah lubang hidung-atas bibir. Jangankan di depan umum, tengah sendiri saja kau akan merasa malu hati andaikata ingus akibat bersin menyempatkan diri mengalir pelan di alur kecil itu. Kau merasa berubah jadi kanak-kanak yang belum cukup akal saat itu juga jika itu sempat terjadi.

Itu sebabnya dianjurkan oleh banyak orang untuk menangkup telapak tangan pada lubang hidung dan mulut ketika bersin-bersin mulai memberikan aba-aba. Tapi urusan yang begini ini tak langsung membuatmu lepas dari masalah paska bersin-bersin. Terutama sekali jika penanggulangan bersin-bersin yang kau lakukan ini terjadi, berkaca dari pengalaman dulu-dulu, sewaktu kau sedang jalan-jalan malam mingguan dengan pacar. Jalan-jalan pakai sepeda motor. Kau di depan jadi sopir. Pacarmu membonceng di belakang sebagai navigator. Istilah penumpang tak cocok di sini, karena jelas-jelas kau sedang bermalam mingguan, bukannya tengah narik sewa sebagai ojek pangkalan atau ojek online.

Begitulah. Manakala sepeda motormu sedang melaju dengan syahdunya di jalan T. Panglima Nyak Makam. Sementara buah hatimu di belakang mendekap ketat dan terasa benar ada hangat menumpuk di punggungmu. Tiba-tiba saja kau merasa hendak bersin. Dari aba-abanya kau tahu ini jenis bersin yang agak sedikit dahsyat. Cepat-cepat kau katup hidung sekaligus mulut dengan tangan kiri. Lalu. Aaaasyiiiih! Telapak tangan kirimu basah. Semuanya. Tapi tepat di tengah-tengahnya ada sesuatu yang agak kental menempel. Serupa lem. Kau langsung tahu itu adalah material yang keluar dari tenggorokan. Dahak.

Tengah asyik masyhuknya bermalam mingguan dengan pacar. Lalu kau ketiban dahak sendiri di telapak tangan kiri bukanlah perkara yang mengenakkan hati. Kau kelabakan saat itu juga. Kau tidak mujur oleh sebab sang pacar yang kau punya bukanlah jenis pacar yang kemana-mana nenteng bungkus tisu. Pertanyaannya kini, akan kau kemanakan telapak tangan kirimu itu? Tentu kau akan memikirkan cara bagaimana mengenyahkan sisa bersin dari sana. Mengelap di baju atau celana sama halnya mendedah kejorokan sendiri di depan mata kepala buah hati. Pilihan lain adalah pura-pura mengabaikannya lalu tangan kirimu kembali pegang stang sepeda motor.

Malam mingguan bersama pacar lanjut terus. Bersin semi dahsyat yang membuat telapak tangan kirimu basah plus lengket telah berlalu. Pacar masih mengetat di punggungmu seperti semula. Yang ada kini dagu pacarmu telah nyantol di bahu kiri. Yang ada kini stang sepeda motor sebelah kiri kau usap-usap sedemikian rupa. Tampak kau sedang mengasah telapak tangan di lingkar bulatannya. Dari bahumu, buah hatimu mengamati. Dengan seksama. Menyimak petingkahmu. Lantas membatin, “Brengsek betul. Malah si stang motorku dia ngelap ingusnya. Cowok macam apa nih.”

Sekira di depan rumah kopi Romen, masih di jalan T. Panglima Nyak Makam. Kesyahduan jalan-jalan dengan pacar pecah. Sang pacar yang setelah menyaksikan ulahmu paska bersin tadi mulai punya pikiran sendiri. Ia meminta laju motor berhenti di depan rumah kopi itu. Kau manut sebab itu memang bukan motormu. Lantas kau dengar si pacar berkata, “Teman-temanmu biasanya nongkrong di sini kan? Kamu turun di sini saja ya. Aku mesti harus balik ke kostan sekarang. Aku lupa, malam ini ayah datang dari kampung. Takutnya dia sudah di kost aku belum pulang juga.”

Pacarmu kini mengampil alih sepeda motor yang memang miliknya. Usai mengutarakan alasannya, pacarmu pun melaju. Alasannya yang kedatangan ayahnya dari kampung, agak mendadak, tidak bisa ditolak sama sekali. Meski kau sudah berusaha meyakinkannya untuk melanjutkan jalan-jalan malam mingguan barang setengah jam lagi. Setidaknya bisa mengantarmu sampai di kostan. Tapi apa boleh buat. Kau malah mendapati termangu seorang diri di pinggir jalan depan rumah kopi Romen.

Sementara kau terbengong-bengong di situ. Pacarmu sudah sampai di depan satu kios seputaran Lamteh. Berhenti. Dia beli satu botol air mineral. Bukannya meminum, ia malah menggunakan air di dalamnya untuk mencuci stang kiri motornya sekaligus dua tangannya pula. Sampai tumpas semua isi air di dalam botolnya. Sampai-sampai si abang pemilik kios yang melihat kejadian itu menanyakan, kenapa air minum dibuang begitu saja? Pacarmu menjawab, “Pane na droeneuh bang. Kujak malam mingguan ngon cowok sat nyoe. Sikhan rot ijih ka beursyen-beursyen meunan. Watee beursyen pih ie idong jih di lhap bak stang honda. Ata honda nyoe cit honda droe kuh lon. Boh pane na. Kutinggai aju inan jih.”

Pacarmu, selain tak suka nenteng tisu juga tipikal pacar yang jujur. Ia ceritakan perihal kenapa ia menguras isi botol air mineral untuk stang motornya pada si abang kios. Si abang kios terbahak-bahak mendengar ceritanya. Lantas dia kata pada pacarmu, “Ooo. Itu jelas kalau tipikal cowokmu egois. Dia lebih mentingin dirinya sendiri dari pada pacarnya. Kalau aku jadi ceweknya sudah kuputusin saja cowok semodel itu.”

“Putusin, bang?”

“Lho. Hari gini masih pacaran sama cowok ingusan?” Tanya abang kios balik.

Pacarmu tersenyum mendengar jawaban si abang kios. Wajahnya merona. Seperti baru diterpa cercah cahaya. Esoknya tragedi itu pun terjadi. Pemutusan hubungan pacar memacari diadakan sepihak belaka. Tidak melalui jumpa tatap muka. Melainkan sederet maklumat yang dikirim via pesan singkat ke kotak pesan telpon selularmu. Isinya? Ini. “Kita putus ya. Kamu terlalu baik buatku. Bye!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *